Kamis, 20 Januari 2011

Tamu

Tamu
>
> Tina bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Hari ini dia
> bertemu tamu yang cerewetnya bukan main. Sebenarnya bukan tamunya.
> Tina kebetulan sering melihatnya ketika melewati ruang tamu di
> kantor. Beliau seorang ibu berusia sekitar enam puluh tahun. Ibu ini
> memang sudah beberapa kali datang ke kantor. Beliau adalah ibu dari
> pemasok seragam kantor. Sebenarnya Ibu ini tidak memiliki kepentingan
> khusus , tapi beliau sering mampir, ikut anaknya yang sedang mengirim
> barang atau mengambil uang pembayaran.
> Biasanya, ibu itu duduk saja sambil senyum-senyum, kadang-kadang
> membaca majalah yang tersedia di meja. Tina sangat mengenali ibu ini,
> karena penampilannnya sangat aduhai. Busananya selalu sangat rapi,
> mungkin karena di rumahnya banyak penjahit. Rambutnya disasak tinggi,
> lipstiknya merah dengan tata rias wajah yang lengkap. Beliau selalu
> mengenakan sepatu dan membawa tas kecil. Benar-benar anggun.
>
> Biasanya Tina tidak pernah iseng mengajak tamu berbicara. Tapi hari
> ini, dia tidak tahan untuk bertanya. Saking seringnya melihat ibu
> ini, maka Tina ingin menyapanya untuk menghormati tamunya. Kan,
> menurut ilmu customer satisfaction, dia seharusnya menyapa semua
> tamu? Maka Tina menyapa tamunya dengan ramah: "Selamat pagi, Bu. Saya
> perhatikan Ibu selalu datang pagi-pagi sekali."
>
> Ibu itu tersenyum, lalu menjawab: "O, memang saya senang bangun pagi.
> Sejak saya kecil, saya selalu bangun pagi. Saya bangun jam empat pagi
> setiap hari. Sudah puluhan tahun lho. Mungkin karena sudah biasa ya?
> Kalau saya bangun kesiangan saya pasti pusing deh. Bangun pagi juga
> membuat saya merasa lebih siap untuk bekerja. Makanya saya pagi-pagi
> sudah ikut anak saya keliling. Soalnya saya tidak betah kalau harus
> diam saja di rumah. Saya suka bekerja. Tidak biasa menganggur. Dan
> juga...bla...bla..bla...
>
> Ternyata sepotong pertanyaan yang diajukan oleh Tina disambut oleh
> ibu itu dengan serangkaian cerita panjang yang tidak habis-habisnya.
> Tina sempat kaget. Tina mau saja mendengarkan, tapi dia sedang
> bekerja. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tina
> bingung. Ibu ini tidak berhenti bercerita. Dari soal bangun pagi lalu
> kebiasaan sarapan di pagi hari yang menyehatkan, lalu hobi jogging
> yang dilakukan ibu ini selama bertahun-tahun tanpa pernah berhenti,
> hingga sejumlah kebiasaan yang diterapkannya kepada seluruh anggota
> keluarganya soal betapa pentingnya kesehatan bagi semua orang. Aduh,
> pokoknya panjang sekali.
>
> Tina ingin memutuskan ceritanya, tapi gagal terus. Tidak tega juga
> sih memotong pembicaraan ibu itu yang begitu bersemangat bercerita.
> Tapi Tina juga tidak bisa menemani ibu itu terus menerus. Tadi
> tujuannya hanya untuk menyapa, berbasa-basi sedikit, sekadar
> menanyakan sesuatu lalu dia mau masuk ke dalam untuk melanjutkan
> pekerjaannya. Tapi kini Tina tertahan di ruang tamu. Dalam hati, dia
> menyesal juga sih. Mengapa tadi menegur ibu itu? Coba kalau tadi dia
> diam saja, pasti tidak akan begini jadinya. Tapi kemudian dalam hati
> dia merasa bersalah. Kok dia sampai berpikir demikian? Masa menyapa
> seseorang disesali? Tapi, harus bagaimana dong?
>
> Tina ingat, beberapa bulan yang lalu hal seperti ini pernah dibahas
> dalam pelatihan yang diadakan di perusahaannya. Ada kok cara
> menghadapi berbagai pelanggan. Bagaimana menghadapi pelanggan yang
> suka bicara terus, yang diam, yang marah-marah, yang sulit, arogan,
> dan sebagainya. Tina berusaha mengingat-ingat, apa yang harus
> dilakukan dalam menghadapi situasi seperti ini. Tapi, dia tidak mampu
> mengingat apapun. Lupa semua. Harus bagaimana ya?
>
> Waduh, kalau sudah begini, baru dia menyesal mengapa dulu waktu
> mengikuti pelatihan, dia kurang perhatian. Dulu rasanya sudah tahu
> kok. Buat apa mendengarkan lagi. Dia kan sudah pengalaman? Masa
> begitu saja tidak bisa? Bahkan, dulu dia pernah nyeletuk
> bercanda: "Kalau bertemu pelanggan yang cerewet, tinggal pergi saja!"
> Jawaban itu pernah membuat seluruh kelas tertawa. Dulu Tina bangga
> dengan jawabannya sendiri. Kini, Tina malu sendiri. Ternyata kini dia
> tidak mampu mencari solusi untuk kejadian sebenarnya yang sedang
> dialaminya.
>
> Sambil tetap tersenyum, Tina terpaksa mendengarkan Ibu itu berbicara
> terus. Untuk menjaga citra perusahaan, Tina tidak berani menampakkan
> ekspresi bosan atau kesal. Dia tetap berusaha tersenyum. Untunglah,
> sesaat kemudian, anak Ibu itu keluar dari ruang dalam. Urusannya
> sudah selesai. Melihat anaknya sudah selesai, ibu itu segera
> menghentikan ceritanya yang sedang seru-serunya. "Eh, saya pulang
> dulu ya. Nanti lain kali kalau kesini, saya sambung lagi cerita
> saya."
>
> Tina bersyukur. Untung, akhirnya dia lepas dari penderitaan. Sambil
> menghela napas karena merasa lega, Tina masuk dan meneruskan
> pekerjaannya. Hanya saja, ada satu hal yang terus dia pikirkan. Kini
> dia sadar, betapa perlunya belajar terus. Masih banyak hal yang harus
> dipelajari, yang harus dikuasai. Tahu apa yang harus dilakukan, tidak
> sama dengan mampu melakukannya sendiri. Dia kini ingin lebih banyak
> belajar. Tidak mau sombong lagi. Learn! And learn! You will always
> improve!
>
> Sumber: Potensi Diri - Tamu oleh Lisa Nuryanti, Director Expands
> Consulting & Training Specialist

0 comments: