Kamis, 24 Februari 2011

*Syahadat sbg garda pembuka iman*

Demetrius
Dalam syariat islam rukun iman ditetapkan bahwa 'syahadat' sebagai hal pertama dr hierarki rukun iman.
Mgkin pertanyaan yang seringkali timbul di luar adalah mengapa bukan sholat atau haji? Mengapa harus syahadat?.
Sedangkan di masyarakat sering terjadi sentimen bahwa iman seseorang diukur dr sholatnya dulu. Kamu tidak sholat berarti kamu bukan orang beriman. Masyarakat dogmatis jarang menanyakan apakah anda bersyahadat atau tidak? Ttp seringnya bertanya apakah anda sholat?.
Kita tidak akan membicarakan sholat, kita simpan maslah sholat di kantong kita, atau sembunyikan dlu di bawah kasur, krn akan percuma membicarakan sholat apabila kita belum memahami syahadat. Klo dalam bertani ibaratnya akn percuma kita membawa cangkul klo belum pernah menginjak sawah.
Saya ingin mengajak saudara searah sekalian untuk berbagi pengertiannya, bukan dari sisi syariat islam saja, ttp ditelaah scr universal krn islam (aslamah) adlh rahmatan lil alamin bagi slrh umat, ya Islam adlh JALAN, BUKAN TUJUAN. Syariat adlh jalan BUKAN tujuan.

Apa hubungan antara syahadat dengan iman?
Dasar hub kita dgn sang Obyektifitas tunggal adalah iman. Kita adalah obyek dari sang obyektifitas tunggal. Dalam kunci hidup alm ABAH AGUNG diistilahkan Alloh adlh Sang obyektifitas tunggal, sang objktifitas tunggal adlh Kebenaran TunggaL.
Kita sekalian msi hidup sbg obyek dr Sang Objektifitas TunggaL. Slma kita msi sbg Obyek slma itu pula kita msi terikat dengan hukum kejadian alam/hukum sebab akibat/karma sbg manusia.
Tetapi apabila kita sdh mjd Objektifitas tunggaL, mk kita sdh mjd sebab dr sluruh Objek, itulah yg harus kita capai. Tidak dgn keinginan, tp dgn kasih. Tidak dgn syariat krn syariat hnya jalan, gunakan jalan sbg jalan.. Ttp lakonilah syariat dgn kasih.
Jadi pertama harus disepakati bahwa dasar hub kita dgn sang Illahi adalah IMAN. Iman-lah yang membentuk suatu keyakinan (seharusnya keyakinan bukan kepercayaan).

Sekarang, apa yang mendasari iman?
Dalam syahadat islam berbunyi: "aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah...", inti dari kalimat tersebut adalah 'Penyaksian', dasar iman adlah penyaksian, ya tentunya dari penyaksian langsung, bukan kata org, kata saya, kata ustad, kata quran, kata banthe, dll, tetapi harus anda yang menyaksikan sendiri. karena ini urusan anda dengan Tuhan sendiri, tidak ada keterwakilan.
Menyaksikan berarti : melihat sendiri, mendengar sendiri, dan merasakan sendiri.
Seperti contoh nabi Muhammad, bentuk penyaksian nabi akan Tuhannya diungkapkan dalam ritual Sholat, ya itu bentuk penyaksian nabi bukan kita, itu orisinalitas nabi, bukan kita, bukan perjalanan spiritual kita. Klo selama ini kita sholat kita berarti mengikuti gerak 'insun' nabi.. Apakah salah? Tidak, slama masi bisa digunakan sebagai wasit diri (sesuai kedudukan sholat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar), bukan sebagai atribut beragama semata, ya lakukanlah dgn penuh cinta kepadaNya, lakonilah syariat dgn cinta.
Berarti kita harus punya gerak insun sbg bentuk penyaksian kita, bukan begitu sahabat?ya betuL.. Ini tugas anda yang mengaku telah beriman.

Rumah itu akan kokoh bila awal membangun pondasinya kuat,dimana tdk bs
dipisahkan satu kesatuannya. Hidup ini akan bahagia bila pondasinya dlm
satu kesatuan (penyaksian-Pengakuan jujur dan sportif-Mengarah satu
titik keeEsaan) yg tdk bs terpisahkan dimana adat dan watak harus
tunduk pd pikiran sehat.Bila hnya menyaksi tok akan rekayasa yg bermain ... mampu mengakui keberadaannya dlm JUJUR dan SPORTIF,
nah....bila iri-dengki dan culas??? apa yg di dapat???. hnya
mampu berfikir ini dan itu....dimana meutupi dan kompensasi diri....
Satu kesatuan itu tak terpisahkan,,,,shg kita tdk terdogma ala fana, saksikan dg seksama dalam alunan irama....pahamilah nada-nadanya...nyanyikan bersama dlm warna dan cara.
Titik awal bersyahadat atau berpondasi hidup dg kokoh adalah KESADARAN DIRI DG NIAT YG KUAT & TULUS utk membangun manusia yg baru.
Jadi ATMA SYAHADAT adalah pondasi yg kuat dalam kerangka hidup manusia untuk menuju satu titik keEsaan.

0 comments: