Minggu, 13 Maret 2011

Situasi Zaman Edan


Seperti telah dikemukakan, pada saat zaman edan situasi dirasakan amat runyam. Salah satu pujangga terkenal Indonesia – Ronggowarsito – pernah menggambarkan keadaan zaman seperti itu di mana banyak orang yang semula baik namun karena tidak tahan kemudian berubah menjadi tidak baik dengan menerapkan prinsip hidup “ora edan ora keduman’ yang berarti kalau tidak gila tidak mendapat bagian.

Dengan prinsip itu mereka berlomba-lomba merebut kekuasaan, meraih kepopuleran, menumpuk harta, dan meraih keduniawian lainnya dengan cara yang tidak santun dan bijaksana. Pernyataan Ronggowarsito – yang sampai saat ini masih populer – tersebut adalah :

“Awenangi jaman edan, ewuh aya sing pambudi. Melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kakiren wekasan nipun. Dilala kersa Allah, begja begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada”,

yang artinya :

“ Hidup di zaman edan, serba salah. Turut edan tidak tahan, tidak turut edan, tidak kebagian, akhirnya kelaparan, Namun Tuhan telah berpesan, seuntung-untungnya orang lupa masih untung yang sadar dan waspada”.

Pada saat zaman edan berlangsung, semua tatanan kehidupan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dsb rusak atau tak dipakai, etika / moral / norma-norma agama menjadi hanya pajangan, bahkan dengan menggunakan dalil-dalil agama pula banyak orang melakukan perbuatan yang tak bermoral. Beberapa ciri-ciri zaman edan – seperti yang pernah diceritakan oleh umat terdahulu maupun yang pernah dirasakan di Indonesia dan mungkin pula di dunia di era tahun 1990-2003 – antara lain adalah :

Banyak orang – yang mengemban amanah masyarakat untuk suatu tugas, atau yang menjadi panutan atau yang ditokohkan oleh masyarakat – tidak menjalankan fungsinya dengan baik dan benar sehingga guru dan pengajar agama tidak benar-benar menjadi guru / pengajar agama lagi, polisi tidak benar-benar menjadi polisi lagi, jaksa tidak benar-benar menjadi jaksa lagi, hakim tidak benar-benar menjadi hakim lagi, bupati / camat/ lurah tidak benar-benar menjadi bupati /camat/ lurah lagi, wakil rakyat di parlemen /lembaga perwakilan masyarakat tidak benar-benar menjadi wakil rakyat, dst.
Sebagian besar pejabat yang diangkat adalah pejabat yang “tidak bersih” sebab yang mengangkatnya adalah orang yang “tidak bersih” pula sehingga dengan cara itulah maka pejabat yang “tidak bersih” masih bisa bertahan atau dilindungi dan ketidakbersihanpun masih terus bisa dijalankan.
Sulit menegakkan hukum sebab para penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, pengacara, dsb) berkolaborasi dengan para penjahat, bahkan banyak penegak hukum yang justru menjadi penjahat,
Orang enggan atau tidak mau menjadi saksi atau mengadu atau melapor kepada para pejabat yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi dirinya sendiri atau orang lain karena takut harus keluar uang, ditangkap atau diteror atau bahkan dibunuh, dsb.
Banyak orang menjadi terkenal karena membahas kemiskinan, kebodohan, keamoralan / keasosialan, sementara kebodohan, kemiskinan dan keamoralan / keasosialan itu sendiri tidak banyak berubah
Lebih banyak kertas hasil studi tentang masalah kehidupan (terutama kemiskinan, kebodohan dan keasosialan/ keamoralan) namun hanya sedikit kertas yang membahas tentang solusi praktisnya.
Keputusan tentang masalah kemasyarakatan selalu tidak pernah mencapai mufakat bulat, selalu bisa dimentahkan dan selalu bisa diubah kapan saja sehingga situasi ketidakpastian terus berlangsung.
Karena kepercayaan kepada pihak yang berwenang hilang maka banyak persoalan yang diselesaikan melalui jalur hukum “rimba”, seperti misalnya pencuri yang tertangkap dipukuli, dibakar, dsb.
Sopan santun menjadi hilang sehingga menghormati orang tua, mendahulukan orang yang susah, mendahulukan perempuan dan anak-anak serta antrean bukan lagi menjadi keharusan.
Konsumerisme mengalahkan segalanya, orang lebih suka berhutang daripada menabung, dan banyak orang bangga dengan hutangnya yang banyak.
Banyak orang bangga karena berhasil mengerjakan yang buruk dengan cara halus (misalnya saja berhasil mendapatkan uang/hutang dari bank dengan cara melakukan manipulasi, menyulap pajak, dll)
Banyak orang bicara tentang hal baik namun dirinya sendiri masih banyak menyimpan dan mengerjakan kekotoran.
Banyak orang menggunakan agama untuk melindungi diri, untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan atau kelompoknya.
Emansipasi wanita berlangsung dalam bentuk menggantikan banyak posisi laki-laki di bidang pekerjaan, kebebasan membuka aurat, kebebasan perempuan untuk menceritakan keluarganya di muka umum, kebebasan perempuan untuk tidak patuh kepada aturan rumah, dll
Banyak anak frustasi karena orang tuanya tidak ada di rumah karena sibuk sendiri atau karena orang tuanya tidak rukun atau karena orang tuanya tidak mau memahami dirinya dsb sehingga banyak di antaranya yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang, narkotika, dan melakukan perbuatan asusila yang tujuannya adalah “lari” dari kefrustasian untuk mendapatkan suasana yang dianggapnya ketenteraman.
Banyak orang tak percaya lagi dengan cara dan prosedur yang umum berlaku, akal, dan kesabaran sehingga lebih menyukai cara-cara yang bersifat paranormal. Dukun, jin, iblis dan sejenisnya hidup berdampingan dengan para akhli kitab (pendeta, guru agama, dll) sehingga walaupun setiap kali ayat-ayat suci atau hal-hal lain yang bernuansa agama (misalnya saja doa, syukuran, ceramah agama, dll) berlangsung namun setiap kali pula tampillah susuk, santet, pelet, perewangan, jampi-jampi, jimat-jimat dan sejenisnya yang laku keras dan banyak dipromosikan.
Masyarakat lebih suka berita tentang kehidupan orang top daripada berita tentang penderitaan masyarakat
Orang lebih suka bekerja di kota-kota besar daripada di pelosok desa
Tipu-menipu, bajak-membajak hasil karya, suap-menyuap merupakan hidangan sehari-hari
Tontonan atau lagu seronok, tontonan romantis, tontonan horor lebih laku daripada tontonan lainnya
Setiap hari berseliweran berita besar mengenai bantah-bantahan tokoh masyarakat.
Segala hal dirasakan sulit oleh banyak orang di masyarakat, termasuk di bidang ekonomi sehingga banyak orang bingung harus bagaimana.
Berkali-kali timbul bencana seperti bencana alam, penyakit dan kecelakaan yang banyak merengut nyawa manusia, dll
Zaman yang disebut edan ini membuat manusia yang berada di dalamnya menjadi gerah, timbul kegoncangan, timbul kekhawatiran karena semuanya mengarah kepada kerusakan. Dan memang benar akhirnya timbul kejadian yang antara lain berupa bencana yang dahsyat, reformasi atau bahkan revolusi yang sering mengakibatkan banyak nyawa melayang.

0 comments: