Kamis, 20 Januari 2011

Biografi Marsdya TNI Herman Prayitno, S.IP, MM.


Marsdya TNI Herman Prayitno, S.IP, MM.
Kepala Staf TNI AU

Jakarta 13/02/06: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Marsdya TNI Herman Prayitno menjadi Kepala Staf TNI AU (Kasau) menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/2/2006). Pada kesempatan itu Marsekal TNI Djoko Suyanto juga dilantik Presiden menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal TNI Endriartono Sutarto.

Upacara pelantikan itu dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, para menteri, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, dan Ketua DPR Agung Laksono, serta sejumlah pejabat lainnya. Mantan Kepala Staf TNI AD (Kasad), Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, tidak hadir dalam acara pelantikan ini.

Herman Prayitno, S.IP, MM, kelahiran Yogyakarta, 9 Januari 1951, ini diterima menjadi Calon Prajurit Taruna 1970 dan dilantik Presiden RI 1973. Selanjutnya mengikuti Pendidikan Sekbang dilantik tahun 1976 dan Kursus Para Dasar Khusus, 1998. Dalam pendidikan umum, dia meraih gelar S1Ilmu Politik dari Universitas Terbuka (1996) Magister Manajemen (S2), 2001.

Sebelum menjabat Kepala Staf TNI-AU (dilantik 13 Februari 2006), Herman menjabat Wakil Kepala Staf TNI-AU (Wakasau) sejak tanggal 24 Maret 2004. Sebelumnya, lulusan Lemhannas KSA 2000, ini menjabat Komandan Sekolah TNI, 2003-2004, Asisten Personil Kepala Staf TNI AU, 2003, Panglima Komando Operasi AU I dan Gubernur Akademi Angkatan Udara, 2001-2002.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya mengingatkan agar TNI tidak terseret kembali ke wilayah politik. Reformasi di TNI adalah tidak terlibatnya lagi dalam wilayah politik. Apalagi sekarang masih ada jenderal, marsekal, dan laksamana yang tergoda untuk berpolitik.

Presiden berharap roh reformasi, yang menuntut TNI netral dan terbebas dari politik praktis, dilaksanakan. Presiden tidak ingin TNI bermain api dalam kegiatan politik.

Presiden menyadari dalam masa transisi ini masih ada jenderal, marsekal atau laksamana yang tergoda untuk masuk ke wilayah politik. "Mari kita ukir sejarah, jangan sampai itu terjadi dan terulang kembali. Ada masa-masa yang memerlukan ketegaran dan netralitas segenap pimpinan TNI untuk tidak terseret kembali atau main-main api dalam kegiatan politik. Tetaplah netral. Selamatkan prajurit dan satuan TNI yang kita cintai," kata Presiden

Selain itu Presiden meminta pimpinan TNI untuk memperhatikan kesejahteraan prajurit yang menjadi prioritas agar kesejahteraan mereka layak sesuai kemampuan negara. Presiden meminta dilakukan pembinaan prajurit TNI dan dimodernisasi peralatan persenjataan (alutsista).

Dalam pengadaan peralatan dan modernisasi persenjataan, Presiden meminta dilakukan sesuai dengan kemampuan negara dan kebutuhan. Dalam hal pengadaannya sudah ada mekanisme dan prosedur sesuai aturan yang semuanya melalui Departemen Pertahanan. Karena itu Presiden meminta semuanya dilakukan secara transparan dan mengutamakan produksi dalam negeri.


Prioritas:Tingkatkan Kesiapan Alutsista

Marsekal Madya Herman Prayitno seusai upacara serah terima jabatan Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (KSAU) dari Marsekal Djoko Suyanto kepada dirinya, Rabu (15/2/2006) di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, menyatakan akan memprioritaskan peningkatan kesiapan peralatan utama sistem persenjataan atau alutsista TNI AU dari sebelumnya sekitar 50 persen menjadi 60 persen pada tahun 2006.

Upacara serah terima jabatan Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara itu dipimpin Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang pada 20 Februari 2006 akan menyerahterimakan jabatan kepada Marsekal Djoko Suyanto.

Menurut Herman, memang kalau dilihat dari segi anggaran tidak akan cukup. Akan tetapi, dari anggaran yang ada dan ditambah rencana strategis yang telah kami susun lima tahun ke depan, TNI AU mencoba menaikkan kesiapan alutsista, khususnya pesawat, dari sebelumnya sebesar 40-50 persen menjadi 60 persen.

Saat ini tingkat kesiapan alutsista TNI, khususnya TNI AU, berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Menurut data Departemen Pertahanan, dari sekitar 258 pesawat berbagai jenis, hanya 130 unit (50,38 persen) yang siap dioperasikan.

Sedangkan dari 19 radar yang terpasang, sebanyak 17 radar (89,47 persen) siap dioperasikan, rata-rata sembilan sampai 24 jam sehari. Jumlah itu terbilang kurang jika dibandingkan dari kebutuhan sebanyak 33 unit. Sepanjang tahun 2005 Indonesia hanya berhasil mendeteksi tujuh pesawat tidak dikenal yang terbang melintasi wilayah udara RI.

Selain akibat minimnya alokasi anggaran dari pemerintah, banyak juga alutsista yang sampai sekarang masih digunakan, sudah berusia tua dan membutuhkan biaya perawatan yang lumayan tinggi. Belum lagi Indonesia pernah mengalami embargo senjata dari sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat.

Sementara mengenai personel, Herman menyatakan akan meningkatkan kualitas dengan jalan menerapkan secara konsisten sistem penilaian jasa sehingga mereka yang akan menduduki jabatan puncak benar-benar orang yang terpilih dan terseleksi dengan baik.

Menurutnya, semakin ke atas, struktur organisasi akan semakin mengecil. Akibatnya, orang yang bisa menduduki suatu jabatan memang benar-benar harus diseleksi dengan baik. Ditegaskannya, secanggih apa pun persenjataan yang kita punya, semua akan tergantung pada the man behind the gun. ►e-ti/tsl

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

C © updated 13022006-17022005




► e-ti/dispenau
Nama:
Marsdya TNI Herman Prayitno, S.IP, MM.
Lahir:
Yogyakarta, 9 Januari 1951
Jabatan:
Kepala Staf AU (Dilantik 13/2/2006)

Pendidikan Umum:
= SD, 1963
= SMP, 1966
= SMA-B, 1969
= S1 Ilmu Politik Universitas Terbuka, 1996
= Magister Manajemen, 2001

Pendidikan Militer:
= Akabri TNI AU, 1973
= Pendidikan Sekbang 1976
= Kursus Para Dasar Khusus, 1998
= Lemhannas KSA 2000

Karir:
= Gubernur Akademi Angkatan Udara, 2001-2002
= Panglima Komando Operasi AU I
= Asisten Personil Kepala Staf TNI AU, 2003
= Komandan Sekolah TNI, 2003-2004
Wakil Kepala Staf TNI AU, 2004-2006
= Kepala Staf TNI AU, 2006-sekarang

Sumber;
Dispenau

0 comments: