Rabu, 19 Januari 2011

Tragedi Lampung, 1989


Niat mulia untuk membangun perkampungan Islami tidak terlaksana, malah pembantaian keji yang terjadi. Itulah gambaran peristiwa lampung, 4 Februari 1989.

Awalnya, di Dukuh Cihideung Lampung berdatangan para pemukim baru yang sebagian besar berasal dari jamaah-jamaah pengajian di Jakarta. Tujuan mereka adalah untuk membangun sebuah perkampungan yang Islami dan jauh dari kemaksiatan. Ada diantara mereka yang sampai menjual toko kacamata, sumber penghasilan satu-satunya, untuk hijrah ke Lampung. Namun kedatangan keluarga-keluarga muda yang penuh ghirah keislaman ini rupanya mengundang desas-desus. Bagi para penghuni asli, yang sebagian besar di KTP nya juga tercantum beragama Islam, kehadiran orang-orang baru yang semua wanitanya berjilbab adalah sesuatu yang asing. Maklum, adat dan tradisi lebih mendarah daging dalam diri mereka dibanding ajaran Islam. Apalagi tak jauh dari dukuh itu terletak Desa Pancasila, tempat binaan orang-orang PKI. Entah atas dasar apa, kepala desa mengirim surat pengaduan kepada Camat, yang disusul dengan adanya surat panggilan untuk Warsidi, pimpinan jamaah Cihideung.

Upaya persuasif pun dilakukan. Malah Camat serta Danramil sudah sempat berkunjung ke Cihideung. Namun situasi semakin memanas, sehingga memaksa Warsidi menugaskan jamaahnya untuk membuat panah dari bambu, sebagai persiapan untuk membela diri jika terjadi sesuatu. Sayang, tindakan ini diartikan lain oleh aparat keamanan. Warsidi dan jamaahnya dianggap memberontak. Maka, pada tanggal 4 September 1989 terjadilah penyerbuan oleh tentara dengan sangat keji. Mereka datang bukan untuk membubarkan atau menangkap, namun untuk membantai semua anggota perkampungan baru itu. Tidak hanya kaum pria, tetapi juga wanita dan anak-anak.

Saat tentara menyerbu, wanita dan anak-anak masuk ke dalam masjid yang dianggap sebagai tempat paling aman. Namun tentara mengepung dan memerintahkan semua yang berada di masjid agar keluar. Karena ketakutan perintah itu tidak digubris. Akhirnya, tanpa belas kasihan tentara menembaki masjid dan membakarnya. Sebanyak 94 anak, serta puluhan ibu muda berjilbab syahid terpanggang api di dalam rumah Allah. Belum lagi yang syahid dari kaum pria, membuat korban tewas mencapai ratusan. Semoga Allah akan mencatat para korban sebagai syuhada, dan memberi tempat yang paling indah bagi mereka di dalam jannah. Amin. Tragedi ini sekaligus menjadi pelajaran bagi kita yang masih hidup, bahwa membangun perkampungan Islami tidaklah cukup dengan semangat. Tetapi juga harus dengan persiapan matang dan tidak menciptakan jarak dengan lingkungannya. Islam adalah rahmatan lil'alamin.

Diringkas dan diedit ulang dari Majalah Sabili dan Tabloid Hikmah
Ref:http://www.ummah.com/islam/nusantara/realita/lampung.html

0 comments: