Kamis, 10 Februari 2011

TASAMUH (TOLERANSI AKTIF-POSITIF)

A.

Pendahuluan
Saat ini, Indonesia diidentikkan sebagai negara ”sarang koruptor”, ”sarang teroris”, rusuh, dan anarkis. Atribut lainnya pun dilekatkan kepada bangsa Indonesia,yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam sebagai umat yang tidak toleran,miskin, terbelakang, jumud, dan karakter buruk (
pejoratif
) lainnya. Sangkaan Baratterhadap umat Islam Indonesia tersebut, memang, berlebihan; tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Keberadaan kelompok Islam radikal, kasus teror bom danpemboman simbol-simbol Amerika dan Barat (seperti JW Marriot dan MegaKuningan), dan konflik etno-religius (seperti terjadi di Poso-Maluku danTasikmalaya) yang terus terjadi menjadi faktor-faktor pemicu (
presedence
) daripencitraan negatif bagi kalangan Muslim, termasuk umat Islam di Indonesia.Berbagai kasus kekerasan yang dilakukan secara individual maupun komunal,baik dalam rumah tangga (KDRT), di institusi pendidikan (seperti tawuran antarsiswa SMU dan mahasiswa), gedung DPR/MPR, dan antara umat Islam (FPI versusJama’ah Ahmadiyah), maupun lainnya seakan terus terjadi yang mengindikasikanbahwa kekerasan, gampang tersinggung, dan tidak toleran (
intolerance
) kini telahmenjadi karakter kebanyakan individu masyarakat Indonesia. Dengan kata lain,berbagai karakter baik dari setiap individu (dan komunal) bangsa Indonesia, sepertiramah, senyum, baik hati, suka membantu, dan toleran, seakan-akan dari hari ke hariterus memudar. Pembicaraan mengenai hal tersebut seakan hanya sekedarromantisisme saja. Karenanya wajar jika kemudian banyak kalangan melihat adanyaproses tidak sadar (
unconsiousness

process
) dari ”pudarnya karakteristik bangsaIndonesia” pada segala dimensi karakter positif.Padahal sekitar lima puluh tahun yang silam, datanglah ke Indonesia seorang sejarawan terkemuka abad ini, asal Inggris, Arnold J. Toynbee. Di Indonesia, iamerasa melihat keadaan yang "baginya aneh." Bangsa Indonesia yang 90% persenadalah pemeluk Islam, namun ternyata adalah bangsa yang paling lapang dada atautoleran, begitu kesaksian Toynbee. Menurut Toynbee, toleransi Indonesia itu perludijadikan contoh bagi penduduk di belahan bumi lain. Sejarah toleransi bangsaIndonesia ini seakan sirna, terutama pasca-reformasi (1998) dan karena kasus-kasusteror-bom, yang ditudingkan kepada kelompok Islam radikal.Jika melihat falsafah negara, Indonesia merupakan negara religius yang ber”Ketuhanan Yang Maha Esa”. Undang-Undang Dasar 1945 pasa 33 ayat (1 dan 2)menandaskan bahwa setiap agama dapat hidup-berkembang dan dijaminkeberadaannya di bumi pertiwi ini. Demikian juga, semboyan negara BhinekaTunggal Ika mempertegas bahwa keragaman suku, budaya, dan keyakinan merupakankekayaan khazanah bangsa Indonesia yang dapat dipergunakan sebagai modal dasarbagi pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya dan berperadaban. Demikian pula,jika melihat pada ajaran setiap agama yang hidup dan berkembang di Indonesia,semuanya mengajarkan mengenai cinta-kasih, kesatu-paduan hati, persaudaraan,kerjasama, dan toleransi. Tidak ada satu pun ajaran agama yang membenarkan ataumenganjurkan untuk berperang, saling bunuh, saling memusuhi, atau bertindak anarkis.

Ref :http://www.scribd.com/doc/47074685/TASHAMUH-DadanRusmana

0 comments: