Rabu, 09 Maret 2011

Kala Musim Haji Bersemi – Kalam Habib Abdullah bin Husien Bin Thahir

Musim haji akan tiba. Kota suci Mekah bakalan di geruduk lagi oleh jutaan muslimin dari seantero jagad. Kulit putih, kulit hitam, kulit coklat, kulit kuning, semuanya tumpah ruah di kitaran Baitullah, Ka’bah di Bulan Dzul Hijjah.

Thawaf, Sa’i, lempar jumroh, serta wukuf Arafah akan memarakkan Dzul Hijjah di tanah Haram sana. Lautan manusia bergelombang kain ihram serba putih niscaya kian mengentalkan nuansa islami yang teduh dan damai. Aduhai, alangkah beruntungnya orang yang hadir di sana.


Tidak bisa di bantah. Haji, sebagai rukun islam kelima, wajib di kerjakan oleh muslim yang telah berkemampuan. Patokan kemampuan ini di urai dengan panjang lebar oleh ilmu fikih. Simak saja tausiyah Habib Abdullah bin Husien bin Thahir berikut ini.

“Bergegaslah menunaikan ibadah haji dan umrah kala kalian sudah berkesanggupan. Awas, jangan di akhir-akhirkan, jangan pula berleha dan mengulur waktu pelaksanaan keduanya. Allah SWT berfirman, yang maksudnya,
“Mengerjakan hajì adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Baginda Nabi SAW mewanti-wanti,
“Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan yang memadai untuk pergi ke Masjidil Haram namun ia tak jua berhaji, maka terserah ia menghendaki mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.”

HAJI DENGAN ILMU

Setiap ibadah ada ilmunya. Begitu pula Haji. Agar pelaksanaannya berjalan dengan benar dan lancar, alangkah bijaknya bila kita mempersiapkan segala sesuatu yang di perlukan. Apa sajakah itu? Simak saja lanjutan uraian Habib Abdullah berikut,

“Jika kalian berniat melaksanakan haji, mula-mula persiapkan bekal cukup dari harta yang halal. Lalu, jika kalian mampu, bantulah terlebih dahulu orang-orang kurang mampu sekitarmu. Sebab, esensi haji adalah perkataan bagus dan semangat untuk berbagi.”

“Bekali pula diri kalian dengan pengetahuan Fiqh Haji, agar kalian bisa melaksanakan prosesi secara sempurna dan terhindar dari kerusakan ibadah. Lazimilah wirid-wirid serta dzikir-dzikir yang di sunnahkan kala bepergian atau berhaji, seperti doa turun dari kendaraan, naik kendaraan, memandangi kota-kota dan lain sebagainya. Bacalah wirid-wirid yang sekiranya tidak membebani diri kalian. Jikalau kalian tidak menghafal satu wiridpun, kalian cukup berujar,

أللهم إني أسألك من خير ماسألك منه عبدك ونبيك محمد صلى الله عليه وسلم
وأعوذبك مما استعاذك منه عبدك ونبيك محمد صلى الله عليه وسلم

(Allahumma Innie As-aluka Min Khairi Maa Sa-alaka Minhu ‘Abduka Wa Nabiyyuka Muhammadun Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Sallam, Wa A’udzubika Mimmas-Sta’aadzaka Minhu ‘Abduka Wa Nabiyyuka Muhammadun Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Sallam) Artinya,
“Ya Allah, aku minta kepada-Mu segala kebaikan yang pernah di minta oleh hamba, sekaligus nabi-Mu, Muhammad SAW. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala yang pernah di mintakan perlindungan kepada Mu oleh Nabi-Mu Muhammad SAW.”

Usai melaksanakan haji, jangan lupa menziarahi masjid kebesaran baginda Nabi SAW. Sambangi pula tempat-tempat bernilai sejarah lainnya. Perbanyak Shalawat kepada Nabi SAW di perjalanan, di kota Madinah, dan di setiap keadaan kalian. Dan berucaplah dengan lìsan dan hati kalian setiap saatnya, dalam aktifitas maupun diam,
“Ya Allah, karunialah aku kesempurnaan dalam melaksanakan ajaran Nabi SAW, dhahir maupun Bathin, dalam keadaan sehat dan selamat, dengan Rahmat-Mu, Wahai Zat Yang Maha Pengasih.”

HARUS DENGAN AKHLAK

Benar adanya, berhaji kurang afdhal bila tidak di sertai mampir ke pusara Baginda Nabi SAW. Sebab, Ka’bah dan Pusara Baginda Nabi adalah dua monumen yang tak bisa di pisahkan. Kita beroleh hidayah dan bisa berkiblat ke Ka’bah adalah berkat perjuangan Beliau SAW. Bisa mengunjungi kedua tempat itu adalah anurgerah yang luar biasa. Begitu pula mengunjungi tempat-tempat bernilah sejarah lainnya. Habib Abdullah menasehatkan,

“Jika seseorang di takdirkan oleh Allah SWT untuk sampai ke tempat-tempat yang mulia dan penuh berkah, maka seyogianya ia memuji kebesaran-Nya dan mensykuri karunia itu. Janganlah sampai ia lupa diri dan melanggar etika kepantasan di tempat-tempat tersebut. Jangan sampai pula ia bermalas-malasan dan membuang waktu. Akan tetapi, hendaklah ia sebisa mungkin melaksanakan adab yang baik dalam tindak-tanduknya, dhahir dan bathin, dan menjalankan ìbadah dengan cara yang paling sempurna. Terpenting lagi, hendaklah ia berprasangka baik kepada semua orang, dan tidak meremehkan siapa pun. Sebab, di Haramain, dosa kecil nilainya amat besar. Sebagaimana pula nilai pahala dilipatgandakan di situ.” Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika La Syarika Lak.

Di edit seperlunya dari Majalah Cahaya Nabawiy No.67 Th.VI Dzulhijjah 1429/Desember 2008

0 comments: