Ketika Tuhan memanggilmu ke Pangkuan Nya datang dan dekaplah dalam hati nuranimu

Kamis, 20 Januari 2011

Biografi Dr. Alwi Shihab


Dr. Alwi Shihab
Politisi yang Elegan

Penampilan mantan Menko Kesra Kabinet Indonesia Bersatu ini simpatik, gagah, tenang dan cerdas. Peraih dua gelar doktor ini, juga seorang politisi yang elegan dan bermartabat. Nahdliyin ini salah seorang ahli Islam pertama yang duduk dalam Board of Trustee pada Centre for the Study of World Relegions. Ia sudah teruji menampilkan sosoknya sebagai diplomat andal saat menjabat Menlu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayainya menjabat Menko Kesra KIB, 20 Oktober 2004. Setahun kemudian, tepatnya 5 Desember 2005, sehubungan reshuffle kabinet, dia digantikan Ir Aburizal Bakrie. Alwi kemudian dipercaya sebagai utusan khusus untuk negara-negara Timur Tengah, termasuk Organisasi Konferensi Islam.

Saat baru diangkat menjabat Menko Kesra KIB, sempat terjadi perdebatan tentang keberadaan fungsionaris DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang merangkap jabatan di Kabinet Indonesia Bersatu, rapat pleno DPP PKB yang digelar Selasa malam 26 Oktober 2004, memutuskan, Ketua Umum PKB Alwi Shihab dan Ketua PKB Saifullah Yusuf diberhentikan dari jabatannya.

Sekretaris Dewan Syura DPP PKB Arifin Djunaedi yang memimpin rapat menjelaskan, keputusan pemberhentian Alwi yang kini menjabat Menko Kesra dan Saiful yang menduduki jabatan menteri negara percepatan pembangunan daerah tertinggal sudah sesuai dengan AD/ART PKB, peraturan partai, serta keputusan rapat gabungan Dewan Syura dan Dewan Tanfidz pada 21 September lalu.

Sebagai Ketua Umum DPP PKB, ia menunjukkan kelasnya sebagai seorang politisi yang patut diperhitungkan oleh kawan dan lawan politiknya. Di bawah kepemimpinannya PKB bergandeng tangan dengan Partai Golkar mencalonkan Jenderal TNI (Purn) Wiranto dan Solahudin Wahid sebagai Capres-Cawapres.

PKB dengan mantap bergandengan mengiplementasikan gaya berpolitik Golkar yang telah terbukti ampuh sebagai mesin politik Orde Baru selama 32 tahun. Beberapa kyai PKB mengeluarkan fatwa haram memilih Capres perempuan.

Pria bernama lengkap Alwi Abdurrahman Shihab kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan 19 Agustus 1946, ini mengatakan tidak memposisikan diri untuk suatu jabatan. Ia, sebagai Ketua Umum PKB, hanya mengutamakan peningkatan perolehan suara pada Pemilu 2004. Sementara perihal pencalonan presiden dan wakil presiden adalah ditentukan oleh partai, tidak hanya fungsionaris partai, tetapi juga para kyai sangat besar peranannya.

Menurut peraih penghargaan Akademi dari Pemerintah Mesir (1996), ini selain dirinya masih banyak tokoh-tokoh lain yang bisa dijual jadi calon presiden atau wakil presiden. Tidak mesti dari PKB. Ada tokoh-tokoh NU dan bahkan di luar partai. "Bagi saya yang penting bagamana dapat membesarkan partai bukan bagaimana kita duduk di suatu posisi. Kita tidak berfokus pada perolehan kursi (kedudukan), tetapi mengutamakan perolehan suara sehingga PKB dapat lebih besar," kata S3 lulusan Universitas Temple, AS (1995) ini dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia, di ruang kerjanya, kantor DPP PKB, Jalan HR Rasuna said, Kuningan, Jakarta.

Ia memang seorang politisi yang tidak ambisius. Seorang politisi yang mengedepankan etika dan moralitas. Hampir tidak pernah ia melontarkan pendapat yang secara sengaja dapat melukai perasaan orang lain. Ia bukan politisi hipokrit, penghujat dan pendendam. Ia seorang politisi pembawa damai, konstruktif dan demokratis. Politisi yang relijius dan berjiwa kebangsaan. Seorang Nahdliyin yang tidak hanya mementingkan kelompoknya sendiri.

Persamaan visi dan misi membuatnya dekat dengan Gus Dur. Karena kedekatannya, bahkan ia dicap sebagai loyalis Gus Dur. Ia memang seorang yang setia kawan. Maka tak heran bila ketika Gus Dur menjabat presiden, mantan pengajar di Harvard Divity School, dan di Auburn Theological Seminary of New York, ini diangkat menjadi Menteri Luar Negeri. Bahkan menjadi salah seorang menteri yang paling sering bersama Gus Dur. Tidak hanya saat Gus Dur berkunjung ke luar negeri, tetapi juga ketika berkunjung ke berbagai tempat di dalam negeri. Sehingga ia dijuluki sebagai Menlu yang banyak mengurusi masalah dalam negeri.

Ia juga sering ‘menerjemahkan’ berbagai pernyataan Gus Dur yang mengundang kontroversi. Termasuk ketika Gus Dur melontarkan rencana membuka hubungan dagang RI-Israel. Alwi Shihab, yang ketika itu menjabat Menlu, adalah orang yang menjadi paling sibuk. Ia harus menangani pro kontra tentang rencana itu.

Di antaranya, ketika sekitar dua ratusan massa Generasi Muda Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Senin (1/11/1999) mendatangi kantor Deplu dan meneriakkan supaya Alwi mundur bila tidak sanggup melawan tekanan zionis atau bekingnya. Protes dan penolakan yang sama juga datang dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) dan Pengurus Besar Pelajar Islam (PII), serta dari Ketua KISDI Ahmad Sumargono.

Pada beberapa kesempatan, peraih gelar doktor di Universitas Ain Syams, Mesir, dan Universitas Temple, AS, itu menjelaskan bahwa rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel semata-mata untuk kepentingan bangsa, untuk pemulihan ekonomi. Dalam pertemuan dengan pengurus Kamar dan Industri (Kadin) Pusat, Kamis (4/11/99), Alwi mengatakan, “Pemulihan ekonomi harus kita capai dengan segala cara. Tetapi bukan dengan menjual prinsip-prinsip kita."

Hal senada juga ditegaskannya dalam percakapan dengan Tokoh Indonesia. Sebenarnya permasalahannya adalah bahwa Gus Dur memiliki sebuah pemikiran yang memprioritaskan pemulihan ekonomi. Karena perihal pemulihan ekonomi sangat erat hubungannya dengan pihak barat. "Dan, bagi Gus Dur dengan membuka hubungan dagang dengan Israel, ia mau menunjukkan bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang tidak membeda-bedakan bangsa dan etnis dalam rangka agenda economy recovery dan dalam tataran perdagangan dunia."

Menurutnya, dengan kebijakaan tersebut, Gus Dur ingin membuka sebuah wacana bahwa ternyata beberapa negara-negara Arab dan Islam sudah membuka hubungan dagang dengan Israel. Juga, toh tanpa kita buka kantor, hubungan dagang dengan kita sudah ada.

Tapi bukan hubungan diplomatik. Sebab hubungan diplomatik itu bersangkut-paut dengan politik. Tetapi hubungan dagang atau ekonomi. Sehingga diharapkan ada investasi masuk, tanpa mengorbankan prinsip dasar terhadap perjuangan bangsa Palestina.

Ayah tiga anak ini meyakinkan bahwa rencana itu sama sekali tidak mengurangi prinsip-prinsip dasar Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina. Menurutnya, hubungan itu sebatas hubungan dagang saja, tidak sampai hubungan diplomatik. Karena Israel belum memberikan hak-hak yang seharusnya diberikan kepada Palestina.

Kendati tidak berlatarbelakang diplomat dan tidak pernah berkarir sebagai diplomat, namun ia terlihat cukup tangkas menepis tudingan-tudingan ke arahnya. Ia berhasil menunjukkan sosoknya sebagai seorang diplomat andal yang dapat disejajarkan dengan para diplomat pendahulunya, seperti Ali Alatas dan Muchtar Kusumaatmadja. Meski dikritik bahkan diminta mundur, tetap saja emosinya terkontrol dan dengan sabar menjelaskan mengenai kebijakan hubungan luar negeri tersebut.

Ia memang kelihatan cukup fasih dan tidak kenal kompromi membahasakan kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hal itu tidak semata-mata disebabkan kedekatannya secara pribadi dengan Gus Dur. Namun, karena ia melihat ada nilai-nilai positif secara ekonomi bisa dipetik. Dalam pandangannya, Israel itu mempunyai lobi yang kuat di Barat. Sehingga diharapkan dengan hubungan dagang ini bisa membuat investor barat melirik Indonesia.

Persamaan visi dan kedekatannya dengan Gus Dur semakin teruji, ketika Gus Dur mendapat serangan politik dahsyat dari Pansus Buloggate yang melahirkan interplasi I dan II untuk memaksa Gus Dur turun tahta. Ketika Gus Dur melakukan perlawanan dengan mengeluarkan dekrit membubarkan DPR dan MPR yang telah menjadwalkan Sidang Istimewa meminta pertanggungjawaban presiden, Alwi tetap setia di belakang Gus Dur.

Sehingga ketika Matori Abdul Djalil dipecat Gus Dur dari jabatan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Alwi ditunjuk menggantikannya sebagai pejabat sementara sampai kemudian diselenggarakan muktamar. Dalam Muktamar PKB itu Alwi terpilih dan dikukuhkan sebagai Ketua Umum PKB. Sehingga muncul dua DPP PKB, yakni PKB Kuningan (Alwi Shihab-Gus Dur) dan PKB Batu Tulis (Matori). Karena sehari sebelumnya, Matori Abdul Djalil juga menyelenggarakan muktamar yang mengukuhkannya sebagai ketua umum.

Dalam menanggapi perpecahan dalam tubuh PKB ini, Alwi menunjukkan kelasnya sebagai seorang politisi yang patut diperhitungkan oleh kawan dan lawan politiknya. Ia selalu bersuara untuk damai dan rekonsiliasi. Dalam perjalanan kepemimpinannya, ia berhasil membawa PKB Kuningan ke arah yang lebih patut menggunakan nama PKB. Bahkan di luar PKB, ia kini makin diperhitungkan oleh partai-partai lain.

Diperkirakan PKB akan berhasil menaikkan perolehan suara pada Pemilu 2004. Walaupun ia tidak mau gegabah untuk memperediksi berapa persen, tapi ia mengharapkan lebih dari 20%. Sehingga PKB menjadi salah satu partai yang layak mengajukan calon presiden dan wakil presiden.

Dalam berbagai pernyataan, PKB masih akan menjagokan Gus Dur sebagai calon presiden. Namun, RUU tentang Pemilihan Presiden yang akan segera disahkan telah mengisyaratkan tidak mungkin Gus Dur dapat dicalonkan akibat syarat kesehatan. Sehingga diperkirakan, PDIP dan partai lain akan berusaha mengajak PKB untuk mengajukan paket calon Presiden dan Wakil Presiden. Yang paling mungkin dari segi ideologis adalah paket Megawati-Alwi Shihab. Kendati PKB kemungkinan akan menjagokan KH Hasyim Muzadi juga sangat terbuka.

Perihal koalisi dengan partai lain untuk pencalonan presiden dan wakil presiden, menurutnya, sebenarnya pihaknya belum bisa melihat partai mana. "Tetapi yang jelas koalisi kita itu dengan kelompok tradisional, nasional dan agamis yang sesuai dengan faham kesejukan atau visi dan misi yang sama," ujarnya.

Penulis buku Muhamadiyah movement and controversy with Christian Mission (Membendung Arus, 1998), ini bilang, untuk kelompok yang nasionalis saat ini tidak hanya PDI-P tetapi masih banyak lagi. "Dengan PDI-P memungkinkan, dengan Golkar juga memungkinkan, dengan PAN sebenarnya juga tidak mustahil, karena sebenarnya kita sama-sama berorientasi kebangsaan juga. Itu pun berdasarkan kesedian partai-partai lain. Yang jelas, kita tidak ingin menerapkan syariah Islam."

Adik kandung mantan Menteri Agama Quraish Shihab ini menyelesaikan pendidikan sarjananya bidang akidah filsafat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ujungpandang tahun 1986. Pada saat yang hampir bersamaan ia meraih gelar master dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Master yang lainnya diperoleh dari Universitas Temple, Amerika Serikat tahun 1992.

Selain meraih dua gelar master, suami dari Ashraf Shahab MBA ini juga meraih dua gelar doktor. Doktor pertama, dalam bidang filsafat diperoleh dari Universitas Ain Syam, Mesir tahun 1990. Gelar doktor kedua diperoleh dari Universitas Temple, AS tahun 1995.

Sebelum bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa dan pulang ke Indonesia, Alwi menetap di Washinton DC, AS. Di negara Paman Sam itu, ia mengajar agama Islam di Hartford Seminary yang dilakoninya sejak tahun 1996. Selain itu, ia juga mengajar di Harvard Divity School, dan di Auburn Theological Seminary of New York.

Di kalangan cendekiawan dan pemikir Islam AS, nama Alwi tidak asing. Pria yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di Makassar, Malang, dan Cairo (Mesir) ini, salah seorang ahli Islam pertama yang duduk dalam Board of Trustee pada Centre for the Study of World Relegions, lembaga pengkajian yang berafiliasi dengan Harfard Divity School

Perihal Islam Radikal
Penulis buku Inclusive Islam (Islam Inklusif, 1997), ini juga bicara tentang radikalisme agama, termasuk dalam dunia Islam. ”Kita adalah satu-satunya partai yang memiliki otoritas keagamaan yang dapat mengkounter radikalisme ini,” katanya. Hal ini, menurutnya, mendapat simpatik dan dukungan dari mereka yang merasa terganggu dengan hadirnya radikalisme agama di dunia termasuk di Indonesia.

Dalam suatu acara silaturrahmi warga NU dan PKB di aula Kantor NU Jember, Alwi Shihab meminta pada seluruh umat Islam Jemaah Ahlussunah untuk berhati-hati terhadap berkembangnya Islam radikal (radikalisme), menyusul banyaknya pengeboman yang dilakukan kelompok Islam radikal itu.

Menurutnya, umat Islam warga Nahdliyin dan para ulama wajib membendung kekuatan mereka agar tidak merusak Islam itu sendiri. Ia mengakui, ajaran Islam radikal pada prinsipnya berniat baik untuk memurnikan ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh luar, selain diajarkan Rasulallah. Namun, lanjut dia, dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat di Indonesia, mereka yang beraliran Islam radikal itu, ternyata dalam memahami ajaran Rasulallah sangat literlek yang melahirkan pandangan yang keras.

"Akibatnya, mereka sering bersikap memberontak bila menghadapi perilaku manusia yang tidak cocok dengan ajaran yang mereka pahami," katanya.

Padahal, menurutnya, meski di Indonesia, warga Indonesia yang mayoritas beragama Islam, namun pada kenyataannya orang Islam yang benar-benar menjalankan aqidah dan akhlakrasulallah baru 20 persennya. "Pertanyannya apakah kemudian mereka harus dipaksa? Padahal Islam dalam mensyiarkan syariahnya selalu bertahap sesuai kemampuan manusia itu sendiri," katanya.

Untuk itulah, pihaknya sepakat untuk tidak memasukkan syariah Islam ke dalam konstitusi yang berakibat akan menjadi undang-undang. Sebab, apabila syariat Islam masuk dalam undang-undang negara, konsekwensinya terhadap siapapun yang melanggar akan dikenakan saksi.

Kekayaan
Kekayaan Alwi Shihab turun sebesar Rp 535 juta, dari kekayaan dalam rupiah pada tahun 2004 Rp 18,609 miliar menjadi Rp 18,174 miliar. Harta dalam dollar AS pada tahun 2005 125.054 dollar AS, turun dari sebelumnya tahun 2004 sebesar 210.980 dollar AS. Demikian pengumuman Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (23/5/2006).

Harta tidak bergerak pada 25 Oktober 2004 Rp 15,981 miliar, meningkat pada 1 Februari 2006 menjadi Rp 16,046 miliar. Harta bergerak berupa alat transportasi tetap Rp 907 juta. Harta bergerak lainnya Rp 1,143 miliar. Giro dan setara kas lain menurun drastis dari Rp 576,877 juta dan 210.980 dollar AS pada 2004 menjadi Rp 77,792 juta dan 125.054 dollar AS. ►e-ti/crs

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


► e-ti/rpr
Nama:
Dr Alwi Abdurrahman Shihab
Lahir:
Rappang, Sulsel, 19 Augustus 1946
Agama:
Islam
Jabatan:
= Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu
= Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (General Chairman of Nation Awakening Party)- Diberhentikan dengan hormat 26 Oktober 2004
Isteri:
Ashraf Shahab, MBA (Jakarta, 14 Juli 1961 – Guru)
Anak:
M. Rizvi Shihab (Student Penn State University, USA)
Samira Shihab (High school, USA)
S. Samy Shihab (Elementary school, Tadika Puri)

Pendidikan Formal :
University of AI-Azhar, Cairo - Mesir (1968)
IAIN Alaudin, Ujung Pandang - Sulsel (1986)
University of Ain Shams, Cairo - Mesir (1990) - Ph.D
Temple University, USA (1992) - M.A
Temple University, USA (1995) - Ph.D
Harvard University: The Center For the Study of Word Religious, USA (1995-1996) Post -Doctorate

Pengalaman Pekerjaan :
1975 -1979 : Presiden Direktur Glass Priangan Factory, Cianjur, Indonesia
1979 -1982 : Presiden Direktur Alfa Contracting Company, Jeddah
1982 -1986 : Presiden Direktur PT. Prima Advera, Jakarta
1982 : Pendiri Yayasan Darul Qur'an, Jakarta
1986 -1990 : Comisaris Eagle Tripelti, Jakarta
1986 : Comisaris PT Dhafco Manunggal Sejati, Jakarta

Pengalaman Akademik:
1985 -1988 : University of Aweroes, Jakarta, Penceramah
1993 -1995 : Temple University Department of Religion, USA, assistant Professor
1994 -1995 : Philadelphia College of Textile & Science (spiritual Development Program), USA - Penceramah
1996 : Harford Seminary , Harford, Connecticut, USA, Professor
1998 : Harvard University - Divinity School, USA, Professor
2002 : Dosen Universitas Islam Kadiri, Kediri, Jawa Timur
2002 : Dosen Pasca Sarjana Universitas Indonesia

Karir Politik:
1999 : Anggota DPR RI
1999 - 2000 : Menteri Luar Negeri Republik Indonesia
2002 - 2005 : Presiden Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Keanggotaan :
1988 : Anggota Presidium International Forum Indonesia (IFI), Jakarta
1994 : Anggota Advisory Board of The Religious Consultation on Population Reproductive Health and Ethies, Washington DC
1995 : Anggota International Scholars Annual Trialogue (ISAT), Philadelphia., USA
1996 : Anggota International Connection Committee, American Academy of Religion, Atlanta, Georgia, USA
1998 : Anggota Board of Trustee Harvard Center for the Study of World Religions Cambridge, USA
1998 : Anggota of the Advisory Board, Center for the Study of World Religions Harvard Divinity School, USA
1999 : Bina Bangsa (Nation Building) Foundation - Chairman of the Board, Jakarta
2000 : Patron ICWA ( Indonesian Council of Word Affairs), Jakarta

Penghargaan :
1996 : Penghargaan Akademi dari Pemerintah Mesir

Publikasi / Buku:
Inclusive Islam (Islam Inklusif, 1997)
Muhamadiyah movement and controversy with Christian Mission
(Membendung Arus, 1998)
Sufistic Islam (Islam Sufistik, 2001 )
Teaching Islam in the West (Segera)

Alamat:
JI. Garut No.31 Menteng Jakarta Pusat
dan
Jl. Poso, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

0 comments:

Followers