Rabu, 09 Maret 2011

Belajar demokrasi dan memahami perbedaan lebih luas


Rajam di Somalia - adalah hukuman melempari penzina dengan batu sampai mati dan yang berhak menjatuhkan hukuman rajam itu adalah pengadilan tinggi suatu negara yang menganut hukum agama Islam dan Yahudi. Prosesi rajam dengan cara, para penzina ditanam berdiri di dalam tanah sampai dadanya, lalu dilempari batu hingga mati. (wikipedia)

Untuk menyambung posting saya sebelumnya tentang hakekat "memahami perbedaan dengan bijak" . Maka sejenak kita bicara demokrasi, karena esensi demokrasi tak mesti di artikan suatu konsep politik, tapi bisa juga di realisasikan dalam bentuk budaya berinteraksi antar individu. Karena intinya demokrasi adalah menyelaraskan perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan manusia.

Perbedaan dan Demokrasi

Saat ini kita bisa ber-internet ria adalah sebagai buah demokrasi yang dihasilkan bangsa ini, yang mana kita tau kondisi ini terpicu reformasi 98 lalu.

Memahami Perbedaan Merupakan Akar Jiwa Demokrasi

Saya berpendapat adalah tidak masuk akal jika bicara demokrasi tanpa bicara pemahaman akan esensi perbedaan budaya dalam masyarakat, baik nasioanal maupun internasional .

Perbedaan menjadi akar semua masalah perpecahan, pembunuhan, etc..

Perbedaan membuat seorang murid dan guru baku pukul/bunuh.

Perbedaan membuat perceraian dalam rumah tangga.

Perbedaan membuat sesama agama, bangsa, dan individu saling bermusuhan.

Perbedaan membuat para anggota dewan bukan bersidang , tapi malah bermusuhan.

So, sebelum bermimpi mengharap "keadilan" dari Demokrasi di Indonesia , sudah se-dewasa apa, se-intelektual apa, se-kerdil apa, se-luas apa..,kita memahami perbadeaan .

Wejangan Bung Karno

"Sosio nasionalisme bertujuan untuk mencari keberesan politik dan keberesan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki. Sosio demokrasi lahir daripada sosio nasionalisme bertujuan mencari keberesan politik dan ekonomi, keberesan negeri dan rezeki, dan tidak hanya mengabdi kepada kepentingan sesuatu yang kecil melainkan kepada kepentingan masyarakat.

Sosio nasionalisme adalah nasionalisme yang berperikemanusiaan, nasionalisme yang lapang dada, nasionalisme yang internasionalisme, nasionalisme yang bergetar hatinya untuk membela apabila melihat masih ada bangsa yang terjajah. Sosio nasionalisme bukanlah nasionalisme yang berpandangan sempit dan menumbuhkan chauvinisme jingoisme, intoleran atau disebut xeno phobia. Sosio nasionalisme juga bukan nasionalisme yang hanya berorientasi pada internasionalisme minded saja, tanpa memperhatikan harga diri atau identitas nasional atau disebut xeno mania..."

Memahami budaya dan ideologi orang lain adalah pisau analisa

Seperti yang di ungkapkan Bung Karno "bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi dalam masyarakat Indonesia sendiri" .

Beliau selalu menekankan pentingnya mengenal dan mengkaji budaya bangsa lain sebagai pisau analisa untuk mengkaji budaya bangsa sendiri , Sangat logis... karena bagaimana mungkin , kita berteriak "Komunis adalah salah", "Hukum rajam adalah salah " , "Budaya masyarakat anu adalah salah" , sementara kita tak pernah menyentuh eksistensi dasar pada apa yang kita anggap salah, Lebih memprihatinkan lagi tidak pernah intropeksi diri (Ideologi membabi buta, sinisme buah kekerdilan berfikir).

Mabuk Laut (memahami sulitnya berdemokrasi)

"Jika kita naik kapal laut ,terasa pusing ,mual, dan mau muntah, tapi para penumpang lain biasa-biasa saja....maka jangan buru-buru menyalahkan kapal lautnya, nahkoda, atau kondisi di kapal...karena mungkin saja kita yang kampungan, tidak biasa di laut (sayang sekali padahal kita negara kepulauan yang kaya lautan-nya), tapi cuma biasa makan ikan asin dari laut, ini yang repot, "benci laut tapi mau makan hasil laut" - Mungkin kurang lebih seperti itulah perumpamaan problem bersosialisai dalam kerangka demokrasi"

F

0 comments: