Kamis, 20 Januari 2011

Biografi Kuntoro Mangkusubroto


Kuntoro Mangkusubroto
Kepala BP-BRR Aceh-Nias

Mantan Menteri Pertambangan (1998-1999) ini ditetapkan sebagai Kepala BP-BRR Aceh Nias (Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara), jabatan setingkat menteri, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63/M Tahun 2005, yang ditandatangani pada hari Jumat, 29 April 2005 dan dilantik Presiden Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Sabtu 30 April 2005.
.
Sebagai Ketua Badan Pelaksana, pria kelahiran Purwokerto, 14 Maret 1947 yang masih menjabat Ketua ITB School of Business, ini akan tinggal dan berkantor di Banda Aceh. Sementara di Jakarta akan dibuka kantor perwakilan BRR Aceh-Nias di Nias.

Pengurus BRR Aceh-Nias berada langsung di bawah Presiden dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Masa tugas BRR Aceh-Nias selama empat tahun dan dapat diperpanjang lagi apabila diperlukan.

Sesuai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- undang No 2/2005 tentang BRR Aceh-Nias, Badan Pelaksana, antara lain, bertugas merumuskan strategi dan kebijakan operasional, menyiapkan rencana dan anggaran, menyusun rencana rinci sesuai dengan rencana induk, dan melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh-Nias.

Langkah Pertama
Seusai dilantik, Kuntoro mengatakan, langkah pertama yang akan dilakukannya sebagai Kepala Badan Pelaksana BRR Aceh-Nias adalah mendengarkan aspirasi dan harapan masyarakat. Langkah itu diambil sebagai prioritas untuk memastikan apakah semua aspirasi sudah tertampung dalam rencana induk.

Menurutnya, hal Ini penting sekali untuk memastikan partisipasi optimal masyarakat dengan kekayaan nilai budayanya.


Siapa Kuntoro?
Pria kelahiran Purwokerto, 14 Maret 1947 ini dibesarkan dalam keluarga terpelajar. Ayahnya pengacara dan ibunya dosen bahasa Inggris di Universitas Sudirman, Purwokerto. Dia menjalani pendidikan SD hingga SMA di kota kelahirannya. Lalu masuk jurusan Tehnik Industri ITB dan lulus 1972.

Setelah lulus, dia langsung diangkat menjadi dosen di almamaternya. Sebagai dosen, dia pun memperdalam ilmunya di bidang industrial engineering di Stanford University (1976). Lalu mendalami bidang civil engineering di universitas yang sama (1977). Kemudian meraih gelar doktor dari ITB (1982) dengan disertasi tentang analisa keputusan.

Tak lama kemudian (1983) Kuntoro ditarik ke kantor Sekretaris Negara menjadi staf ahli menteri muda UP3DN Ginanjar Kartasasmita dan Pembantu Asisten Administrasi Menteri Sekretaris Negara RI Safaruddin Husada (1984). Lima tahun kemudian (1988) dia diangkat menjabat Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tanjung Enim, Palembang.

Setelah itu, diangkat menjadi Direktur Utama PT Tambang Timah (TT), pada Desember 1989 sampai 1994. Dalam kepemimpinannya di Tambang Timah, di mencatat prestasi untuk pertama kalinya (1991) PT Tambang Timah tidak merugi. Kuntoro berhasil memperbaiki kinerja BUMN ini dari kondisi yang sangat memprihatinkan sebelumnya.

Tingkat efisiensi BUMN yang ketika itu menampung 24 ribu karyawan sangat rendah. Sehingga ketika harga timah di pasar dunia pada 1989 merosot tajam, TT nyaris karam. Bayangkan, total utangnya mencapai 25% dari aset perusahaan yang senilai Rp 500 miliar. Namun di bawah kendalinya, TT terselamatkan, hanya dalam tempo satu tahun.

Kuntoro melakukan kebijakan restrukturisasi besar-besaran meliputi empat aspek, yakni reorganisasi, relokasi kantor pusat dari Jakarta ke Pangkal Pinang, pelepasan aset dan rekonstruksi. Dalam rangka reorganisasi, Kuntoro juga melakukan rasionalisasi. Separoh karyawan "pensiun dipercepat", tanpa menimbulkan gejolak, dari 24 ribu tinggal 12 ribu yang dipertahankan.

Keberhasilannya memimpin Tambang Timah, kemudian mengantarkannya dipercaya menjabat Dirjen Pertambangan Umum Deptamben (1993). Pemikiran-pemikirannya kemudian mewarnai kebijakan dan strategi pemerintah dalam pengembangan industri pertambangan di Indonesia.

Namun tanpa diduga, tahun 1996, dia dipecat dari jabatan itu karena kasus penambangan emas Busang, Kalimantan Timur. Saat itu, banyak orang, termasuk dirinya sendiri, memperkirakan karirnya sudah tamat. "I was finished," katanya kal itu. "Saya setuju kata 'dipecat'. Dan lebih dalam lagi, seakan kasus ini merupakan part of the mistake ada pada saya. Ini resiko dari sesuatu yang saya pegang dan percayai," katanya seperti dikutip Kompas (18/3/98).

Sikapnya yang jentel dan selalu berpikir positif serta bersikap optimis, membuat jalan karirnya tidak tamat. Bahkan terjadi kejutan dalam perjalanan karirnya. Bukan hanya dia yang merasa terkejut, tapi banyak orang terkejut, ketika Presiden Soeharto memintanya menjabat Menteri Pertambangan dan Energi, tahun 1998.

"Saya tidak menyangka sama sekali akan mendapat kepercayaan sebesar itu. Saya juga tidak pernah bermimpi," kata Kuntoro terharu ketika itu.

Mengapa Kuntoro begitu kaget? Karena orang yang menelpon dan memintanya menjadi menteri adalah Pak Harto sendiri. Kala itu, sking tak percaya, Kuntoro malah bertanya: "Bapak ini siapa? Kok tahu nomor telepon saya". Penelpon menjawab lembut berwibawa: "Apakah tidak kenal suara saya ya?" Oh suara Pak Harto, ia tersadar.

Kuntoro dan isteri Tuti Hermiatin bersama kelima anaknya menyukuri kejutan karir yang semula dikira sudah berhenti ternyata malah melejit itu. Apalagi hari itu, 14 Maret 1998, dia genap berusia 51 tahun. Jabatan menteri itu, tak salah, jika disebut sebagai hadiah ulang tahunnya.

Ketika Pak Harto lengser digantikan Presiden BJ Habibie, Kuntoro dipertahankan menjabat Menteri Pertambangan itu. Namun dalam pemeritnahan Preiden Abdurrahman Wahid, pencinta olah raga mendaki gunung itu melepas jabatan itu digantikan Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, terjadi lagi suatu 'keanehan' dalam perjalanan karirinya. Disebut 'keanehan' karena dia malah 'turun pangkat' diangkat menjadi Direktur Utama PLN, 12 Januari 2000, menggantikan Adhi Satriya yang mengundurkan diri Desember 1999.

Tapi, Kuntoro tidak merasa turun jabatan. "Orang seperti saya tidak pernah punya pangkat. Dari dulu juga nggak kenal pangkat," ujarnya seusai pelantikan. ia malah merasakannya sebagai suatu kehormatan penting diberi tugas, tanggungjawab, kehormatan dan kepercayaan untuk memimpin PLN.

Presiden pasti mempunyai pertimbangan khusus dalam pengangkatan itu. Memang, Kuntoro diharapkan dapat menyelesaikan masalah PLN yang tersangkut isu KKN berkaitan dengan tarif listrik swasta dari penyedia jasa listrik Paiton I. "Para menteri Ekuin sepakat menunjuk Pak Kuntoro selain untuk membenah intern PLN juga dengan tugas khusus menyelesaikan masalah listrik swasta," kata Menteri Pertambangan dan Energi Susilo Bambang Yudhoyono, kala itu.

Setelah dia digantikan Eddie Widiono Suwondho, Maret 2001, Kuntoro mengabdikan diri sebagai Ketua ITB School of Business. Namun, tiba-tiba Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya menjabat jabatan setingkat menteri sebagai Kepala BP-BRR Aceh Nias (Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara), melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63/M Tahun 2005, yang ditandatangani pada hari Jumat, 29 April 2005 dan dilantik Presiden Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Sabtu 30 April 2005. ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

C © updated 02052005




► e-ti/rpr
Nama:
Dr Ir Kuntoro Mangkusubroto
Lahir:
Purwokerto, 14 Maret 1947
Agama:
Islam
Isteri:
Tuti Hermiatin
Anak:
Lima orang

Pendidikan:
= S1Teknik Industri ITB (1972)
= Stanford University, Industrial Engineer (1976)
= S2 Stanford University, Civil Engineer (1977)
= S3 ITB, Ilmu Teknik bidang Ilmu Keputusan (1982)

Karir :
= Dosen Jurusan Teknik Industri, ITB (1972-sekarang)
= Staf Ahli Menteri Muda UP3DN (1983-1988)
= Pembantu Asisten Administrasi Menteri Sekretaris Negara RI Safaruddin Husada (1984)
= Dirut PT Tambang Batubara Bukit Asam (1988-1989)
= Direktur PT Tambang Timah (1989-1994)
= Direktur Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi (1993-1997)
= Deputi Bidang Perencanaan, Badan Kordinasi Penanaman Modal (1997-1998)
= Menteri Pertambangan Kabinet Pembangunan VII (1988)
= Menteri Pertambangan Kabinet Pembangunan Reformasi (1998-1999)
= Direktur Utama PLN (2000)
= Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara (2005)

Kegiatan Lain:
= Sekjen IA ITB periode 1987 - 1992
= Ketua ITB School of Business

Alamat Rumah:
Jalan Kesemek Blok S No. 1 Kalibata Indah,
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telepon 021-7972248

0 comments: