Kamis, 20 Januari 2011

BiOgrafi Andy Achmad Sampurna Jaya


BIOGRAFI
Andy Achmad Sampurna Jaya
Tokoh Pemersatu dari Tanah Melayu

Lebih akrab dengan panggilan Kanjeng, Andy Achmad Sampurna Jaya, selama menjabat Bupati Lampung Tengah (2001-2005), berhasil mempersatukan warganya yang berlatar belakang multi etnis, golongan dan agama. Amat beralasan bilamana Kanjeng mendapat julukan Tokoh Pemersatu dari Tanah Melayu. Kanjeng berikrar untuk sepenuhnya memusatkan diri bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Lampung Tengah.

Dia seorang pemimpin multidiomensional. Dalam kesahajaannya sangat memegang komitmen. Karena itu, bagi orang awam, terasa janggal apabila Kanjeng menolak tawaran untuk bertarung pada pemilihan Gubernur Lampung.

Lampung Tengah, yang sekarang berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa, praktis selama lima tahun telah mengejar ketertinggalan. Dalam nada datar, ia mengatakan bahwa apa yang telah dilakukannya baru sebagian kecil dari keinginannya mewujudkan masyarakat madani. “Ukuran keberhasilan pembangunan pada hakikatnya ialah mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, tidak mungkin mencapai kesejahteraan tanpa dibarengi pertumbuhan ekonomi.

Dan yang layak menilai tingkat keberhasilan tentu masyarakat itu sendiri. Tapi, yang jelas Lampung Tengah sudah melakukan perubahaan sejak empat tahun lalu. Dan itu berlangsung dengan dana yang sangat ketat,” katanya menegaskan.

Latar belakang sosial, demografis dan kultur yang ada pada kondisi Lampung Tengah, sangat berpengaruh terhadap perilaku dan karakter para warganya, baik secara individual maupun kolektif. Dalam kondisi seperti itu, Lampung Tengah sangat rentan terjadinya konflik horizontal apabila pemerintah daerah salah menerapkan kebijakan.

Karena itu, Andy terus membangun toleransi dan saling menghargai di dalam setiap perbedaan, termasuk perbedaan keimanan. Ini sebuah kekuatan besar yang memberikan kontribusi pada kelangsungan pembangunan daerah, negara ataupun bangsa. Andy, lewat dialog dan pendekatan sosial dengan berbagai tokoh agama, adat dan pemuda, berusaha menjalin lebih erat komunikasi lintas agama, suku maupun golongan.

Lampung Tengah dihuni oleh masyarakat dari berbagai agama; Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Juga berbagai suku; Melayu (Lampung), Jawa, Banten, Bugis, Batak, Padang, Bali, Lombok, Timor dan Tionghoa. Karenanya interaksi antar suku telah melahirkan basis sosial baru. Proses pembauran masyarakat Jawa dan Lampung berlangsung amat cepat, dalam kepemimpinannya, menyadari bahwa keragaman suku yang bermukim di daerahnya, merupakan potensi khas. Tak berlebihan selama kepemimpinannya, percikan kecil yang pernah terjadi di masyarakat, segera terminimalisir secara signifikan. Menciptakan suasana baru, tenang dan eratnya pertalian sesama warga kini sangat terasa.

“Bagi kami di Lampung sekarang ini, tidak ada lagi sebutan orang Jawa, Orang Bali, Tionghoa dlsb yang berkonotasi mengkontak-kotakkan dan membuat sekat, bahwa yang sebenarnya adalah orang Lampung yang berasal dari Jawa dan orang Lampung yang berasal dari Bali serta orang Lampung yang berasal dari Banten dlsb, semua itu merupakan ikatan bagi kita, bahwa kita semua adalah orang Lampung yang bersama-sama merawat daerah yang kita ditinggali ini.” Kata Subarkah, salah seorang pedagang kelontong di pasar Bandarjaya.

“Budaya Lampung yang heterogen merupakan sebuah kekuatan yang besar. Dalam membina semangat kebersamaan dan setiakawan sosial memberi peluang bagi tumbuhnya kemandirian bangsa untuk memperkokoh ketahanan nasional,” katanya.
Hal ini pulalah yang terjadi pada masyarakat Bali yang menganugerahi gelar kepada tokoh yang dianggap layak.

Dikenal di kalangan masyarakat Bali, pemberian gelar merupakan ‘seleksi ketat’ bagi seseorang yang berasal dari kasta tinggi.

Setelah dicapai kesepakatan, maka proses selanjutnya adalah pemberian gelar dalam suatu upacara kebesaran yang melibatkan masyarakat adat secara keseluruhan, sebagai implementasi dari rasa syukur dengan memberi penghormatan kepada tokoh yang menunjukkan kreativitas budaya tinggi dalam menjaga eksisnya seni budaya daerah. Untuk itu semua, masyarakat Hindu Bali di Lampung Tengah memberinya gelar, Anak Agung Dharma Wisesa.

Pria berdarah Melayu ini lahir tanggal 2 September 1949 di Penengahan, Tanjung Karang, Lampung Selatan. Ayah Achmad, Hi. Ibrahim Sepulau Raya bergelar Suttan Pengiran Ratu Sangun (Alm), sedang ibunya, Fatimah, berdarah seni keturunan Pesirah Bumi Tinggi. Kakeknya dari garis ayah, Achmad Bermawi bergelar Suttan Sampurna Jaya pernah menjabat Regent van Lampung atau Ketua Dewan Warga yang dipilih oleh para Kepala Kampung. Achmad dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang cukup berpengaruh yang patuh menjalankan perintah Agama.

Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan dengan belajar mengaji di Surau tak jauh dari rumahnya. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, ia mendapat tempaan keras dari sang ayah yang selalu menekankan pentingnya menguasai ilmu pengetahuan dan menjaga kebersihan hati.

Achmad selalu mengenang dan berpegang pada pesan ayahnya, ia lebih senang menyebutnya Buyah, yang mengantarnya sampai mencapai titik keberhasilan saat ini. Ayahnya seorang yang berperangai keras, pendiam dan penuh disiplin. Dalam hal mendidik anaknya, sebagai pemimpin masyarakat adat, dalam kesehariannya Ibrahim tidak banyak bicara, tetapi lebih sering memberikan contoh nyata.

Hari-hari di tahun pertama menjabat, Andy dikepung jadual kerja yang sangat padat. Dari Senin sampai Kamis, Andy menyediakan waktunya untuk melayani masyarakat. Dari Jumat (selain shalat) sampai Minggu memburu investor. Baginya “revolusi” dimulai pada hari Jumat. Praktis ia tidak masuk kantor pada hari Jumat. Pada pengujung hari kerja, ia sibuk berkunjung dari hotel ke hotel, menghadiri seminar, membuka pameran, menemui pejabat tinggi, dan beragam kesibukan lain yang berkaitan dengan investasi.

Tidak aneh bila ia selalu tampak dalam acara-acara nasional yang berkaitan dengan investasi. Untuk kepentingan memancing investor, ia pun terkadang bepergian ke luar negeri.

Kebiasaannya yang tidak masuk hari Jumat dan sering ke luar negeri, pada awalnya mendapat reaksi keras beberapa pihak, khususnya DPRD. Ada yang menganggap pemborosan, yang lain menilai Andy tidak menunjukkan sikap dekat dengan rakyat.

Anggapan itu tidak mengganggunya untuk tetap bekerja keras, Baginya, sebagai bupati pada kabupaten yang baru, harus jemput bola ke mana saja. Yang penting bisa bermanfaat bagi pembangunan masyarakat dan daerah. Lama kelamaan, setelah Andy membuktikan kehadiran para investor di daerahnya, pihak-pihak yang bereaksi negatif mulai mengerti. Bahkan mengacungi jempol. Memburu investasi sampai-sampai ia tidak sempat berkumpul dengan keluarga.

la digerakkan obsesi besar, memacu dunia usaha, sesuatu yang terkadang sulit dipahami orang awam. “Kita hidup di era otonomi daerah, yang sebelumnya didera krisis. Perekonomian kita stagnan untuk tidak mengatakan mati suri. Kita tidak punya uang untuk memaksimalkan pembangunan sebagaimana yang menjadi tuntutan rakyat Dalam kondisi seperti ini, untuk menggerakkan kembali perekonomian, kehadiran investor sangat menentukan,” kata Andy.

Selain pola jemput bola, yaitu melakukan lobi langsung dengan pengusaha domestik dan mancanegara, Andy juga membuat kebijakan investasi yang mendukung, lewat kemudahan perizinan.

Jabatan bupati bagi Andy sangat dinamis dan menantang. Perjalanannya ke luar negeri, memberinya pelajaran dan inspirasi di dalam mengambil kebijakan pembangunan.
Bagi Andy memimpin itu banyak dinamikanya. Tapi semua kebijakan pembangunan harus ditujukan bagi kepentingan masyarakat. Inilah cara untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, terutama mereka yang tidak beruntung.

Di dalam mengembangkan perekonomian daerah, Andy selalu memperhatikan kebersamaan di antara para pedagang. Misalnya, di pasar Bandarjaya terkonsentrasi sekitar 3500 pedagang dengan berbagai latar belakang sosial budaya. Mereka tumbuh dalam satu komunitas. Ketika menata pasar yang dibangun dengan investasi sebesar Rp 110 miliar, ia pun menggunakan pendekatan kultural, sehingga segala bentuk benturan dapat segera dihindari dan diantisipasi.

Bandarjaya merupakan kota perdagangan yang menjanjikan bagi masyarakat Lampung Tengah dan pelaku usaha pada masa depan. Di kota ini terdapat pasar yang strategis dan memiliki banyak potensi yang mendukung percepatan pembangunan ekonomi.
Andy bertekad untuk menata ulang pembangunan ekonomi Lampung Tengah dengan membangun infrastruktur dan supra-struktur pendukung, seperti pembangunan Pasar Bandarjaya.

Setelah dipercaya memimpin, dengan mantap ia langsung mengusulkan pembangunan Pasar Bandarjaya kepada masyarakat. Sebelum pembangunan fisik gedung pasar dimulai, terlebih dahulu ia banyak bertukar pendapat dengan tokoh masyarakat, para sesepuh adat, pemuda dan terutama masyarakat pedagang itu sendiri. Pendapat mereka ia tampung dan dijadikan pijakan dasar dalam pembuatan master plan.

Tanpa melalui proses yang panjang, masyarakat mendukungnya. Kemudian ia memasukkan rencana pembangunan Pasar Bandarjaya sebagai bagian dari grand strategy pembangunan Lampung Tengah.

Untuk mendukung sistem transportasi internal kawasan dan aksesibilitas, direncanakan penyediaan sub terminal. Ia mengusulkan untuk memilih model BOT (build operation and transfer), misalnya, dalam waktu 30 tahun. Untuk angkutan pedesaan dan kota, ia mengusulkan sistem yang terintegrasi dengan pola operation leasing. Tentunya, konsep rencana pembangunan ini mengacu pada dua fungsi utama Bandarjaya, yaitu sebagai pusat perdagangan dan distribusi, dan transportasi.

Bersamaan dengan program awal pembangunan pasar Bandarjaya, Andy sudah menyiapkan jalan lingkar alternatif. Dari situ bisa dikembangkan sebagai rest road area atau semacam stop over, yang rencananya terletak di lintas barat kota. Di sana juga akan disiapkan infrastruktur dan fasilitas pendukung, seperti perkampungan budaya, pasar kesenian dan kerajinan serta sumber lainnya yang terkait dengan tourist development (pengembangan pariwisata). ►e-ti/bambang wr

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia

C © updated 26072004




► e-ti/bwr
Nama:
Hi. Andy Achmad Sampurna Jaya
Lahir:
Tanjungkarang, 2 September 1949
Agama:
Islam
Isteri:
Sriyanti (Lahir di Jakarta, 25 Januari 1955, Direksi CV. Citra Jaya Raya)
Anak:
1. Andika Wibawa S. Raya Jaya (Tanjung Karang, 8Juni 1976)
2. Anna Tiasi S. Raya (Tanjung Karang, 2 November 1978)
3. Amma Marlina S. Raya (Tanjung Karang, 17 Januari 1982)
4. Puncak Arif Yahya S. Raya (Tanjung Karang, 16 April 1983)

Pendidikan:
• Sekolah Rakyat (SR), lulus tahun 1963
• SMP, lulus tahun 1966
• SMA, lulus tahun 1969
• SI, lulus tahun 1990
• S2, lulus tahun 1998

Riwayat Pekerjaan:
• Dilantik menjadi Bupati tanggal 11 November 2000
• Ketua Kadinda Tk I Lampung
• Ketua Dewan Pertimbangan Pusat/Daerah GAPENSI Tk. I Lampung
• Ketua Dewan Pembina Daerah HIPPI Lampung
• Direktur PT Puranti Sedaya, Lampung
• Ketua Umum PAMPILA (Persatuan Artis Musisi dan Penyanyi Lampung)
• Ketua Sanggar Puranti Sedaya, Lampung
• Ketua Dewan Pembina Kesenian Lampung
• Mantan Management Entertainment Sahid Hotel Lampung
• Mantan Ketua Perhimpunan Obyek Wisata (PUTRI)
• Mantan Ketua IPSI Bandar Lampung
• Wakil Ketua Umum IPSI Tk II Lampung Th. 1992-1997
• Mantan Ketua Entertainment Krakatau Steel Cilegon
• Ketua DPD Pejuang Siliwangi Provinsi Lampung
• Ketua Persatuan Artis Sinetron Lampung (PARSI)
• Wk. Ketua Umum KONI Provinsi Lampung
• Pimpinan Selebriti Club Jakarta
• Pendiri Yayasan Artis Peduli Bangsa (YAPB) pimp. Ebet Kadarusman
• Anggota MPR RI periode 1999-2004

Penghargaan:
• Juara I, Pop Singer Provinsi Lampung tahun 1970
• Juara I, Lagu-lagu Daerah se-Sumbagsel, 1974
• Juara I, Melayu Deli se-Sumatera di Palembang, 1990
• Juara I, Lomba Cipta Lagu Pop Daerah Lampung, 1994
• Pemenang Tenis Hiburan Pria, 1982
• Tanda Penghargaan Wali Kota III P 301 Bandar Lampung, 1983
• Piagam Penghargaan Gubenur Kepala Daerah TK I Lampung, 1983
• Tanda Penghargaan Wali Kota penerima Parasamya Purnakarya Nugraha,1984
• Tanda Penghargaan Masyarakat Sumbagsel Festival Lagu dan Tari,1984
• Tanda Penghargaan Korem 043 Gatam HUT 14 Gatam tahun 1990
• Tanda Penghargaan Juara I Bintang Radio lagu Melayu se-Sumatera tahun 1990
• Tanda Penghargaan Korem 043 Gatam HUT Gatam tahun 1991
• Tanda Penghargaan KAMMI tahun 1992
• Tanda Penghargaan APMI Pria Berbusana Terbaik Indonesia tahun 1992
• Tanda Penghargaan Festival Lagu Melayuu Deli Dewan Juri, 1997
• Tanda Penghargaan Pengabdian Bangsa Indonesia yang berprestasi tahun 1997
• Tanda Penghargaan Nuansa Karya Pembangunan Indonesia dan Prirna Karya Wisata Award tahun 1997
• Tanda Penghargaan YKPK & KL Generasi Pelopor Pembangunan Bangsa 1997
• Tanda Penghargaan Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya RI dalam Prestasi Pengembangan dan Pelestarian Seni Budaya Lampung, 1999
• Tanda penghargaan Lencana Karya Satya Utama II sebagai • Pembina Karang Taruna terbaik se-Indonesia 2002
• Tanda Penghargaan Satya Lencana Manggala Karya Kencana 2005.

Alamat:
Kampung I Rt. 02 Rw 02 Terbanggi Besar, Lampung Tengah

0 comments: