"Kita Tercipta laki - laki dan wanita untuk Saling Mengenal dan Menghormati Bukan untuk saling Bercerai Berai dan Berperang angkat Senjata, Ucapkan Salam Pada Hidup dan Mati "

Cari Blog Ini

Memuat...

Arsip Artikel Blog

Kamis, 10 Februari 2011

Perbedaan Pengertian As Samahah Dengan At Tasamuh Tasamuh Adalah Dengan Resistor




Dilihat dari norma-norma ini, bangsa Indonesia, terlebih kaum muslimin,seharusnyalah adalah bangsa yang paling toleran (
tasamuh
: lapang dada) di antara danterhadap perbedaan suku, agama, dan budaya; sebab setiap agama dan semua bentuk aturan di Indonesia memang mengajarkannya demikian. Barangkali tidak ada sebuahbangsa yang begitu jelas, tegas, dan tuntas mengajarkan toleransi, sebagaimana halnyaIndonesia; bahkan toleransi itu merupakan ciri bangsa Indonesia yang mayoritasnyaadalah pemeluk agama Islam. Indahnya lagi, pelaksanaan praktek toleransi Islam initerbukti dalam sejarah Islam Indonesia serta diakui dan dikagumi oleh banyak cendekiawan non-muslim di dunia Barat maupun Timur.Upaya untuk mengarusutamakan kembali ”nation character building”(pembangunan karakter bangsa), salah satunya adalah menyangkut sifat
toleran(si),
yang harus
melekat
dalam diri setiap individu bangsa Indonesia.
Toleran
sebagai salahsatu tata nilai posistif ini, perlu dirumuskan kembali pada tingkat ”nilai” (pada tingkatinstitusional), disosialisasikan (melalui pendidikan), diinternalisasi (pada tingkatindividu), serta diaplikasikan pada tingkat prilaku (disertai kontrol). Sebagaimana, tatanilai lainnya, pengadopsian sifat toleran, sebagai suatu nilai, tidak tergantung padafaktor keturunan, melainkan berdasarkan ‘pilihan pribadi’ yang paling bebas.Walaupun kebanyakan orang mau bersikap
intoleran,
bila seseorang memilih untuk mengadopsi nilai
toleran(si)
maka siapa pun, bahkan langitpun, tidak akanmenghalang-halanginya; demikian sebaliknya.Upaya untuk merekonstruksi aspek konseptual dari toleransi ini akandiupayakan bersumber dari salah satu ajaran agama, yaitu Islam, sebagai salah satuagama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Dalam Islam, istilah toleransidikenal dengan istilah
tasamuh.
Di antara kedua istilah ini, yakni tasamuh dantoleransi, terdapat sisi yang sama, namun memiliki perbedaan konteks dan fungsipada sisi lain, sebagaimana akan dijelaskan tulisan ini. Namun, secara sederhana dapatdikatakan bahwa toleransi (
samahah atau tasamuh
) adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antarakelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya,politik, maupun agama. Toleransi, karena itu, merupakan konsep agung dan muliayang sepenuhnya menjadi bagian organik dari ajaran agama-agama, termasuk agamaIslam. Dalam bagian akhir tulisan ini akan dijelaskan rancangan upaya penanamannilai dan pembiasaan (pendidikan) karakter toleran(si) pada setiap individu bangsa ini.
B.

Konsep Dasar Tasamuh dalam Islam1.

Pengertian

Tasamuh
:
Penelusuran

Linguistik

Kata
tasamuh
seringkali diidentikkan dengan kata
toleran
(toleransi). Namun,pengidentikkan tersebut tidak sepenuhnya memadai, karena jika ditelusuri secaramendalam, kedua kata tersebut mempunyai makna yang "agak" berbeda atauditemukan sebuah konteks-situasi yang sama sekali sangat berbeda dari penggunaankedua kata tersebut. Tidak ada kata bahasa Inggris dan Indonesia yang sepadan untuk mengartikan apa yang secara tradisional dipahami sebagai
tasamuh
dalam bahasa Arab.Namun demikian, kata yang dipergunakan untuk mendekatkan kata
tasamuh
ini adalahtoleran(si), yang telah menjadi istilah mutakhir bagi
tasamuh
. Dalam bahasa Arabtoleransi biasa disebut "ikhtimal, tasamuh" yang artinya sikap membiarkan, lapang dada (
samuha
- yasmuhu - samhan, wasimaahan, wasamaahatan, artinya: murah hati,suka berderma) (al-Munawwir, 1994:702). Jadi toleransi (tasamuh) beragama adalahmenghargai, dengan sabar menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau

kelompok lain. Bentuk akar dari kata ini mempunyai dua macam konotasi: 1.
Jud wa karam
(kemurahan hati) dan
tasahul
(kemudahan). Karena itu, ketika kaum musliminberbicara tentang
tasamuh al-Islam
dan
tasamuh al-dini,
keduanya sangat berbeda dengantoleran(si) yang dipahami oleh Barat. Dengan kata lain, konsep tasamuh dalam Islamjelas berbeda dengan gagasan dan praktik toleransi yang ada di Barat.
Toleransi
(
tolerance
) ansich berasal dari kata ‘
tolere’
(bahasa
Latin
) yang artinya
memikul
, atau
mengangkat beban
. Kata tolerasi dalam bahasa Belanda adalah"tolerantie", dan kata kerjanya adalah "toleran". Sedangkan dalam bahasa Inggeris,adalah "toleration" dan kata kerjanya adalah "tolerate". Toleran mengandung pengertian: ber-sikap mendiamkan. Adapun toleransi adalah suatu sikap tenggang rasa kepada sesamanya (Sulchan Yasin, dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, hal389). Indrawan WS menjelaskan pengertian toleran adalah menghargai paham yang ber-beda dari paham yang dianutnya sendiri. Kesediaan untuk mau menghargaipaham yang berbeda dengan paham yang dianutnya sendiri (Kamus Ilmiyah Populer,1999: 144). Sedang dalam
Kamus Umum Bahasa Indonesia
, W.J.S Poerwadarmintamendefini-sikan toleransi: "sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan,membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercaya-an, kebiasaan, kelaku-andsb.) yang lain atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri, misalnya toleransiagama (ideologi, ras, dan sebagainya).Toleransi sebagai nilai moral bermakna kemampuan untuk
memikul

beban
terhadap adanya perbedaan pendapat, keyakinan, sikap dan perilaku orang lain;termasuk di dalamnya kemampuan untuk memikul ‘beban mental’ terhadap“kehadiran” secara nyata kelompok yang berpendapat atau berkeyakinan lain. Apalagikalau kelompok tersebut berpendapat atau berkeyakinan yang jauh ‘berseberangan’ -atau ‘berbeda’ seperti langit dan bumi - dengan pendapat atau keyakinan sendiri ataukaum. Dalam konteks komunal Barat, kata “toleransi” (
tolerance
) juga itumenunjukkan adanya sebuah otoritas berkuasa, yang dengan enggan bersikap sabaratau membiarkan orang lain yang berbeda. Toleransi di barat lahir karena perang-perang agama pada abad ke-17 telah mengoyak-ngoyak rasa kemanusiaan sehingganyaris harga manusia jatuh ke titik nadir. Latar belakang itu menghasilkankesepakatan-kesepakatan di bidang Toleransi Antar-agama yang kemudian meluas keaspek-aspek kesetaraan manusia di depan hukum.Dalam Islam kata “tasamuh” yang disepadankan dengan kata
toleransi
justrumenunjukkan adanya
kemurahan

hati
dan
kemudahan
dari kedua belah pihak atas dasarsaling pengertian. Istilah itu selalu dipergunakan dalam bentuk resiprokal atauhubungan timbal balik antara kedua belah pihak. Dengan demikian
tasamuh
(toleran)dalam Islam bisa dimaknakan membangun sikap untuk saling menghargai, saling menghormati, saling memberi, saling membantu, dan saling memberi kemudahanantara satu dengan lainnya. Dengan demikian,
tasamuh
(toleransi) adalah "Sikap(akhlak) dengan teraktualisasi dengan saling berlaku baik, lemah lembut, membantu,dan saling pemaaf." Dalam pengertian istilah umum,
tasamuh
adalah "sikap (akhlak)terpuji dalam pergaulan, yang didasari rasa saling memahami dan saling menghargaiantara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran Islam dankesepakatan bersama (
kalimat al-sawa
)."Yang dimaksud dengan kalimat al-sawa di sini adalah konvensi ataukesepakatan bersama di antara pemeluk agama atau setiap anggota masyarakat.Dalam sejarah Islam, kalimat al-sawa ini diwujudkan oleh Rasulullah dalam bentuk piagam
Madinah. Kalimat

al
-
Sawa
ini juga dapat dimaknai sebagai ”kerelaan umat Islam


ketika menghilangkan tujuh kata dalam
Preambule
UUD 1945 pada masa prosesperumusan konstitusi Bangsa Indonesia. Dalam hal ini, toleransi dapat dimaknaisebagai ”kemauan untuk memahami dan menjalankan berbagai aturan dankesepakatan yang dimaksudkan untuk menjaga kebersamaan, persaudaraan,kedamaian, kemanaan, dan keutuhan bangsa dan negara”.Dalam Islam pun, toleransi dapat dikaitkan dengan konsep
hanifiyah al-samhah
(mudah, lurus, dan lapang). Dalam sebuah hadits disebutkan mengenai konsep ini.Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. pernah ditanya, "Agama apa yang paling dicintaioleh Allah Azza wa Jalla? Beliau menjawab, "
al
-
Hanifiyah

al
-
Samhah
" (lurus dan yang mudah). Oleh karena itu, Ibnu Abbas meriwayatkan, beliau ditanya tentang seorang lelaki yang meminum susu murni, apakah dia harus berwudlu ? Beliau menjawab,"Bermudahlah niscaya engkau akan diberi kemudahan." Yakni gampangkanlah nicayaAllah akan memberi keringanan untukmu dan atasmu [Ibn Mandzur, t.t., 2/498]
2.

Asas

Tasamuh

dalam

Islam

Secara doktrinal, toleransi sepenuhnya diharuskan oleh Islam. Islam secaradefinisi adalah “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri”. Definisi Islam yang demikian sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama
rahmatal lil’ālamîn
” (agamayang mengayomi seluruh alam). Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapussemua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agamadan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, “dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulahberiman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak)memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”Pada bagian lain Allah mengingatkan, yang artinya: “Sesungguhnya ini adalahumatmu semua (wahai para rasul), yaitu umat yang tunggal, dan aku adalah Tuhanmu,maka sembahlah olehmu sekalian akan Daku (saja). Ayat ini menegaskan bahwa padadasarnya umat manusia itu tunggal tapi kemudian mereka berpencar memilihkeyakinannya masing-masing. Ini mengartikulasikan bahwa Islam memahami pilihankeyakinan mereka sekalipun Islam juga menjelaskan “sesungguhnya telah jelas antarayang benar dari yang bathil”.Selanjutnya, dalam QS Yunus, Allah menandaskan lagi, yang artinya: “Katakanolehmu (ya Muhamad), ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan(
kalimatun sawā
atau
common values
) antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak pula memperserikatkan-Nya kepada apa pun, danbahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan”selain Allah!” Ayat ini mengajak umat beragama (terutama Yahudi, Kristiani, danIslam) menekankan persamaan dan menghindari perbedaan demi merengkuh rasasaling menghargai dan menghormati. Ayat ini juga mengajak untuk sama-samamenjunjung tinggi tawhid, yaitu sikap tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya.Jadi, ayat ini dengan amat jelas menyuguhkan suatu konsep toleransi antar-umatberagama yang didasari oleh kepentingan yang sama, yaitu ‘menjauhi konflik’.Selain itu, hadits Nabi tentang persaudaraan universal juga menyatakan,“
irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fil samā
” (sayangilah orang yang ada di bumimaka akan sayang pula mereka yang di lanit kepadamu). Persaudaran universaladalah bentuk dari toleransi yang diajarkan Islam. Persaudaraan ini menyebabkanterlindunginya hak-hak orang lain dan diterimanya perbedaan dalam suatu masyarakat

Islam. Dalam persaudaraan universal juga terlibat konsep keadilan, perdamaian, dankerja sama yang saling menguntungkan serta menegasikan semua keburukan.Oleh karena itu, Islam memberikan penjelasan-penjelasan akan pentingnyamembina hubungan baik intra umat Islam dan antar umat beragama. Islam begitumenekankan akan pentingnya saling menghargai, saling menghormati dan saling berbuat baik antara sesama muslim dan kepada umat yang lain. Berdasarkan haltersebut, terdapat beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai azas pemberlakuan konsep
tasamuh
(toleran) dalam Islam ini adalah sebagai berikut.
Pertama
, keyakinan umat Islam bahwa manusia itu adalah makhluk yang muliaapapun agama, kebangsaan, dan warna kulitnya. Firman Allah SWT: “Dan sungguhtelah kami muliakan anak-anak Adam (manusia)” (QS. Al-Isra’ [17]:70), makakemuliaan yang telah diberikan Allah SWT ini menempatkan bahwa setiap manusiamemiliki hak untuk dihormati, dihargai, dan dilindungi. Imam Bukhari dari Jabir ibnAbdillah bahwa ada jenazah yang dibawa lewat dihadapan nabi Muhammad saw. lalubeliau berdiri untuk menghormatinya. Kemudian ada seseorang memberitahukankepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya itu jenazah Yahudi.” Beliaumenjawab dengan nada bertanya, “Bukankah ia juga manusia?”.
Kedua
, keyakinan umat Islam bahwa perbedaan manusia dalam memeluk agamaadalah karena kehendak Allah, yang dalam hal ini telah memberikan kepadamakhluknya kebebasan dan ikhtiyar (hak memilih) untuk melakukan ataumeninggalkan sesuatu. Allah SWT berfirman, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentuDia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisihpendapat” (QS Hud [11]:118). Namun, prinsip yang mengakar paling kuat dalampemikiran Islam yang mendukung sebuah teologi toleransi adalah keyakinan kepadasebuah agama fitrah, yang tertanam di dalam diri semua manusia, dan kebaikanmanusia merupakan konsekuensi alamiah dari prinsip ini. Dalam hal ini, al-Qur’anmenyatakan yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama menurut cara(Alla); yang alamiah sesuai dengan pola pemberian (fitrah) Allah, atas dasar mana Diamenciptakan manusia”. Al-Baidhawi ketika menafsirkan ayat di atas menegaskanbahwa kalimat itu merujuk pada perjanjian yang disepakati Adam dan keturunanya.Perjanjian ini dibuat dalam suatu keadaan, yang dianggap seluruh kaum Muslimsebagai suatu yang sentral dalam sejarah moral umat manusia, karena semua benihumat manusia berasal dari sulbi anak-anak Adam. Penegasan Baidhawi sangat relevanjika dikaitkan dengan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi ditanya: “Agamayang manakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab “agama asal mula yang toleran (
al-hanîfiyyah al-samhah
). Dilihat dari argumen-argumen di atas, menunjukkanbahwa baik al-Qur’an maupun Sunnah Nabi secara otentik mengajarkan toleransidalam artinya yang penuh.
Ketiga
, orang muslim tidak diberikan tugas untuk menghisab orang kafir karenakekafirannya. Persoalan ini bukanlah menjadi tugasnya, itu adalah hak prerogatif Allah SWT. Hisab bagi mereka adalah di
yaum al-hisab
atau
yaum al-qiyamah
. AllahSWT berfirman: “Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah: Allah lebihmengetahui tentang apa yang kamu kerjakan. Allah akan mengadili di antara kamupada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selisih pendapat karenanya” (QS.al-Hajj [22]: 68-69).
Keempat
, keimanan orang muslim bahwa Allah menyuruh berlaku adil danmenyukai perbuatan adil serta menyerukan akhlak yang mulia sekalipun terhadapkaum kafir, dan membenci kezaliman serta menghukum orang-orang yang bertindak


zalim, meskipun kezaliman yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap seorang yang kafir. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadapsuatu kamu mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berbuat adillah, karena adilitu lebih dekat kepada taqwa” (QS al-Maidah [5]: 8).
Kelima
, ajaran Islam tidak pernah memaksa umat lain untuk menjadi muslimapalagi melalui jalan kekerasan. Allah SWT berfirman, “Tidak ada paksaan dalamagama” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).
1
Islam memang agama dakwah. Dakwah dalamajaran Islam dilakukan melalui proses yang bijaksana. Allah SWT berfirman, “Serulahke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik dan bantahlah merekadengan cara yang lebih baik” (QS. Al-Nahl [16]: 125). Tidak diragukan lagi bahwaIslam adalah agama yang toleran. Dalam artian, agama yang senantiasa menghargai,menghormati dan menebar kebaikan di tengah umat yang lain (
rahmat

li al’alamin
).
Keenam
, agama Islam diturunkan sesuai dengan kemampuan manusia. Hukum-hukum Islam dibangun di atas kemudahan dan tidak menyulitkan, norma-normaagama ini seluruhnya dicintai (oleh Allah) namun yang mudah dari itu semualah yang paling dicintai oleh Allah. Firman Allah, "Allah menghendaki kemudahan bagimu dantidak menghendaki kesukaran bagimu" (QS Al-Baqarah [2]:185). Oleh sebab itu, tidak boleh mempersulit diri dalam menjalankan agama Allah dan tidak boleh pulamembuat sulit hamba-hamba Allah. Tiada seorangpun yang mempersulit agama inimelainkan dia pasti akan kalah. Al-Qur’an menjelaskan bagaimana perbuatan BaniIsrail, tatkala mereka mempersulit diri, Allah-pun mempersulit mereka. Kalauseandainya mereka mempermudahnya, niscaya mereka akan diberi kemudahan.


3.

Komponen

Dasar

Tasamuh

Sebagaimana dipaparkan di bawah bahwa tasamuh (toleransi) dalam Islammempunyai dua komponen utama, yaitu kemurahan hati (
jud

wa

karam
) dankemudahan (
tasahul
). Dengan demikian, individu yang samhah/tasamuh(toleran)berarti individu yang memiliki kemurahan hati dan yang memberikemudahan. Kedua komponen ini mempersyaratkan agar setiap individu a) Mengakuihak setiap orang, b) menghormati keyakinan orang lain, c). Lapang dada menerimaperbedaan, d). Saling pengertian, dan e) Kesadaran dan kejujuran.Mengeksplorasi dua komponen tersebut, Salim bin Hilali memerinci lebih detailkarakteristik individu yang
samhah
/
tasamuh
(toleransi) sebagai berikut, yaitu antara lainindividu yang memiliki, 1) kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan, 2)kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan, 3) kelemah-lembutan karenakemudahan, 4) muka yang ceria karena kelapangan dan kegembiraan, 5) rendah hati

1

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut: ”Janganlah memaksa seorangpun untuk masuk Islam.Islam adalah agama yang jelas dan gamblang tentang semua ajaran dan bukti kebenarannya, sehinggatidak perlu memaksakan seseorang untuk masuk ke dalamnya. Orang yang mendapat hidayah, terbuka,lapang dadanya, dan terang mata hatinya pasti ia akan masuk Islam dengan bukti yang kuat. Danbarangsiapa yang buta mata hatinya, tertutup penglihatan dan pendengarannya maka tidak layak baginya masuk Islam dengan paksa. Ibnu Abbas mengatakan ayat "
la

ikraha fi al-din
" diturunkanberkenaan dengan seorang dari suku Bani Salim bin Auf bernama Al-Husaini bermaksud memaksakedua anaknya yang masih kristen. Hal ini disampaikan pada Rasulullah saw, maka Allah menurunkanayat tersebut. Demikian pula Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa telah berkata bapakku dari Amrbin Auf, dari Syuraih, dari Abi Hilal, dari Asbaq ia berkata, "Aku dahulu adalah
’abid
(hamba sahaya)Umar bin Khaththab dan beragama Nasrani. Umar menawarkan Islam kepadaku dan aku menolak.Lalu Umar berkata:
la ikraha fi al-din
, wahai Asbaq jika anda masuk Islam kami dapat minta bantuanmudalam urusan-urusan muslimin" (Ibnu Katsir, t.t., I/383)


(
tawadhu’
) dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan, tetapi karena saling menghargai dan ta’at kepada Allah 6) memberi kemudahan (
tasahul
) dalamberhubungan sosial (
mu'amalah
) tanpa penipuan dan kelalaian, 7) Menggampangkandalam berda'wah ke jalan Allah tanpa basa-basi, 8) Terikat dan tunduk kepada agamaAllah Subhanahu wa Ta'ala tanpa ada rasa keberatan. Selanjutnya, menurut Salim al-Hilali, jika karakteristik tersebut itu dapat terpenuhi maka toleransi merupakan [a] IntiIslam, [b] Seutama iman, dan [c] Puncak tertinggi budi pekerti (akhlaq).Dalam konteks ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda, “Sebaik-baik orang adalah yang memiliki hati yang
mahmum
dan lisan yang jujur. Ditanyakan,’Apa hati yang
mahmum
itu? Jawabnya, 'Adalah hati yang bertaqwa, bersih tidak adadosa, tidak ada sikap melampui batas, dan tidak ada rasa dengki'. Ditanyakan, ’Siapalagi (yang lebih baik) setelah itu?. Jawabnya, 'Orang-orang yang membenci dunia dancinta akhirat'. Ditanyakan : Siapa lagi setelah itu? Jawabnya, 'Seorang mukmin yang berbudi pekerti luhur."Dasar-dasar al-Sunnah (Hadis Nabi) tersebut dikemukakan untuk menegaskanbahwa toleransi dalam Islam itu sangat komprehensif dan serba-meliputi. Baik lahirmaupun batin. Toleransi, karena itu, tak akan tegak jika tidak lahir dari hati, daridalam. Ini berarti toleransi bukan saja memerlukan kesediaan ruang untuk menerimaperbedaan, tetapi juga memerlukan pengorbanan material maupun spiritual, lahirmaupun batin. Di sinilah, konsep Islam tentang toleransi (
al
-
samahah
) menjadi dasarbagi umat Islam untuk melakukan
mu’amalah
(
habl min al-nas
) yang ditopang olehkaitan spiritual kokoh (
habl min Allāh
).Misalnya, Rasulullah bersikap toleran terhadap pada budak dari Habasyah.

DariAisyah Radliyallahu 'anha dia menceritakan : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallammemanggilku sementara anak-anak Habasyah bermain tombak di masjid pada hariraya, beliau menawariku : "Wahai Humairo ! Apakah engkau suka melihat permainanmereka ?" Jawabku : Ya !. Maka beliau menyuruhku berdiri di belakangnya, lalu beliaumenundukkan kedua pundaknya supaya aku dapat melihat mereka, akupunmeletakkan daguku di atas pundak beliau dan menyandarkan wajahku pada pipibeliau, lalu akupun melihat dari atas kedua pundak beliau, sementara itu beliaumengatakan : "Bermainlah wahai bani Arfadah !" Kemudian selang setelah itu beliaubertanya : "Wahai Aisyah ! Engkau sudah puas ?" Kataku : "Belum" Supaya akumelihat kedudukanku disisi beliau, hingga akupun puas. Kata beliau : "Cukup?"Jawabku : "Ya". Beliau berkata : "Kalau begitu pergilah!". Aisyah berkata : "LaluUmar muncul, maka orang-orang dan anak-anak tadi berhamburan meninggalkanmereka (Habasyah), Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Saya melihat parasyaithan manusia dan jin lari dari Umar". Aisyah mengatakan : Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam ketika itu bersabda. "Artinya : Supaya orang Yahudi tahu bahwapada agama kita ada keleluasaan, aku diutus dengan Al-Hanifiyah (agama yang lurus)As-Samhah (yang mudah)". [Muttafaq 'Alaihi, kecuali lafadh yang dijadikan dalil yang diriwayatkan oleh Ahmad 6/116 dan 233 dan Al-Humaidi 254 dengan sanad yang shahih]. 4.

Batas Tasamuh (Toleransi) dalam IslamHari ini, Islam dicurigai sebagai agama yang tidak toleran. Hari ini juga makna
tasamuh
dan
toleran
juga telah disalah-artikan sehingga akhirnya agama menjadi objek permainan. Tugas bersama bagi kita adalah memahamkan kembali tentang konsep
tasamuh
dan
toleransi
dalam Islam secara benar. Kesalahan memahami arti toleransi

dapat mengakibatkan
talbisul haq bil bathil
(mencampuradukan antara hak dan batil),suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, seperti halnya nikahantar agama yang dijadikan alasan adalah tole-ransi padahal itu merupakan sikapsinkretis yang dilarang oleh Islam. Setiap individu, terutama Muslim, harus mampumembedakan antara sikap toleran dengan sinkretisme. Sinkretisme adalahmembenarkan semua keyakinan/agama. Hal ini dilarang oleh Islam karena termasuk Syirik. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah hanyalah Islam". (QS. Ali Imran: 19). Sinkretisme mengandung
talbisul haq bil bathil
(mencampurkan yang haq dengan yang bathil). Sedangkan toleransi tetapmemegang prinsip
al-furqon bainal haq wal bathil
(me-milah/memisahkan antara haq dan bathil). Toleransi yang disalahpahami seringkali mendorong pelakunya pada alamsinkretisme. Gambaran yang salah ini ternyata lebih do-minan dan bergaung hanyademi kepentingan kerukunan agama.Sudah tentu sikap toleransi ini pun bukannya tanpa batas, sebab toleransi yang tanpa batas bukanlah toleransi namanya, melainkan"luntur iman." Batas toleransi ituialah,
pertama
: apabila toleransi kita tidak lagi disambut baik atau ibarat "bertepuk sebelah tangan," di mana pihaklain itu tetap memusuhi apalagi memerangi Islam.Kalau sudah sampai"batas" ini, kita dilarang menjadikan mereka sebagai temankepercayaan. Firman Allah SWT, "Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai kawan kalianorang-orang yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian darinegeri kalian, dan membantu (orang lain) untuk mengusir kalian. Danbarangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang zhalim." (Q.S. Al-Mumtahanah : 9). Akan tetapi hal ini tidak lantas berarti bahwa kita boleh langsung membalas,melainkan lebih dulu menghadapinya dengan pendekatan untuk "memanggil" ataumenyadarkan. Bukankah Islam mengajarkan ummatnya agar menolak kejahatandengan cara yang baik? "Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan)dengancara yang lebih baik, sehingga orang yang antaramu dengannya adapermusuhan itu seolah-olah menjadi teman yang setia." (Q.S. Al-Fushshilat :34). Apalagi kalau yang "memusuhi" aqidah kita adalah orang tua kitasendiri, makapenolakannya harus dengan cara yang lebih baik lagi dan tetap bersikap sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua (
birru al-walidain
). Dengan kata lain, sekali punberbeda agama atau keyakinan dengan orang tua, namun dalam hubungan antarmanusia (hablun min an-nas), harus tetap baik. Setiap anak harus berbakti kepadakedua orang tuanya. Akan tetapi kalau orang tua memaksa anak untuk berbuat syirik,maka "fala tuthi'huma!" (jangan sekali-kali kamu ikuti), dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik -- demikian firman Allah dalam surat Luqman : 15.
C.

Tipologi Tasamuh
1.

Tipologi

Tasamuh Berdasarkan Subjek
Berdasarkan subjeknya, setidak-tidaknya terdapat tiga macam
tasamuh
, yaitutasamuh kepada dirinya, antar sesama muslim, dan terhadap non-muslim.
Pertama
, tasamuh terhadap Diri Sendiri. Jikan tasamuh telah melekat pada diri sendiri, maka iaakan bersifat toleran kepada dirinya, yakni ia akan memenuhi kebutuhan fisiknyasecara baik, adil, dan proporsional, seperti makan makanan yang sehat, baik, danproporsional; ia akan tidur, bekerja, olah raga, dan aktivitas lainnya yang membuatdirinya sehat dan kuat (
basthah

fi

al
-
jism
. Ia pun akan memenuhi kebutuhan ruhaninya(
basthah

fi

al
-
’ilm
), seperti menuntut ilmu dengan berbagai cara, di mana pun, dankapan pun.
Kedua
, tasamuh pada sesama muslim (
tasamuh

fi

al
-
Islam
). Kemalakatan
tasamuh
dalam dirinya pun akan diaktualisasikan kepada sesama muslim dengan sikap danperilaku tolong menolong, saling menghargai, saling mengasihi, saling menyayangi,saling menasehati, dan saling tidak curiga-mencurigai. Sifat ini ekuivalen dengan
ukhuwah fi al-Islam atau ukhuwah al-Islamiyyah
. Tolerasi ini yang biasa kita sebut (
bagi kamu amalan kami dan bagi kalian amalan kalian
). Misalnya; Ada yang shalat shubuhdengan membaca qunut dan ada yang tidak. Semua itu adalah alternatif. Dulu, parapemimpin Muhammadiyah dan NU itu tidak meributkan masalah qunut karenasama-sama ngerti, misalnya pada zaman Idham Khalid dan Buya Hamka. Sekarang,anak-anak Nu dan Muhammadiyah juga tidak ribut soal qunut karena sudah tidak shalat shubuh, berarti qunutnya lewat. Ini adalah
tasamuh
(toleransi) di antaramuslimin. selama tidak ada
inhiraf
(keluar dari batas syari'at). Tasamuh bisa diartikanmau memegangi pendapat sendiri, akan tetapi mau mengerti pendapat saudaranyasesama muslim. Jadi, jangan memonopoli kebenaran, kecuali yang bersifat
qath'iy
.Kalau masih bersifat
dzanny
, yaitu sesuatu yang termasuk daerah pemikiran dandaerah ijtihad, maka harus ada keseimbangan di antara ilmu dan toleransi.Ketiga,
tasamuh
terhadap Non-Muslim (
tasamuh

fi

al
-
dini
).
Tasamuh
terhadapmanusia non muslim, seperti menghargai hak-hak mereka selaku manusia dananggota masyarakat dalam satu negara. Dengan kata lain, individu yang toleransimenjalankan dasar dan prinsip-prinsip: 1. Ia mampu bertetangga secara baik; 2. Iamampu saling membantu dalam menghadapi musuh bersama; 3. Ia mampu membelamereka yang teraniaya; 4. Ia dapat saling menasehati, dan 5. Ia menghormatikebebasan beragama.Ajaran Islam tentang toleransi beragama atau hubungan antar ummat beragamaini meliputi lima ketentuan, yakni.
Pertama
, ia tidak memaksa orang lain dalamberagama, "Tidak ada paksaan dalam agama karena) sesungguhnya telah jelas jalanyang benar dari jalan yang salah." (Q.S. Al-Baqarah : 256).
Kedua
, ia mengakuieksistensi agama lain serta menjamin adanya kebebasan beragama, sebagaimanadigariskan dalam Q.S. Al-Kafirun ayat 1-6.
Ketiga
, ia tidak mencela atau memaki sesembahan mereka (Q.S. Al-An'am : 108).
Keempat
, ia tetap berbuat baik dan berlaku adil selama mereka tidak memusuhi (Q.S.Al-Mumtahanah 8-9; Q.S. Fushshilat : 34).
Kelima
, ia memberi perlindungan ataujaminan keselamatan. Pesan Nabi SAW, "Barangsiapa menyakiti orang dzimmiberarti ia menyakiti diriku!"Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi jugaterhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup. Dengan makna toleransiyang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islammemperoleh perhatian penting dan serius. Apalagi toleransi beragama adalah masalahyang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Ia begitu sensitif,primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dariIslam.


2.

Tipologi Tasamuh berdasakan Level-Subjek
Berdasarkan level-subjeknya, tasamuh dapat dibagi menjadai tiga bagian pula,yakni a) tasmuh pada level individu, b) tasamuh pada level umat beragama, dan c)tasamuh pada level bangsa atau negara.
Pertama, tasamuh pada Level Individual.
Tasamuh jenis ini adalah sifat dan sikaptoleran antar individu yang seagama, sesuku dan sebangsa, dan atau antar berbedaagama, suku, dan bangsa. Setiap individu, apapun warna kulit, bahasa, suku, bangsa,dan agamanya, mempunyai posisi yang sama dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa, bernegara, dan beragama. Selama saling membantu, mengasihi, danmenyayangi, tidak saling bermusuhan, menindas, dan merugikan, mereka adalah satudan wajib dayomi dan dilindungi. Mereka berhak untuk beraktivitas dan mencarikebahagian hidup di bumi Allah ini.
Kedua, tasamuh pada Level Ummat.
Jika tasamuh telah tertanam pada setiapindividu (mayoritas umat Islam), maka ia akan menjelma menjadi ummat yang toleran(
ummat

samhah
). Tasamuh pada tingkat ummat seringkali berkaitan dengankeberadaan pluralitas (Arab:
ta’addud
). Dalam tulisan ini, pluralitas dimaknai sebagaikeberadaan toleransi keragaman kelompok-kelompok etnis (psiko-biologis),pandangan hidup, sosial, dan budaya dalam suatu tatanan masyarakat atau negara,keragaman kepercayaan dan atau sikap yang ada pada suatu badan, institusi,masyarakat, dan negara (bandingkan dengan Masykuri Abdullah, 1999:146).
2

Ketiga
, tasamuh antar bangsa dan negara. Jika pada level ummat telah terbentuk
tasamuh
(toleran), maka Indonesia akan menjelma menjadi bangsa dan negara yang memiliki al-
samahah
(bangsa dan negara yang toleran). Dalam hal ini, jika toleransiantar negara dan bangsa dapat terwujud, maka diharapkan tidak ada lagi intervensi,hegemoni, dan peperangan (militer, budaya, peradaban,
aparthead
,
etnic

cleansing,
konflik perbatasan
).
Kedamaian, ketentraman, dan keamanan dapat diwujudkan olehsetiap negara yang dibangun di atas kesepahaman, kepentingan bersama, persatuan,dan kesatuan dunia. 3.

Tipologi Tasamuh Berdasarkan SifatnyaDilihat dari sifatnya, tasamuh dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yakni a)tasamuh aktif-positif, serta b) tasamuh pasif-negatif, c) Tasamuh aktif-negatif.
Pertama, Tasamuh Aktif dan Positif.
Toleransi yang diajarkan Islam bukanlahtoleransi yang pasif yang hanya sekedar "menenggang-rasa, lapang dada, dan hidupberdampingan secara damai"; tetapi lebih luas lagi, yaknibersifat aktif dan positif,yakni untuk berbuat baik dan berlaku adil. Agama Islam juga mengakui adanya orang-orang ahli kitab yang baik dan perlunya perlindungan tempat-tempat ibadah agamalain (Q.S. Al-Ma'idah [5]: 82; Q.S. Al-Hajj [22]: 40).
Kedua
,
Tasamuh Pasif dan Negatif. Tasamuh pasif adalah
tasamuh yang tidak menggerakkan seseorang untuk berbuat baik pada sesamanya. Sedangkan,
tasamuh


2

Salah satu kasus konflik internal umat Islam adalah antara Islam (
ahl Sunnah wa al-Jama’ah
)

versus Jemaah Ahmadiyah. Pasca SKB 3 Menteri (Dalam Negeri, Kejaksaan dan Agama) Jema’ahAhmadiyah Indonesia harus meluruskan kembali akidahnya secara benar dan jelas, tidak memberlakukan buku-buku panduan yang isinya penyimpangan dari ajaran Islam dan beralih ke kitab-kitab yang mu’tamad (yang layak diperpegangi oleh umat Islam dalam menafsirkan Alqur’an danHadits), membuka diri dan berbaur dengan umat Islam yang lain. Terakhir, pemerintah harus tetapaktif dalam mengkontrol efektifitas SKB agar berjalan maksimal.

negatif
adalah tasamuh terhadap perbuatan buruk atau salah dari orang lain; ataudengan term lain, tasamuh negatif ini adalah sikap
permisif
. Dalam Islam, sikappermisif dapat dikatakan sebagai
dayus.Ketiga
,
Tasamuh aktif-negatif
. Tasamuh ini adalah jenis tolernasi terhadapperbuakan buruk dan bahkan aktif melindungi atau membantu mewujudkannya.Misalnya, toleransi terhadap keberadaan lokalisasi, tempat perjudian legal dan illegal;merupakan contoh dari toleransi aktif-negatif yang diperagakan baik oleh individu,komunitas, suku, atau negara.Tasamuh jenis pertama adalah tasamuh yang dikehendaki dalam Islam atautasamuh yang islami dan positif. Sedangkan Tasamuh jenis kedua dan ketiga, adalahjenis tasamuh yang dilarang dalam Islam. Dengan kata lain, tasamuh kedua dan ketigaadalah tasamuh yang negatif dan keluar dari aturan Islam
D.

Signifikansi
Tasamuh
dalam Kehidupan Sehari-Hari1.

Tasamuh
dalam Kehidupan Sehari-Hari
Keistimewaan ajaran Islam tentang toleransi ini ialah bahwa toleransi Islambukanlah toleransi yang pasif, melainkan aktif dan positif. Ia bukan sekedar untuk "hidup berdampingan secara damai," melainkan lebih dari itu aktif dan positif, yakniberbuat baik dan berlaku adil sekali pun terhadap keyakinan orang lain. Di samping itu Islam juga memberi perlindungan kepada mereka dari ancaman penindasan.Secara konseptual, Islam memberi landasan toleransi -- yang merupakan "kata kunci"bagi terwujudnya kehidupan heterogen yang harmonis – sebagai salah satu sifat danciri yang menonjol ajaran Islam, dan sekaligus merupakan kekuatan Islam. Secarahistoris, sikap toleran dari kalangan Muslim terhadap agama lain, Islam dapatberkembang dengan pesat ke berbagai benua. Berkat toleransi Muslim ini pun, makapemeluk agama lain di negeri Muslim, termasuk Indonesia, dapat hidup tenteram,sebab mendapat perlakuan baik dari pemerintah Muslim.Toleransi dibutuhkan untuk menjamin kehidupan individual yang aman, bebasmengeluarkan pendapat positif-konstruktif, dan perilaku ketaatan terhadap ajaranagama dan norma positif kehidupan masyarakat. Toleransi juga merupakan salah satu
katalisator bagi penyelesaian perselisihan dan konflik. Karena Sikap toleran jugamenuntut adanya sikap mema’afkan. Sikap ini meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1)
al- ‘afwu
yaitu mema’afkan orang jika memang diminta, (2)
al-shafhu
yaitu mema’afkanorang lain walaupun tidak diminta, dan (3)
al-maghfirah
yaitu memintakan ampun padaAllah untuk orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya, seringkali sikap inibelum menjadi kebiasaan yang melekat, sehingga kesalahan-kesalahan kecil daripasangan suami/isteri dan anak kadangkala menjadi awal konflik yang berlarut-larut.Tentu saja “mema’afkan” bukan berarti “membiarkan” kesalahan terus terjadi, tetapimema’afkan berarti berusaha untuk memberikan perbaikan dan peningkatan.Hubungan komunikatif, dialogis, dan musyawarah yang harus dikedepankandalam keluarga dan masyarakat harus dilandasi pula oleh dua sikap dasar, yaitu sikaplemah lembut dan pemaaf sebagaimana tercermin dalam QS. al-Baqarah (2):233 danQS Âli Imrân (3):159.
Pertama,
yaitu sikap lemah lembut. Keluarga sakinah adalahkeluarga harmonis yang menerapkan sikap lemah lembut dalam bermusywarah.Sebab sikap ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Umumnyaanak-anak yang hidup dalam keluarga yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasicenderung memiliki harga diri yang tinggi, percaya diri, mudah menerima kritikan,mandiri, dan optimis.
3
Hal ini berbeda dengan anak yang hidup dalam suasanakeluarga yang otoriter dalam arti bahwa orang tua selalu memaksakan kehendak,bersikap keras dan kasar serta tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk ikutdalam menetapkan sikapnya, maka anak tersebut, umumna, akan memiliki harga diriyang rendah, pesimis, tidak suka dikritik, dan tidak mandiri.
Kedua
, memberi maaf dan membuka lembaran baru.
Maaf
secara harfiah berartimenghapus. Dengan demikian, memaafkan berarti menghapus bekas luka di ahtiakibat perlakuan pihak lain yang dinilai tidak wajar. Hal ini berarti bahwa dalamberkomunikasi khususnya dalam bermusyawarah dibutuhkan sikap pemaaf dengantidak membesar-besarkan hal yang sepele yang dilakukan oleh anggota keluarga.Kehidupan suami-istri tidak luput dari berbagai kelemahan, kesalahpahaman danpertengkaran kecil. Hal-hal ini akan dapat merenggangkan hubungan persahabatansatu sama lain. Pada saat salah seseorang dari suami-istri melakukan sesuatu hal yang menimbulkan kemarahan, maka langkah yang perlu disuburkan oleh yang lainnyaadalah menahan marah dan mudah saling memaafkan. Saling memaafkan satu samalainnya adalah kunci untuk memelihara persahabatan antara suami-istri.
2.

Tasamuh dalam
Konteks
Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Untuk bersikap toleran itu sama sekali bukan hal yang mudah, tetapi bukanhal yang mustahil. Dibutuhkan pembiasaan dan
rahmat ilahi
untuk mampumempertahankan sikap toleransi ini, terutama bila orang harus bersikap toleranterhadap pendapat, budaya, atau keyakinan yang memang terasa sangat asing – apalagi yang jelas-jelas bertentangan – dengan apa yang menjadi milik diri ataukelompok sendiri yang telah diyakini sejak dini. Dalam keluarga sendiri misalkansemua anggotanya menganut agama A. Bila kemudian ada seorang saja yang pindahke agama B, maka pastilah ia akan mendapat ‘tentangan keras’ dari yang keluarganya.

3
Salah satu tujuan musyawarah dalam al-Qur'an adalah untuk mengangkat martabat seseorang.Lihat Muhammad Fakhr al-Dîn bin Dhiya al-Dîn al-Razi,
Tafsîr al-Fakhr al-Râzî,
Beirut, Dâr al-Fikr,1994, jilid IX, halaman 69.



peneladanan dan pembiasaan. Yang pasti,
tasamuh
(toleransi) tidak bakal terbentuk lewat sekedar wacana atau ‘drilling’ dari atas. Anak-anak tidak mungkin mengadopsinilai toleransi bila orang tua mereka sendiri bersikap sangat tidak toleran, baik dikalangan keluarga sendiri maupun di masyarakat.Dalam skala tertentu, nilai
tasamuh
(toleransi) juga dapat dimaknai sebagaisemacam warisan keturunan keluarga besar. Seseorang sukar sekali bersikap
tasamuh
(toleran) bila dalam ‘memori kolektif’ keluarga besarnya tidak ada panutan yang mengadopsi nilai toleransi tersebut. Jika suatu kaum terkenal dengan mentalitaspremanisme, maka mereka cenderung bersikap ‘semau gue’ dan selalu ‘mau menang sendiri’; atau mereka cenderung ‘memakai kekerasan’ untuk menyelesaikan setiapmasalah, maka hampir dapat dipastikan akan jarang sekali terbentuk nilai toleransidalam diri anak-anak tersebut. Namun demikian - untungnya – pengadopsian suatunilai tidak tergantung pada faktor keturunan melainkan berdasarkan ‘pilihan pribadi’yang paling bebas. Walaupun kebanyakan orang mau bersikap tidak toleran bila kitasendiri memilih untuk mengadopsi nilai toleransi maka langitpun tidak mampumenghalang-halanginya.Pembelajaran dan pembiasaan yang paling awal, pertama, dan utama adalahkeluarga. Keluarga yang demokratis, dialogis, komunikatif, dan toleran merupakankeluarga yang mudah menanamkan dan membiasakan pada anak untuk tumbuhberkembang menjadi sosok anak yang memiliki karakter ”toleran”. Hanya persoalanumumny adalah bagaimana seorang anak dapat tumbuh berkembang menjadi pribadiberkarakter toleran dan berkarakter positif lainnya, yang secara naluriah menjalankankebaikan dan menampik keburukan? Perlukah anak diberi pendidikan budi luhur disekolah untuk menjadi pribadi berintegritas moral tinggi? Menurut Franz Magnis-Suseno berjudul
"Menjadi Manusia, Belajar dari Aristoteles",
hal tersebut tidak mutlak diperlukan
.
Bangsa Indonesia hidup dalam negara yang penuh keragaman, baik darisuku, agama maupun budaya. Untuk hidup damai dan berdampingan tentudibutuhkan toleransi satu sama lain. Rasa toleransi ini perlu ditanamkan pada anak-anak sedini mungkin. Lebih cepat diajarkan bertoleransi lebih baik bagiperkembangan jiwa anak-anak. Saat anak mulai bergaul dengan teman-temannya iaakan mulai merasakan perbedaan. Jika ia tidak diajarkan bertoleransi, maka nantinyaia bisa berkonflik dengan teman-temannya karena perbedaan.Sebagaimana penanaman nilai lainnya, sosialisasi dan internalisasi sifattasamuh (toleran) harus ditempuh melalui berbagai metode. Metode yang dimaksudterdiri dari 1) Metode pembelajaran komunikatif, 2) Metode keteladanan, 3) Metodepembiasaan, 4) Metode pembelajaran langsung, dan 5) metode penghargaan danhukuman. Metode lainnya adalah sebagaimana dirumuskan oleh al-Nahlawi, yakni 1)Metode
hiwar
(percakapan)
Qur’ani
dan
Nabawi
, 2) metode kisah Qur’ani dan Nabawi,3) metode
amtsal
(perumpamaan) Qur’ani dan Nabawi, 4) metode keteladanan, 5)metode pembiasaan, 6) metode
ibrah
dan mau’izah, dan 7) metode
targhib
dan
tarhib
(halaman 135). Setiap metode tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan. Olehkarena itu, penggunaan metode tersebut harus diversifikasi (dicampur atau silihberganti) dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan materi. Selain itu,berbagai metode tersebut harus didukung oleh instrument pembelajaran yang variatif pula. Selain itu pula faktor inisiatif, kreatifitas, dan inovasi guru diperlukan dalampendidikan dan pengajaran tersebut. Sebagai contoh, pendidikan dapat disampaikanmelalui metode
pupujian
(halaman 148) dan metode
wirid
(halam 149). Setidaknya


dalam makalah ini terdapat empat cara bagaimana mengajarkan toleransi pada buahhati. 1.

Perkenalkan keragaman
Orang tua atau guru dapat mulai dengan memberi pengertian bahwa adaberagam suku, agama dan budaya. Beritahukan pada buah hati (peserta didik)meskipun orang lain memiliki agama, bahasa, suku, atau warna kulit yang berbeda,manusia sebenarnya sama dan tidak boleh dibeda-bedakan. Memperkenalkankeragaman sedini mungkin nantinya dapat memupuk jiwa toleransi buah hati agarlebih memandang perbedaan yang ada secara lebih bijak, ‘Keragaman dan perbedaanitu harus ditanamkan dan dipandang sebagai keindahan dan bukan untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian. Sikap ini dapat direfleksikan melalui,misalnya pada hal-hal berikut:


Menerima keberadaan anak dan fikirannya
, dan siap mendengarkan keluh-kesahanak tanpa ragu dan malu. Untuk itu, maka kedua orang tua harus mengertisatu permasalahan penting, yaitu bahwa Allah ta'alaa menciptakan anak kecildengan kepribadian dan kemampuan yang masing-masing berbeda. Apabila kitamendapati seorang anak tersinggung karena cemoohan anak lain, atau mungkintakut sekali. Maka, pada saat itu tidak ada gunanya orang tua mengatakankepada anaknya "kamu mudah tersinggung" atau "kamu penakut" atau "SiFulan lebih baik daripada kamu". Kedua orang tua harus bisa meyakinkanbahwa ia mencintai dan menerima keberadaan anak tersebut. Dan tidak menjadi syarat untuk mencintai anaknya, orang tua menjadi ahli motivator ataubrilian, akan tetapi yang dibutuhkan adalah ia bisa membantu anaknya dalammenyelesaikan masalah yang ditemuinya.


Menerima seaneh apapun ide dan buah fikiran
yang baru dari anak-anaknya. Banyak terjadi pada para orang tua memaksakan keinginan dan kesukaan dirinya. Halini bisa menghilangkan kesempatan bagi anak-anak untuk bisa mengambilmanfaat dari pendapat dan pengalaman orang lain, dalam hal ini, maka seorang anak akan kehilangan kesempatan untuk memenuhi keinginan orang tuanyauntuk memperhatikan diri dan pendapatnya.


Mengundurkan pemberian sanksi
di saat waktunya sempit. Ketika seorang anak berbuat salah, maka ia berhak untuk diajak diskusi dan memperoleh penjelasantentang sanksinya. Sebab, sanksi yang akan diberikan tidak boleh dilaksanakandi bawah hitungan waktu. Misalnya, seorang ayah memulai diskusi tentang masalah yang terjadi itu 5 menit sebelum waktu tidur. Pada kejadian seperti ini,maka sebaiknya pembicaraan dilakukan besoknya saja, dengan tetap seriusuntuk tidak melupakan masalah itu berjalan tanpa ada penyelesaiannya. Maka,berfikir ulang di bawah hitungan waktu untuk memperoleh sanksi yang relevanadalah sesuatu yang sulit tercapai. Sebaliknya, mengakhirkan memberikesempatan kepada semua untuk memikirkan apa yang seharusnya dikerjakanakan memberikan petunjuk dan hikmah yang besar.2.

Menjauhi Kebiasaan Membeda-bedakan
Ajarkan pada buah hati kalau perbedaan yang ada tidak disikapi dengankebencian. Karena, kebencian akan membuat sedih dan menyakiti hati orang lain.Cobalah ajak buah hati (peserta didik) untuk berandai-andai jika ia dibenci karena

perbedaan, tentu akan merasa sedih. Dengan begitu ia lebih merasa empati danbertoleransi dengan apa yang dirasakan orang lain.
4
Setiap anak memiliki kemampuan yang tidak sama dalam menunjukkanketidaksukaan. Terkadang ada yang sangat pandai menyembunyikan pengaruhkesalahannya daripada anak-anak lain anak dengan cara melakukan gerakan-gerakanyang dibuat-buat dan suka main-main. Jika terjadi masalah diantara kedua anaknya,maka kebanyakan kita cenderung menyalahkan anak kedua dan sebagai penyebabmasalah tersebut sebagaimana kita ketahui dari perilakunya tanpa melihat kepada intimasalah yang terjadi. Hal ini adalah diantara pendorong anak pertama untuk selalumenipu karena ia merasa diuntungkan pada kasus ini, dan anak kedua merasatertekan dan rugi karena didhalimi.
3.

Beri Ketauladanan (
modeling
)
Anak adalah duplikasi dari perilaku orang tua, guru, dan lingkungan lainnya.Jika orang tua, guru, dan lingkungan lainnya berbuat baik, maka anak biasanya jugaakan mengikuti untuk berbuat baik. Dalam hal ini, orang tua atau guru jangan hanyamemberi tahunya lewat kata-kata, tetapi juga contoh nyata. Jika bertemu seseorang menggunakan simbol agama yang cukup ekstrim atau seseorang yang memiliki warnakulit berbeda, jangan memandangnya dengan penuh keanehan apalagi mengatakansesuatu bernada kebencian dan ledekan. Ingatlah bahwa orang tua atau guru adalahcontoh bagi buah hati (peserta didik). Bersikaplah seperti biasa dan jika buah hatibertanya berikan penjelasan yang bijak. Misalnya, tunjukkan toleransi, empati, dankepedulian dari orang tua dan guru terhadap orang-orang yang tak mampu.Komitmen dari orang tua dan guru yang yang kuat dalam membantu meringankanbeban penderitaan orang lain insya Allah dapat menular kepada anak-anak. 4.

Jangan

batasi

pergaulan

anak
Sering kali tetangga, teman, dan orang lain yang mendapat kesusahan dan perludibantu menjadi jembatan yang dapat membukakan mata terhadap hal-hal yang kurang dipedulikan. Seringkali, orang menganggap kemiskinan dan kesusahan ituberada di luar "dunia" dirinya. Tak jarang, seseorang tidak mengetahui kemiskinandan kesusahan yang sebenarnya, sebelum ia melihat teman atau saudaranya sendirimengalaminya. Dalam hal ini, biarkanlah anak berteman dengan siapa saja. Janganbatasi pergaulannya agar ia dapat mengenal temannya dari semua kalangan. 5.

Ajaklah anak melihat sendiri atau mengalami kehidupan yang sangatberbeda dengan kehidupan yang biasa ia jalani.
Ajaklah anak (peserta didik) untuk mengunjungi tempat di mana banyak orang susah yang berkumpul di sana. Dengan itu mereka akan melihat ada sisi lain darikehidupan manusia. Anak pun dapat diberi pemahaman kepada mereka dengan

4
Menurut Lawrence E. Shapiro, Ph.D., secara naluriah anak sudah mengembangkan empatisejak ia bayi. Awalnya empati yang dimiliki sangat sederhana, yakni empati emosi. Misalnya pada usia0-1 tahun, bayi bisa menangis hanya karena mendengar bayi lain menangis. Barulah di usia 1-2 tahun,anak menyadari kalau kesusahan temannya bukanlah kesusahan yang mesti ditanggung sendiri.Walaupun demikian, rasa empati pada anak harus diasah. Bila dibiarkan rasa empati tersebut sedikitdemi sedikit akan terkikis walau tidak sepenuhnya hilang, tergantung dari lingkungan yang membentuknya. Banyak segi positif bila kita mengajarkan anak berempati. Mereka tidak akan agresif dan senang membantu orang lain. Karena empati berhubungan dengan kepedulian terhadap orang lain, tak heran kalau empati selalu berkonotasi sosial seperti menyumbang


Haritsah Alqamah, sebagai guru dan uskup. Maksud kedatangan mereka itu adalahingin mengenal Nabi saw dari dekat. Benarkah Muhammad itu seorang utusan Tuhandan bagaimana dan apa sesungguhnya ajaran Islam itu. Mereka juga inginmembandingkan antara Islam dan Nasrani. Mereka ingin bicara dengan Rasulullahsaw tentang berbagai masalah agama. Mereka sampai di Madinah saat kaum muslimintelah selesai shalat Ashar. Mereka pun sampai di masjid dan akan menjalankansembahyang pula menurut cara mereka. Para sahabatpun heboh, mengetahui haltersebut, maka Rasulullah saw. Berkata, ’Biarkanlah mereka!’ maka mereka punmenjalankan sembahyang dengan cara mereka dalam masjid Madinah itu. Dikisahkanbahwa para utusan itu memakai jubah dan kependetaan yang serba mentereng,pakaian kebesaran dengan selempang warna-warni.Peristiwa di atas menunjukan toleransi Rasulullah saw kepada pemeluk agamalain. Walaupun dalam dialog antara Rasulullah saw dengan utusan Najran itu tidak ada "kesepakatan" karena mereka tetap menganggap bahwa Isa adalah "anak Tuhan"dan Rasulullah saw. berpegang teguh bahwa Isa adalah utusan Allah swt dan sebagaiNabiyullah, Isa adalah manusia biasa. Para utusan itu tetap dijamu oleh Rasulullahsaw. dalam beberapa hari.
2.

Sifat Tasamuh pada Sejarah Islam
Sejarah Islam adalah sejarah toleransi. Perkembangan Islam ke wilayah-wilayahluar Jazirah Arabia yang begitu cepat menunjukkan bahwa Islam dapat diterimasebagai
rahmat li al-’alamin
(pengayom semua manusia dan alam semesta). Ekspansi-ekspansi Islam ke Siria, Mesir, Spanyol, Persia, Asia, dan ke seluruh dunia dilakukanmelalui jalan damai. Islam tidak memaksakan agama kepada mereka (penduduk taklukan) sampai akhirnya mereka menemukan kebenaran Islam itu sendiri melaluiinteraksi intensif dan dialog. Kondisi ini berjalan merata hingga Islam mencapaiwilayah yang sangat luas ke hampir seluruh dunia dengan amat singkat danfantastik.Memang perlu diakui bahwa perluasan wilayah Islam itu sering menimbulkanpeperangan. Tapi peperangan itu dilakukan hanya sebagai pembelaan sehingga Islamtak mengalami kekalahan. Peperangan itu bukan karena memaksakan keyakinankepada mereka tapi karena ekses-ekses politik sebagai konsekuensi logis dari sebuahpendudukan. Pemaksaan keyakinan agama adalah dilarang dalam Islam. Bahkansekalipun Islam telah berkuasa, banyak agama lokal yang tetap dibolehkan hidup.Demikianlah, sikap toleransi Islam terhadap agama-agama dan keyakinan-keyakinanlokal dalam sejarah kekuasaan Islam menunjukkan garis kontinum antara prinsipSyari’ah dengan praktiknya di lapangan. Meski praktik toleransi sering mengalamiinterupsi, namun secara doktrin tak ada dukungan teks Syari’ah. Ini berarti kekerasanyang terjadi atas nama Islam bukanlah otentisitas ajaran Islam itu sendiri. Bahkanbukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa pemerintah-pemerintah Muslimmembiarkan, bekerjasama, dan memakai orang-orang Kristen, Yahudi, Shabi’un, danpenyembah berhala dalam pemerintahan mereka atau sebagai pegawai dalampemerintahan. Ketika ummat Islam berkuasa di Spanyol selama hampir 700 tahun,soal toleransi ini pun menjadi acuan dalam memperlakukan penduduk asli, baik yang beragama Nasrani maupun Yahudi. Toleransi Islam ini juga nyata di India, waktuIslam memerintah India, terutama pada masa Sultan Akbar, Kesultanan HumayunKabir, di mana kaum Hindu juga mendapat keleluasaan.


Contoh lain tentang perlakuan Islam terhadap non-Islam adalah kemurahanhati yang diperlihatkan oleh Salah al-Din al-Ayyubi pada tahun 1188 M saat diaberhasil merebut kembali Yerussalem dari tentara salib. Ketika Salah al-Din tiba iamenyaksikan pasukan salib sedang mengotori masjid dengan menyimpan babi didalamnya. Bahkan para ahli sejarah Eropa pun mengakui bahwa Salah al-Din tidak membalas dendam, melainkan memberikan maaf kepada pasukan Salib, denganpengecualian segelintir individu yang memang berprilaku sadis dan kejam.Contoh lain lagi adalah mengenai hubungan imam madzhab Fiqh, yaitu ImamAbu Hanifah dan Imam Syafii. Suatu saat, Imam Sayfii shalat di Baghdad yang dulubernama Kufah. Dia tidak qunut pada waktu subuh. Lalu orang-orang bertanya:“Kenapa Anda tidak qunut?” Imam Syafii menjawab, “Aku menghormati
shâhib tilka al-maqbarah”
(penghuni kuburan di situ). Ketika itu, Imam Abu Hanifah sudahmeninggal dunia dan orang di sekitar situ tetap mengikuti pahamnya. Maka, demimenghormati Abu Hanifah, Imam Syafii tidak membaca qunut. Menurut saya, ituadalah prinsip mendahulukan akhlak di atas fikih.Lebih lanjut kesaksian seorang Yahudi bernama Max I. Dimon menyatakanbahwa “salah satu akibat dari toleransi Islam adalah bebasnya orang-orang Yahudiberpindah dan mengambil manfaat dengan menempatkan diri mereka di seluruhpelosok Empirium Islam yang amat besar itu. Lainnya ialah bahwa mereka dapatmencari penghidupan dalam cara apapun yang mereka pilih, karena tidak ada profesiyang dilarang bagi mereka, juga tak ada keahlian khusus yang diserahkan kepadamereka”. Pengakuan Max I. Dimon atas toleransi Islam pada orang-orang Yahudi diSpanyol adalah pengakuan yang sangat tepat. Ia bahkan menyatakan bahwa dalamperadaban Islam, masyarakat Islam membuka pintu masjid, dan kamar tidur mereka,untuk pindah agama, pendidikan, maupun asimilasi. Orang-orang Yahudi, kata Max I.Dimon selanjutnya, tidak pernah mengalami hal yang begitu bagus sebelumnya.Kutipan ini perlu ditegaskan karena ini dapat menjadi kesaksian dari seorang non-Muslim tentang toleransi Islam.
3.

Perilaku Tasamuh pada Konteks Kehidupan masyarakat Indonesia
Toleransi ini secara relatif terus dipraktikkan di dalam sejarah Islam di masa-masa sesudahnya oleh orang-orang Muslim di kawasan lain, termasuk di Nusantara.Melalui para pedagang Gujarat dan Arab, para raja di Nusantara Indonesia masuk Islam dan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya Islam di sini. Dalam sejarah penyebaranIslam di Nusantara, ia dilakukan melalui perdagangan dan interaksi kawin-mawin. Iatidak dilakukan melalui kolonialisme atau penjajahan sehingga sikap penerimaanmasyarakat Nusantara sangat apresiatif dan dengan suka rela memeluk agama Islam.Sementara penduduk lokal lain yang tetap pada keyakinan lamanya juga tidak dimusuhi. Di sini, perlu dicatat bahwa model akulturasi dan enkulturasi budaya jugadilakukan demi toleransi dengan budaya-budaya setempat sehingga tak menimbulkankonflik. Apa yang dicontohkan para walisongo di Jawa, misalnya, merupakan contohsahih betapa penyebaran Islam dilakukan dengan pola-pola toleransi yang amatmencengangkan bagi keagungan ajaran Islam. Secara perlahan dan pasti, islamisasidi seluruh Nusantara hampir mendekati sempurna yang dilakukan tanpa konflik sedikitpun. Hingga hari ini kegairahan beragama Islam dengan segala gegap-gempitanya menandai keberhasilan toleransi Islam. Ini membuktikan bahwa jika tak ada toleransi, yakni sikap menghormati perbedaan budaya maka perkembangan Islamdi Nusantara tak akan sefantastik sekarang.


G.

Penutup
Toleransi dalam Islam adalah otentik. Artinya tidak asing lagi dan bahkanmengeksistensi sejak Islam itu ada. Karena sifatnya yang organik, maka toleransi didalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen untuk mempraktikkannya secara konsisten. Namun, toleransi beragama menurut Islambukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukarkeyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Toleransi di siniadalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersamayang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormatikeunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.Syari’ah telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Karena pemaksaankehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama kita adalah sikap a historis, yang tidak ada dasar dan contohnya di dalam sejarah Islam awal. Justru dengan sikaptoleran yang amat indah inilah, sejarah peradaban Islam telah menghasilkankegemilangan sehingga dicatat dalam tinta emas oleh sejarah peradaban dunia hinggahari ini dan insyaallah di masa depan.Dari uraian di atas, dapat menarik kesimpulan bahwa pribadi yang toleran(si)menurut Islam adalah : 1). Ia menghargai dan menghormati keyakinan orang lain(agama lain) untuk melaksana-kan keyakinan tersebut, dengan tetap menjaga prinsip-prinsip tauhid bahwa hanya Islam yang benar, 2) ia tetap berbuat baik kepada non-muslim dalam urusan duniawi, selama mereka tidak memerangi / memusuhi Islamdan tidak mengusir muslim. Unsur-unsur yang harus dipahami dalam mewujudkan
tasamuh
(toleransi) ini adalah a) ia mengakui hak setiap orang, b) ia menghormatikeyakinan orang lain, c) ia Lapang dada menerima perbedaan d. Ia memiliki saling pengertian, e). Ia memiliki kesadaran dan kejujuran.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

SHARE

Share