Senin, 21 Februari 2011

Ideologi Berdarah Darwinisme 3

Asal-Usul Mentalitas Fasis

Fasisme merupakan sebuah ideologi yang berakar di Eropa. Pondasi fasisme dibangun oleh sejumlah pemikir Eropa pada abad ke-19, dan dipraktikkan pada abad ke-20 oleh negara-negara seperti Italia dan Jerman. Negara-negara lain, yang dipengaruhi ataupun menerapkan fasisme, “mengimpor” ideologi ini dari Eropa. Karena itu, untuk menelaah sumber-sumber fasisme, kita harus berpaling kepada sejarah Eropa.

Sejarah Eropa telah mengalami beberapa tahap dan periode. Namun, dalam pengertian terluas, kita dapat membaginya menjadi tiga periode utama:



Perang dan kekerasan memegang peranan penting dalam budaya pagan, sebagaimana terlihat dari sosok-sosok prajurit pada berbagai lukisan dinding dan batu nisan.
1) Periode pra-Kristen (periode pagan)

2) Periode ketika agama Kristen meraih dominasi budaya di Eropa.

3) Periode pasca-Kristen (periode materialis)



Banyak pembaca mungkin menganggap aneh gagasan tentang periode “pasca-Kristen”, sebab Kristen hingga kini masih menjadi agama mayoritas di masyarakat Eropa. Namun agama Kristen saat ini bukan lagi aspek yang dominan dalam budaya Eropa: yang tersisa hanyalah formalitas belaka. Berbagai ideologi dan konsep nyata yang kini mengarahkan masyarakat terbentuk bukan oleh perintah-perintah agama, melainkan dari filsafat materialis. Arus anti-agama ini bermula pada abad ke-18, dan mendominasi ilmu pengetahuan serta dunia ide pada abad ke-19. Dan, pada abad ke-20 lah berbagai bencana yang diakibatkan materialisme akhirnya tampak.

Dari ketiga periode ini, tampaklah bahwa fasisme terjadi pada periode pertama dan ketiga. Dengan kata lain, fasisme adalah produk paganisme, dan kemudian dikuatkan kembali oleh kebangkitan materialisme. Ideologi atau praktik fasis tidak pernah muncul selama seribu tahun lebih, saat agama Kristen mendominasi Eropa. Hal ini karena Kristen merupakan agama kedamaian dan persamaan hak. Agama Kristen, yang menyuruh manusia untuk mencintai, berkasih sayang, berkorban, dan berendah hati sepenuhnya bertolak belakang dari fasisme.

Agama Kristen pada awalnya merupakan agama ilahiah yang disebarkan oleh Nabi Isa. Sepeninggalnya, agama ini menyimpang dari bentuknya yang asli dengan sejumlah penerapan dan penafsiran. Namun bagaimanapun, ia masih mempertahankan beberapa aspek tertentu dari esensi agama yang benar, dengan konsep seperti cinta, kasih sayang, pengorbanan, dan kemanusiaan, seperti ditunjukkan di atas.

Sekarang mari kita bahas sekilas keadaan Eropa pra-Kristen dan mengkaji asal-usul dari fasisme.


KAUM FASIS DALAM DUNIA PAGAN

Pada dasarnya, sebagai budaya pagan, agama dalam periode pra-Kristen adalah politeistik. Orang-orang Eropa meyakini bahwa tuhan-tuhan palsu yang mereka sembah melambangkan berbagai kekuatan atau aspek kehidupan, dan yang terpenting adalah para dewa perang, sangat mirip dengan yang muncul di dalam hampir setiap masyarakat pagan..


Tingginya martabat para dewa perang dalam kepercayaan pagan karena masyarakat ini memandang kekerasan sebagai suatu yang sakral. Orang-orang pagan pada dasarnya biadab dan terus-menerus hidup dalam keadaan perang. Membunuh dan menumpahkan darah atas nama bangsa mereka dianggap sebagai sebuah kewajiban suci. Hampir segala macam kekejaman dan kekerasan dibenarkan dalam paganisme. Tidak ada dasar etika untuk melarang kekerasan atau kekejaman. Bahkan Roma, yang dianggap sebagai negara ‘paling beradab’ di dunia pagan, merupakan tempat di mana manusia dipaksa bertarung hingga mati atau dicabik-cabik oleh binatang buas. Kaisar Nero naik ke tahta dengan membunuh tak terbilang orang, termasuk ibu, istri, dan saudara tirinya sendiri



Ia melemparkan para penganut Kristen ke arena untuk dilahap binatang-binatang buas, dan menyiksa ribuan orang semata-mata karena kepercayaan mereka. Salah satu contoh kebengisannya adalah bagaimana ia memerintahkan pembakaran kota Roma, sembari bermain lira dan melihat pemandangan mengerikan itu dari jendela istananya.

Meskipun Roma terbenam dalam budaya kekerasan, bangsa-bangsa barbar dan pagan di utara, seperti Vandal, Goth dan Visigoth, masih lebih biadab lagi. Di samping menjarah Roma, mereka tetap saling menghancurkan. Di dunia pagan kekerasan berkuasa, segala jenis kebrutalan diperbolehkan, dan etika sama sekali diabaikan.

Contoh terbaik tentang “sistem fasis” di dunia pagan, dalam pengertian modern, adalah negara-kota Sparta di Yunani.

SPARTA: SEBUAH MODEL BAGI KAUM FASIS

Sparta adalah sebuah negara militer, yang membaktikan diri pada perang dan kekerasan, dan diperkirakan dibangun oleh Likurgus pada abad 8 SM. Bangsa Sparta menerapkan sistem pendidikan yang sangat teratur. Di bawah sistem Sparta, negara jauh lebih penting dibanding perorangan. Kehidupan rakyat diukur berdasarkan manfaat mereka bagi negara. Anak-anak lelaki yang kuat dan sehat dipersembahkan pada negara, sedangkan bayi-bayi yang sakit dibuang ke pegunungan agar mati.

(Praktik bangsa Sparta ini dijadikan contoh oleh Nazi Jerman, dan dinyatakan bahwa, oleh pengaruh kuat Darwinisme, orang-orang yang sakit-sakitan harus disingkirkan untuk mempertahankan sebuah “ras yang sehat dan unggul”.) Di Sparta, para orang tua bertanggung jawab membesarkan anak-anak lelaki mereka hingga usia tujuh tahun. Setelah itu, sampai usia 12 tahun, anak-anak ditempatkan dalam kelompok-kelompok beranggota 15 orang, dan yang paling menonjol dipilih menjadi pemimpin. Anak-anak mengisi waktu dengan memperkuat tubuh mereka dan mempersiapkan diri untuk berperang dengan berolah raga.


Melek huruf tidak dianggap penting, dan hanya ada sedikit minat terhadap musik atau kesusasteraan. Lagu-lagu yang boleh dinyanyikan dan dipelajari anak-anak hanyalah lagu tentang perang dan kekerasan. (Sangat mirip dengan pendidikan anak dari usia 4 tahun yang diterapkan di bawah fasisme Mussolini dan Hitler). Adat kebiasaan Sparta adalah mengindoktrinasi rakyatnya dalam semangat perang, dengan mengorbankan seni, kesusasteraan, dan pendidikan.

Salah satu pemikir terpenting yang memberikan keterangan terperinci tentang Sparta adalah filsuf Yunani kenamaan, Plato. Meskipun ia hidup di Athena, yang diperintah secara demokratis, ia terkesan dengan sistem fasis di Sparta, dan dalam buku-bukunya menggambarkan Sparta sebagai sebuah model negara.


Akibat kecenderungan fasis Plato, Karl Popper, salah seorang pemikir terkemuka abad ke-20, dalam bukunya yang terkenal The Open Society and Its Enemies, menggambarkan Plato sebagai sumber inspirasi pertama untuk rezim penindas, dan musuh bagi masyarakat terbuka. Untuk mendukung pernyataannya, Popper merujuk bagaimana Plato dengan tenang membela pembunuhan anak-anak di Sparta, dan melukiskan Plato sebagai pendukung teoretis pertama terhadap “egenetika” (gerakan peningkatan kualitas spesies manusia melalui pengendalian keturunan.):

… Golongan yang mulia harus merasa dirinya sebagai suatu ras unggul yang agung. ‘Ras para pengawal harus dijaga agar tetap murni’, kata Plato (dalam pembelaannya terhadap pembunuhan bayi), saat mengembangkan argumen rasialis bahwa kita membiakkan hewan dengan penuh perhatian namun menelantarkan ras kita sendiri, sebuah argumen yang selalu diulang-ulang sejak itu. (Membunuh bayi bukan kebiasaan orang Athena; Plato, yang melihat hal ini dilakukan di Sparta untuk tujuan-tujuan egenetika, menyimpulkan bahwa tindakan tersebut pastilah berlangsung sejak zaman dulu dan karenanya pasti baik.) Ia meminta prinsip-prinsip yang sama diterapkan untuk memelihara keturunan ras unggul, sebagaimana dilakukan peternak berpengalaman terhadap anjing, kuda, atau burung. ‘Jika Anda tak memelihara keturunan mereka dengan cara ini, bukankah ras burung atau anjing Anda akan memburuk dengan cepat?’ demikian argumen Plato; dan ia berkesimpulan bahwa ‘prinsip serupa berlaku pada ras manusia’. Kualitas-kualitas rasial yang diharapkan dari seorang pengawal atau pasukan tambahan, khususnya, seperti yang dimiliki anjing penggembala. ‘Para atlet-ksatria kita… harus waspada bagaikan anjing penjaga’, tegas Plato, dan ia bertanya: ‘Jelaslah, sepanjang berhubungan dengan kebugaran alamiah mereka untuk berjaga, tidak ada perbedaan antara anak muda yang gagah berani dan seekor anjing yang dibiakkan dengan baik.” 3

Pandangan-pandangan Plato ini, yang menganggap manusia sebagai suatu spesies hewan, dan menganjurkan agar mereka “dikembangkan” melalui “perkawinan paksa”, muncul lagi ke permukaan dengan kedatangan Darwinisme pada abad ke-19, dan diterapkan oleh Nazi pada abad ke-20. Kita akan membahas hal ini pada halaman-halaman berikutnya.

Ketika membela model masyarakat Sparta, Plato juga mengajukan aspek lain dari fasisme, yakni penggunaan represi oleh negara untuk mengatur masyarakat. Menurut Plato, tekanan ini harus semenyeluruh mungkin sehingga rakyat tak mampu memikirkan apa pun selain perintah-perintah negara, dan bertingkah laku dalam kesetiaan yang sempurna terhadap kebijakan negara, dengan mengabaikan kecerdasan dan kehendak bebas mereka. Kata-kata Plato berikut ini, yang dikutip Popper sebagai pernyataan lengkap tentang mentalitas fasis, menggambarkan struktur tata tertib fasis:


Prinsip tertinggi di atas segalanya adalah bahwa tak boleh ada seorang pun, baik pria maupun wanita, yang tanpa pemimpin. Pikiran siapa pun tidak boleh dibiasakan berinisiatif melakukan apa pun; tidak boleh kehilangan semangat, bahkan sekadar bermain-main pun tidak boleh. Baik di masa perang maupun damai—ia harus setia mematuhi pemimpinnya. Dalam urusan terkecil pun, ia harus berada di bawah pimpinan. Misalnya, ia hendaklah bangun, bergerak, mandi, atau makan… hanya apabila diperintahkan. Pendeknya, ia harus melatih jiwanya, melalui pembiasaan yang lama, agar tidak pernah mengimpikan bertindak bebas, dan tak memiliki kemampuan untuk itu sama sekali. 4

Berbagai gagasan dan praktik ini, yang diajukan oleh bangsa Sparta, juga Plato, menunjukkan ciri-ciri pokok fasisme—memandang manusia sebagai hewan semata, rasisme fanatik, penyebaran perang dan konflik, represi oleh negara, dan “indoktrinasi formal”.

Praktik-praktik fasistik serupa juga dapat ditemukan pada kaum pagan lainnya. Sistem yang dibangun oleh para fir’aun, penguasa Mesir kuno, dalam aspek-aspek tertentu dapat disamakan dengan fasisme Sparta. Para fir’aun Mesir membangun sistem negara yang berlandaskan prinsip-prinsip disiplin militer, dan menggunakannya untuk menindas, bahkan terhadap rakyat mereka sendiri. Ramses II, penguasa Mesir yang lalim, yang diyakini hidup pada zaman Nabi Musa, memerintahkan pembunuhan atas semua anak-anak lelaki Yahudi. Kekejaman ini mengingatkan pada pembunuhan bayi di Sparta. Bentuk-bentuk penindasan psikologis yang ia lakukan kepada rakyatnya sendiri juga mengingatkan pada sistem fasistik yang digambarkan oleh Plato. Sebagaimana yang diungkapkan Allah dalam Al Quran, Fir’aun dengan kejam mengultimatum rakyatnya: "...Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar." (QS. Al Mu’min, 40: 29) Ia juga mengancam para tukang sihir yang menolak keyakinan pagannya dan menuju kepada agama sejati dengan mengikuti Musa, "...Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?... sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik , kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya." (QS. Al A’raaf, 7: 123-124)


KEMUNDURAN FASISME MENGHADAPI AGAMA

Kebudayaan pagan fasistik yang menguasai Eropa surut dari panggung seiring berkembangnya agama Kristen pada abad ke-2 dan ke-3 M, pertama di Roma, dan kemudian ke seluruh Eropa. Kepada masyarakat Eropa, agama Kristen membawa ciri-ciri etika mendasar dari agama sejati yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Isa. Eropa, yang pernah memandang suci kekerasan, konflik, dan pertumpahan darah, serta terdiri dari berbagai suku, ras dan negara-kota dan senantiasa saling memerangi, kini mulai mengalami perubahan penting.

1) Tak Ada Lagi Perang Antar Ras Dan Suku: Dalam dunia pagan, semua suku dan ras bermusuhan dan saling memerangi tanpa henti. Setiap masyarakat pagan berperang atas nama dewa dan totem ciptaan mereka masing-masing. Dengan kedatangan agama Kristen, muncullah kepercayaan, kebudayaan, dan bahkan bahasa yang tunggal di Eropa secara keseluruhan, sehingga konflik-konflik di dunia pagan berakhir.

2) Alih-Alih Kekerasan, Perdamaian Dan Kasih Sayang Mulai Dianggap Suci: Dalam masyarakat pagan, mengobarkan pertumpahan darah, penderitaan, dan penyiksaan dipandang sebagai tindakan heroik yang menyenangkan “dewa-dewa perang” khayalan. Namun, di bawah naungan agama Kristen masyarakat Eropa memahami bahwa manusia harus saling menyayangi dan mengasihi (bahkan kepada musuh mereka), dan menumpahkan darah adalah dosa besar di mata Tuhan.

3) Tak Lagi Menganggap Manusia Sebagai Spesies Hewan: Bangsa Sparta yang menganggap ksatria-ksatria mereka setara dengan ‘anjing penjaga’ adalah perpanjangan dari kepercayaan “animis” yang tersebar di masyarakat pagan. Animisme menganggap alam dan binatang berjiwa. Menurut animisme, tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan, atau bahkan tumbuhan. Tetapi saat agama mulai tampil ke muka, takhyul ini menghilang, dan masyarakat Eropa menyadari bahwa manusia diberi Tuhan jiwa, dan sangat berbeda dengan binatang, sehingga tidak dapat mengikuti hukum yang sama.

Ketiga aspek paganisme ini—rasisme, pertumpahan darah, dan menyamakan manusia dengan binatang—juga merupakan karakteristik dasar fasisme. Di Eropa, aspek-aspek ini ditaklukkan oleh agama Kristen. Di Timur Tengah, kemenangan yang sama diraih agama Islam atas paganisme Arab. Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab (dan masyarakat Timur Tengah serta Asia Tengah lainnya) adalah kaum yang gemar berperang, haus darah, dan rasis. Kebiadaban orang Sparta “membuang anak-anak yang tak diharapkan hingga mati” diikuti oleh kaum pagan Arab, dalam bentuk mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan mereka. Al Quran menyebutkan praktik biadab ini: (QS. 81: 8-9) (QS. 43: 17)

Kebudayaan bangsa Arab, Timur Tengah serta Asia Tengah lainnya, baru berubah menjadi masyarakat yang damai, beradab, cerdas, dan anti-pertumpahan darah setelah mereka diterangi cahaya Islam. Dengan demikian, mereka terbebaskan dari perang-perang antarsuku yang kuno dan kekejaman badui, dan menemukan perdamaian serta kemantapan dalam agama Islam.


NEO-PAGANISME DAN KELAHIRAN FASISME


Aristoteles

TOPI KEBEBASAN:
Gambar di atas ini diperkirakan untuk menggambarkan kesatuan dan ketakterbagian dari republik yang dibangun setelah revolusi Prancis. Dalam gambar ini dan gambar-gambar lain pada zaman tersebut, topi kebebasan digunakan untuk menggambarkan revolusi, namun sesungguhnya simbol itu merupakan warisan mitos pagan tentang Mitra dari zaman kuno.
Meskipun ditekan oleh agama Kristen, paganisme Eropa tidak mati begitu saja. Paganisme mampu bertahan dengan kedok berbagai bentuk pengajaran, gerakan, dan perkumpulan rahasia, seperti kaum Freemason, dan muncul kembali dalam bentuk nyata di Eropa pada abad ke-16 dan ke-17. Sejumlah pemikir Eropa, yang dipengaruhi oleh karya-karya para filsuf Yunani kuno seperti Plato atau Aristoteles, mulai menghidupkan kembali konsep-konsep dari dunia pagan.

Arus neo-pagan ini kian berpengaruh, dan pada abad ke-19 mampu mengungguli agama Kristen serta mengokohkan diri di Eropa. Akan sangat bermanfaat di sini bagi kita untuk menelaah garis besar proses panjang ini, tanpa harus membahas detailnya.

Barisan depan gerakan neo-pagan adalah para pemikir yang dikenal sebagai “humanis”. Di bawah pengaruh sumber-sumber Yunani kuno, mereka mencoba untuk menyebarkan filsafat pagan dari para filsuf seperti Plato dan Aristoteles. Keyakinan yang mereka sebut sebagai “humanisme” merupakan filsafat menyimpang yang mengingkari keberadaan Tuhan dan pertanggungjawaban manusia terhadap-Nya, dan alih-alih menganggap manusia sebagai makhluk yang agung, superior, dan independen. Pengaruh-pengaruh humanisme menjangkau aspek-aspek yang lebih luas bersama filsafat Pencerahan pada abad ke-17 dan ke-18.


Dalam gambar ini, untuk menghormati Jean Jacques Rousseau setelah Revolusi Prancis dilukis simbol-simbol paganisme kuno, seperti topi kebebasan dan ikatan kayu-kayu kecil.
Para filsuf Pencerahan dipengaruhi oleh materialisme dan membela habis-habisan gagasan yang berkembang di zaman Yunani kuno ini. (Materialisme adalah filsafat dogmatis yang digagas oleh para pemikir Yunani seperti Leusipus dan Demokritus, mendalilkan bahwa hanya materi yang ada).

Kelahiran kembali paganisme terlihat jelas dalam Revolusi Prancis, yang diterima secara luas sebagai hasil-akhir politis dari filsafat Pencerahan. Kaum Jacobin, yang memimpin periode “teroris” berdarah dari Revolusi Prancis, dipengaruhi oleh paganisme dan memendam kebencian luar biasa terhadap kaum Kristen. Akibat propaganda intensif para Jacobin selama masa-masa terdahsyat dalam revolusi, tersebar luaslah gerakan “penolakan atas agama Kristen”. Bersamaan pula, berdirilah sebuah “agama akal” baru yang didasarkan pada simbol-simbol pagan, alih-alih pada agama Kristen. Gelagat awalnya terlihat dalam “peribadatan revolusioner” dalam Festival Federasi pada 14 Juli 1790, yang kemudian makin meluas. Robespierre, pemimpin kaum Jacobin yang kejam, memperkenalkan aturan-aturan baru untuk “peribadatan revolusioner” dan menyusun prinsip-prinsipnya dalam sebuah laporan yang berjudul “Sekte Makhluk Tertinggi”. Hasil terpenting dari perkembangan ini adalah perubahan katedral Notre Dame yang terkenal menjadi sebuah “kuil akal budi”.


Kartu Klub Cordeliers milik Robespierre, pemimpin kejam pada masa revolusi Prancis. Simbol-simbol pagan seperti topi merah dan kayu-kau kecil yang diikatkan pada sebuah kapak adalah bukti nyatanya (kiri)
Ikon-ikon suci Kristen diturunkan dari dindingnya, dan di tengah-tengahnya ditegakkan sebuah patung wanita yang disebut “dewi akal budi”, atau dengan kata lain, sebuah berhala pagan.

Kecenderungan-kecenderungan pagan ini terlihat pada diri para revolusioner melalui berbagai simbol. Topi kemerdekaan yang dipakai oleh para garda revolusioner Revolusi Prancis dan seringkali menjadi simbol revolusi, bersumber dari dunia pagan dan penyembahan terhadap Mitra. 5

Kelahiran kembali paganisme, dan awal dominasi intelektualnya di Eropa, juga memberi jalan bagi kelahiran kembali fasisme, sebuah sistem yang mengakar di dunia pagan. Kenyataannya, Nazi Jerman, dengan sistemnya yang mengingatkan pada sistem yang dipraktikkan di Sparta, didasarkan pada paganisme. Untuk perkembangan ini, diperlukan sejumlah perubahan kultural yang mendasar antara Revolusi Prancis pada akhir abad ke-18 dan Nazi Jerman pada awal abad ke-20. Berbagai perubahan penting ini dibawa oleh sejumlah pemikir selama abad ke-19. Yang paling penting di antara mereka adalah Charles Darwin.


DARWINISME DAN KEBANGKITAN KEMBALI TAKHYUL PAGAN “EVOLUSI”

Salah satu takhyul paganisme yang bertahan, namun baru mulai bangkit kembali di Eropa pada abad ke-18 dan 19, adalah “teori evolusi”, sebuah teori yang berpendapat bahwa semua makhluk hidup menjadi ada di dunia ini sebagai hasil dari kejadian kebetulan semata, dan kemudian berkembang dari satu makhluk ke makhluk lainnya.


Tales, salah seorang pendukung pertama dongeng “evolusi.”
Karena pengabaian akan kehadiran Tuhan dan pemujaan terhadap berhala palsu rekaan mereka sendiri, kaum pagan menjawab pertanyaan tentang bagaimana kehidupan muncul di dunia dengan konsep “evolusi”. Gagasan ini pertama kali terlihat dalam prasasti Sumeria kuno, namun kemudian dibentuk lebih lanjut di Yunani kuno. Para filsuf pagan seperti Tales, Anaksimander, dan Empedokles menyatakan bahwa makhluk hidup, dengan kata lain manusia, hewan, dan tumbuhan, membentuk dirinya sendiri dari zat tak bernyawa yakni udara, api dan air. Menurut teori-teori mereka, makhluk hidup pertama muncul secara tiba-tiba di dalam air dan kemudian menyesuaikan diri di daratan. Tales lama tinggal di Mesir, tempat tersebar luas takhyul bahwa “makhluk hidup membentuk dirinya sendiri dari lumpur”. Orang-orang Mesir yakin bahwa begitulah terbentuknya katak yang muncul saat air sungai Nil surut.

Tales mengadopsi takhyul tersebut dan berupaya memberi sejumlah argumen untuk mendukungnya. Ia mengemukakan bahwa semua makhluk hidup muncul di dunia ini oleh dan dari dirinya sendiri. Klaim-klaimnya ini hanyalah berdasarkan teori, bukan dari percobaan ataupun penelitian. Metode serupa dipraktikkan oleh para filsuf Yunani kuno lainnya.

Anaksimander, seorang murid Tales, mengembangkan teori evolusi, yang menimbulkan dua cara penting pemikiran Barat. Pertama, bahwa alam semesta selalu ada dan akan terus ada selama-lamanya. Kedua, gagasan bahwa makhluk hidup berevolusi satu sama lain, sebuah gagasan yang secara perlahan-lahan mulai terbentuk pada masa Tales. Karya tertulis pertama yang membicarakan teori evolusi adalah puisi klasik “Tentang Alam”, di mana Anaximander menulis bahwa makhluk hidup muncul dari lumpur yang telah diuapkan oleh matahari. Ia mengira hewan-hewan pertama hidup di laut, dan memiliki cangkang berduri dan bersisik. Begitu makhluk-makhluk mirip ikan ini berevolusi, mereka pindah ke daratan, melepaskan cangkang sisik mereka, dan menjadi manusia. 6 Buku-buku filsafat melukiskan bagaimana Anaximander membentuk dasar-dasar teori evolusi.

Kita temukan bahwa Anaksimander dari Miletus (611-546 SM) mengemukakan gagasan evolusioner tradisional yang sudah sangat lazim pada zamannya, bahwa kehidupan pertama kali berevolusi dari sebentuk sup pre-biotik, dengan pertolongan sedikit cahaya matahari. Ia percaya bahwa hewan-hewan pertama berkembang dari lumpur laut yang telah diuapkan oleh sinar matahari. Ia juga yakin bahwa manusia merupakan keturunan ikan. 7

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. Luqman, 31:30)
Pendeknya, salah satu dari dua komponen pokok Darwinisme, yakni klaim bahwa makhluk hidup berevolusi dari makhluk hidup lainnya sebagai hasil dari peristiwa kebetulan, merupakan produk filsafat pagan. Unsur penting kedua dari teori Darwinisme, “perjuangan untuk bertahan hidup”, juga merupakan kepercayaan pagan. Para filsuf Yunani-lah yang pertama kali mengemukakan adanya peperangan di antara makhluk hidup untuk bertahan hidup di alam.


Dengan teorinya yang membela peperangan, konflik, dan persaingan untuk bertahan hidup di antara ras-ras, Charles Darwin memberikan dasar ideologis bagi fasisme.

Buku karya Erasmus Darwin, Zoonomia.
Gagasan evolusi, yang diuraikan oleh para filsuf pagan tanpa melalui percobaan dan penelitian, namun hanya melalui pemikiran abstrak, mulai terulang kembali pada abad ke-18 di eropa. Dalam pemikiran pagan, konsep evolusi disebut “Rantai Kehidupan yang Agung”, sebuah gagasan yang mempengaruhi oleh para pembela awal teori evolusi seperti para ilmuwan Prancis Benoit de Maillet, Pierre de Maupertuis, Comte de Buffon dan Jean Baptiste Lamarck. Dalam bukunya, Historie Naturelle, Buffon menyatakan dirinya sebagai “orang yang menguraikan doktrin Rantai Kehidupan yang Agung, dengan manusia di puncak rantai” 8. Pandangan-pandangan evolusionis Buffon diteruskan kepada Lamarck, dan akhirnya diwarisi oleh Charles Darwin.

Kakek Charles Darwin, Erasmus Darwin, adalah seorang evolusionis yang menganut kepercayaan pagan. Erasmus Darwin merupakan salah satu petinggi di pondokan Masonik Canongate Kilwining yang terkenal di Edinburgh, Skotlandia. Ia juga memiliki hubungan dekat dengan kaum Jacobin di Prancis dan organisasi Masonik Illuminati, yang prinsip dasarnya adalah kebencian terhadap agama. Dari penelitian yang ia lakukan di taman botanik seluas 8 hektar miliknya, Erasmus Darwin mengembangkan gagasan-gagasan yang kemudian akan membentuk Darwinisme, yang terangkum dalam bukunya Kuil Alam dan Zoonomia. Konsep “kuil alam” yang digunakan Erasmus merupakan testament dari kepercayaan pagan yang ia ambil, sebuah pengulangan kepercayaan pagan kuno bahwa alam memiliki daya kreasi.


DARWINISME MENYEDIAKAN DASAR-DASAR BAGI FASISME

Mitos evolusi, sebuah warisan dari paganisme Sumeria dan Yunani, memasuki kancah pemikiran Barat melalui karya Charles Darwin The Origin of The Species, yang diterbitkan tahun 1859. Dalam buku ini, sebagaimana dalam buku The Descent of Man, ia membahas konsep-konsep pagan tertentu yang telah menghilang di Eropa di bawah dominasi Kristen, dan membuat “pembenaran” bagi konsep-konsep tersebut dengan kedok ilmu pengetahuan. Kita dapat menguraikan konsep-konsep pagan yang ia coba benarkan, hingga menjadi dasar-dasar bagi perkembangan fasisme, sebagai berikut:

1) Darwinisme Memberikan Justifikasi Bagi Rasisme: Sebagai subjudul dari The Origin of the Species, Darwin menulis: “The Preservation of Favoured Races in The Struggle for Life (Keberlanjutan Ras-Ras Pilihan dalam Perjuangan untuk Hidup).” Dengan kata-kata ini, Darwin mengklaim bahwa ras tertentu di alam lebih “pilihan” daripada yang lainnya, dengan kata lain, bahwa mereka lebih unggul. Ia mengungkapkan dimensi gagasan-gagasannya mengenai ras manusia dalam The Descent of Man, di mana ia menulis bahwa orang kulit putih lebih unggul daripada ras-ras lain seperti Afrika, Asia, dan Turki, serta diperbolehkan memperbudak mereka.

2) Darwinisme Memberikan Justifikasi Bagi Pertumpahan Darah: Sebagaimana telah disebutkan, Darwin mengemukakan bahwa “perjuangan untuk bertahan hidup” yang mematikan terjadi di alam. Ia menyatakan bahwa prinsip ini berlaku baik pada masyarakat maupun individu, prinsip ini adalah suatu perjuangan sampai mati, dan sangat wajar bila ras-ras yang berbeda berusaha untuk saling melenyapkan demi kepentingan masing-masing. Singkatnya, Darwin menggambarkan sebuah arena di mana satu-satunya aturan adalah kekerasan dan konflik, dan dengan demikian menggantikan konsep-konsep perdamaian, kerja sama, pengorbanan diri, yang telah menyebar di Eropa dengan kedatangan agama Kristen. Jadi, Darwinisme menghidupkan kembali ide “arena”, sebuah pertunjukan kekerasan yang ditemukan di dunia pagan (Kekaisaran Roma).


Buku karya sejarawan Amerika Paul Crook 'Darwinism, War and History'
3) Darwinisme Membawa Kembali Konsep Egenetika Ke Dalam Pemikiran Barat: Konsep mempertahankan keunggulan rasial melalui pemeliharaan keturunan, yang dikenal sebagai egenetika, yang dilakukan bangsa Sparta dan dibela Plato dengan kata-katanya, “Para atlet-prajurit kita haruslah waspada seperti anjing penjaga”, muncul kembali di dunia Barat melalui Darwinisme. Darwin menyediakan seluruh bab dalam The Origin of the Species untuk membahas “perbaikan ras-ras hewan”, dan dalam The Descent of Man ia mempertahankan pendapatnya bahwa manusia adalah suatu spesies hewan. Tak lama kemudian, keponakan Darwin, Francis Galton, mengembangkan klaim pamannya selangkah lebih maju, dan mengemukakan teori egenetika modern. (Nazi Jerman selanjutnya menjadi negara pertama yang menerapkan egenetika sebagai kebijakan resmi).

Sebagaimana telah kita bahas, teori Darwin tampaknya hanyalah konsep mengenai ilmu pengetahuan biologi, tetapi sesungguhnya teori ini membentuk dasar-dasar untuk cara pandang politis yang benar-benar baru. Tak berapa lama, pandangan ini didefinisikan ulang sebagai “Darwinisme Sosial”. Dan sebagaimana telah diakui banyak sejarawan, Darwinisme Sosial menjadi dasar ideologis bagi fasisme dan Nazisme.

Dampak penggambaran Darwinisme tentang perang dan konflik telah dianalisis secara sangat mendetail dalam buku Darwinism, War and History: The Debate over the Biology of War from 'The Origin of Species' to the First World War, karya Paul Crook terbitan Universitas Cambridge. Crook menjelaskan bahwa dengan menggambarkan perang sebagai “kebutuhan biologis”, Darwinisme membentuk baik pembenaran formal bagi Perang Dunia I, maupun bagi berbagai kecenderungan suka perang dalam fasisme. Crook menulis:

Wacana Darwinis memberikan persetujuan pada sejumlah doktrin yang mengagungkan kekuatan, status, elitisme, pendudukan dan penindasan. Berbagai perbedaan antara budaya, jender, golongan, dan ras direduksi menjadi perbedaan biologis, yang tertanam dalam diri manusia selama berabad-abad perjuangan selektif. Model konflik Darwin membangkitkan perhitungan-perhitungan militeris dan rasis yang memberikan persetujuan bagi perang dan perjuangan imperialis sebagai ‘kebutuhan biologis’. 9

Dari berbagai asumsi (Darwinis) semacam itu timbullah beraneka konsekuensi buruk….. Perang diberi dalih…. Sebagaimana telah didebat oleh Frederick Wertham, jika kekerasan ‘adalah sifat alami manusia, dan jika kita semua bersalah, maka tidak seorang pun yang harus disalahkan. Dan jika kita semua bertanggung jawab, maka tak seorang manusia pun yang harus bertanggung jawab’… Perang Dunia I digambarkan sebagai usaha pemulihan terakhir bagi mitologi kebinatangan, yang disandikan dalam berbagai istilah teori genetika dan naluri dari neo-Darwinism. 10

Darwin berpikir untuk menggunakan ungkapan Hobbes ‘perang alam’ sebagai heading pada bab tentang perjuangan hidup dalam rancangan ‘buku besarnya’, Natural Selection…. Ia berbicara tentang makhluk hidup yang ‘saling menguasai’ satu sama lain: ‘melalui penggunaan terus menerus bahasa teramat dramatis yang menggambarkan kehidupan organisme di alam sebagai semacam perang heroik, dengan adanya pertempuran, kemenangan, kelaparan, kemiskinan dan pengrusakan, Darwin mencitrakan suatu pertarungan besar untuk bertahan hidup—sebuah citra yang melingkupi buku Origin’. 11

Sebagaimana telah dinyatakan Crook, Darwin tidak hanya mengemukakan bahwa manusia adalah “spesies” keturunan hewan, tetapi juga menggambarkan perang dan konflik sebagai “asal-usul spesies”. Pemikiran yang keliru ini menjadi pembenaran bagi pelestarian perang dan ideologi konflik, tepatnya, demi perkembangan fasisme itu sendiri.


FRIEDRICH NIETZSCHE: PIKIRAN SAKIT YANG MEMUJA KEKERASAN

Ada seorang pemikir abad ke-19 yang dipengaruhi oleh neo-paganisme yang menyertai Darwinisme, dan mengembangkannya, dan dengan demikian membina dasar bagi fasisme: Filosof Jerman Friedrich Nietzsche.


NIETZSCHE, SEORANG PENENTANG AGAMA YANG FANATIK
Nietzsche dipengaruhi gagasan-gagasan neo-pagan yang ditimbulkan oleh popularitas teori Darwin, dan meletakkan dasar-dasar fasisme. Nietzsche adalah seorang musuh agama yang galak, dan bukunya Anti-Christ dan Thus Spake Zarathustra, merupakan bukti nyata ketertarikannya pada paganisme.
Nietzsche lahir di sebuah desa dekat Leipzig pada tahun 1844. Ia mengagumi kebudayaan Yunani, karena mempelajari bahasa Latin sejak usia belia. Pada tahun 1868, ia mulai belajar filsafat di kota Basel, Swiss. Nietzsche membenci agama-agama samawi, seperti Kristen, Islam dan Yahudi, dan sebaliknya mengagumi budaya pagan Yunani kuno. Di Basel ia bersahabat karib dengan Wagner, komposer paling masyhur abad itu. Wagner, yang mulai terkenal dengan Die Götterdämmerung (Senjakala Tuhan), adalah seorang rasis Jerman yang juga terkagum-kagum pada budaya pagan dan membenci agama. (Wagner selanjutnya dipandang sebagai seorang jenius kebudayaan terbesar Jerman pada masa Hitler).


Wagner, seorang rasis dari Jerman, dikenal dengan penghormatannya pada paganisme Eropa dan kebenciannya pada agama ketuhanan, dipandang sebagai jenius seni terbesar pada zaman Hitler.
Penerbit Nietzche, Peter Gast, menyebut Nietzche sebagai “salah satu anti-Kristen dan ateis yang paling sengit”. 12 Peninggalan lain dari kebencian Nietzche terhadap agama adalah sebuah judul bukunya Anti-Christ. Dalam bukunya Thus Speak Zarathustra, ia berusaha untuk menyusun suatu sistem etika di luar agama samawi. Menurut H.F. Peters, penulis biografi Nietzsche, filsafatnya berdasarkan kepada paganisme Romawi dan Yunani dan dalam tulisan-tulisannya ia memanggil-manggil “seorang Caesar baru” untuk mengubah dunia. 13

Nietzsche secara khusus membenci pandangan-pandangan etika agama Kristen, Islam dan Yahudi. Menurutnya, konsep-konsep semacam cinta, kasih sayang, dan kerendahan hati, harus ditinggalkan dan digantikan dengan apa yang disebut “moralitas unggul” yang menyetujui perang dan kezaliman. Dalam Thus Spake Zarathustra, ia menulis, “Dari semua yang tertulis, aku hanya menyukai yang telah ditulis manusia dengan darahnya. Tulislah dengan darah, dan kau akan merasakan bahwa darah adalah roh.” 14

Nietzsche juga seorang rasis. Ia berpendapat bahwa satu golongan dari umat manusia terdiri dari übermensch (manusia-manusia super), dan bahwa golongan-golongan yang lain harus melayani dan mematuhi mereka. Lebih jauh lagi, ia mengklaim bahwa yang disebut “orang-orang super” ini akan membangun sebuah tatanan dunia yang aristokratis, sebuah teori yang dipraktikkan oleh pasukan Hitler pada awal Perang Dunia II tahun 1939.

Kedua aspek filsafat Nietzsche ini, yakni rasisme dan takzim kepada kekerasan, berhubungan dekat dengan Darwinisme. Pemikiran Nietzsche memang terpengaruh kuat oleh Darwin. Diskriminasi Darwin di antara ras-ras yang berbeda sangat sesuai dengan pandangan Nietzsche tentang “kaum superior dan inferior”. Nietzsche juga menyesuaikan kebenciannya pada agama dengan ateisme Darwin.

Dalam bukunya Darwin's Dangerous Idea, penulis Darwinis Daniel C,. Dennett menjelaskan pengaruh Darwin terhadap Nietzsche sebagai berikut: “Friedrich Nietzsche melihat… sebuah pesan yang bahkan lebih kosmik pada Darwin: … Jika Nietzsche adalah bapak eksistensialisme, maka mungkin Darwin pantas disebut sebagai kakeknya.” 15 Dennet menjelaskan dengan sangat detail bagaimana gagasan-gagasan Darwin dan Nietzsche bergerak sejajar, dan meskipun Nietzsche tampak mengkritik Darwin dalam beberapa tulisannya, Dennet memberi banyak contoh bagaimana Nietzsche jelas-jelas menyetujui pemikiran Darwin.

Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti (QS. Al Baqarah, 2:171)



Menurut sejarawan W. Cleon Skousen, buku Hitler Mein Kampf bagaikan “Nietzsche yang sedang berbicara dari kuburnya."
Setelah kematian Nietzsche, salah seorang penjelas filsafatnya paling penting adalah saudarinya sendiri, Elisabeth Nietzsche. Ia tampil sebagai seorang pendukung ideologi Nazi yang diakui di Jerman, dan mengumumkan bahwa model “manusia super” yang diajukan kakaknya telah dihidupkan oleh Hitler. 16

Pengaruh Nietzsche terhadap ideologi Nazi merupakan sebuah kenyataan yang ditekankan oleh begitu banyak sejarawan. W. Cleon Skousen menulis bahwa, saat “Hitler menulis Mein Kampf, seakan-akan Nietzsche berbicara dari kuburnya.” 17 Sejarawan lain, George Lichtheim, menulis, “Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa tanpa Nietzsche, SS—pasukan kejut Hitler, dan inti dari keseluruhan gerakan – akan kekurangan inspirasi untuk melakukan program pembunuhan massal mereka di Eropa Timur.” 18

Sebagaimana dinyatakan sejarawan H.F. Peters, banyak orang mengutuk Nietzsche sebagai “bapak fasisme”. 19 Dalam bukunya, The Myth of the 20th Century, ideolog Nazi Alfred Rosenberg secara terbuka memuji Nietzsche. Hitlerjugend (Kaum Muda Hitler), sayap kepemudaan dari gerakan Nazi, menjadikan buku Nietzsche Thus Spake Zarathustra sebagai sebuah naskah keramat. Adolf Hitler memerintahkan pembangunan monumen khusus untuk mengenang Nietzsche, dan merintis pendirian pusat-pusat pendidikan dan perpustakaan “di mana para pemuda Jerman dapat diajarkan doktrin Nietzsche mengenai ras unggul”. 20 Akhirnya, Gedung Peringatan Friedrich Nietzsche dibuka oleh Hitler pada bulan Agustus 1938.




PEMBANTAIAN MASSAL DI EROPA TIMUR
Menurut sejarawan George Lichtheim, Nietzsche merupakan inspirasi utama di balik kejahatan Hitler, pendiri unit-unit SS yang bertanggungjawab atas pembantaian massal orang Yahudi dan penduduk Slavia di Eropa Timur.

Pengaruh Nietzsche tidak hanya terbatas di Jerman, melainkan juga penting di Italia, tempat kelahiran fasisme. Penyair Gabriele D’Annunzio, yang dapat dianggap sebagai sumber inspirasi bagi Mussolini, sangat dipengaruhi oleh filsafat Nietzsche. 21 Para sejarawan mencatat bahwa pengganti D’Annunzio, Benito Mussolini juga mengakui berutang budi pada Nietzche. 22


Hitlerjugend (Pemuda Hitler), organisasi sayap pemuda Nazi, menganggap karya Nietzsche Thus Spake Zarathustra sebagai “kitab suci.”
Bencana yang menimpa umat manusia akibat fasisme yang dibangkitkan oleh Nietzsche, menjadi bukti historis betapa berbahayanya gagasan-gagasan filsuf Darwinis Jerman tersebut. Nietzsche, penentang moralitas luhur yang diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus, dan penganjur agar membawa manusia menuju abad modern dengan menggantikan moralitas tersebut dengan masyarakat yang brutal dan penindas, telah mengajukan gagasan Darwin bahwa manusia adalah suatu spesies binatang, dan membagi manusia menjadi ras-ras yang superior dan inferior. Ia merupakan contoh paling tepat dari kenyataan gelap tentang ke arah mana individu dan masyarakat diseret oleh tiadanya agama. Selain itu, kehidupan Nietzsche sendiri merupakan suatu peringatan.


Dr. P.J. Mobius (atas) menyatakan bahwa Nietzsche menderita “kerusakan otak” dan memperingatkan orang-orang atas gagasan-gagasan yang dihasilkan dari otak itu.
Pada usia 44 tahun ia dibawa ke rumah sakit jiwa. Di sana penyakitnya semakin memburuk, hingga ia meninggal di sana dalam keadaan tidak waras. Pada tahun 1902, seorang dokter bernama P.J. Mobius memperingatkan masyarakat bahwa “mereka harus berhati-hati terhadap Nietzsche, karena karya-karyanya adalah produk dari otak yang sakit.” 23 Namun, bangsa Jerman sangat menghormati filsafat sakit dari pikiran yang terganggu ini, maka lahirlah Nazi Jerman.

Nietzsche meninggal karena sifilis dalam kondisi jiwa yang hancur di sebuah rumah sakit jiwa. Kehidupan pribadinya tak kalah sakit dibandingkan filsafatnya.

Seperti semua orang yang selalu menolak keberadaan Tuhan, hidupnya berakhir menyedihkan.

“Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir ; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali Imran, 3: 176-178)


FRANCIS GALTON: INSPIRASI DI BALIK PEMBUNUHAN EGENETIKA

Ideologi abad ke-19 lainnya yang penting, yang membantu meletakkan dasar-dasar fasisme abad ke-20, adalah Francis Galton, dikenal sebagai pendiri teori “egenetika”.

Kita telah membahas konsep egenetika. Konsep ini memandang manusia sebagai spesies hewan dan merupakan hasil dari sebuah mentalitas yang mengkhayalkan kaidah hewan diterapkan juga kepada manusia. Konsep ini memegang kepercayaan bahwa ras manusia dapat dikembangkan dengan “metode pemeliharaan keturunan”, seperti yang dilakukan pada anjing atau sapi. Berdasarkan teori ini, masyarakat yang sakit dan cacat harus dicegah agar tidak berketurunan, (bahkan jika perlu, mereka harus dibunuh), dan orang-orang yang sehat harus “dibuat lagi” sebanyak mungkin untuk menjamin generasi-generasi selanjutnya yang kuat dan sehat. Kebijakan ini adalah kebijakan yang diterapkan oleh negara-kota Sparta, dan dipertahankan oleh Plato.


Francis Galton Charles Darwin

Francis Galton juga seorang evolusionis. Ia adalah sepupu Charles Darwin, dan dipengaruhi oleh Darwin dan Fisikawan Prancis Paul Broca. Galton menggagas teori “egenetika”, yang menyatakan bahwa ras-ras tertentu lebih unggul daripada ras lain dan yang kuat tidak boleh tercemari oleh yang lemah.

Dengan dominasi agama Kristen, egenetika dipindahkan ke dalam rak sejarah yang berdebu. Hingga buku Darwin The Origin of Species diterbitkan. Darwin memuat bab-bab pembuka bukunya dengan topik pemeliharaan hewan, mengarahkan perhatian kepada para peternak yang mengembangbiakkan kuda dan sapi yang lebih produktif, dan kemudian mengemukakan bahwa metode-metode ini dapat dilakukan pada manusia. Pada akhirnya, adalah keponakan Darwin, Francis Galton, yang memperluas jalan bagi egenetika yang telah dibuka oleh pamannya, dan yang membawa topik ini ke tingkat dunia dengan merumuskannya dalam program yang komprehensif.

Seperti kita dapat bayangkan, Galton adalah pendukung dan pengikut Darwin yang sangat fanatik. Dalam otobiografinya Memories of My Life, ia menulis:

Penerbitan buku The Origin of Species karya Charles Darwin pada tahun 1859 membuka jaman baru yang penting dalam perkembangan mentalku, seperti halnya dalam pikiran manusia pada umumnya. Pengaruhnya menghancurkan rintangan dogmatis yang begitu banyak dengan satu pukulan, dan membangkitkan semangat pemberontakan terhadap semua otoritas kuno dengan berbagai pernyataan positif dan tanpa bukti mereka yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. 24

Konsep-konsep yang diejek oleh Galton sebagai “rintangan dogmatis” dan “otoritas kuno” adalah sistem dan keyakinan religius. Dengan kata lain, Darwin menyebabkan “titik balik yang hebat” pada diri Galton, membuat ia melepaskan kepercayaannya, dan berpaling pada ateisme dan rasisme, sisa-sisa paganisme.

Selain Darwin, Galton juga dipengaruhi oleh ideolog evolusionis lainnya, yakni ahli ilmu fisika Prancis Paul Broca, yang mengemukakan bahwa kecerdasan manusia berhubungan langsung dengan ukuran otak, dan karenanya, juga ukuran kepala. Untuk “membuktikan” hal ini, ia membongkar kuburan-kuburan di Paris dan mengukur beratus-ratus tengkorak. Galton menyatukan takhyul Borca mengenai ukuran otak ini—yang kemudian terbukti benar-benar keliru—dengan filsafat “pengembangbiakan hewan” dari Charles Darwin. Hasilnya adalah teori “egenetika”, yakni bahwa ras-ras tertentu dari umat manusia lebih unggul dari ras-ras lainnya, dan bahwa ras unggul tersebut harus dijaga agar tak tercemar oleh ras-ras rendahan.

ILMU PENGETAHUAN RASIS DARI DARWINISME: PENGUKURAN TENGKORAK

Paul Broca, salah seorang Darwinis yang mempengaruhi Francis Galton, mengemukakan bahwa kecerdasan manusia secara langsung berkaitan dengan ukuran otak, dan karenanya, berkaitan pula dengan ukuran kepala. Untuk “membuktikan” teori ini, ia menggali kuburan-kuburan Paris dan mengukur ratusan tengkorak. Meskipun teori-teori Broca kemudian terbukti salah, pengukuran tengkorak dilakukan di berbagai negara, terutama Jerman. “Orang-orang unggul” diharapkan dapat teridentifikasi dari pengukuran-pengukuran ini.

Galton pertama kali menerbitkan gagasan-gagasannya pada 1869, dalam bukunya Hereditary Genius. Buku itu membahas sejumlah “kejeniusan” dalam sejarah Inggris dan mengklaim bahwa mereka memiliki ciri-ciri rasial murni. (Di antara “para jenius” ini, ia tidak lupa mengikutsertakan pamannya, Charles Darwin). Berkenaan dengan klaim itu, Galton kemudian menyatakan bangsa Inggris secara bawaan memiliki darah yang unggul dari ras-ras lain, dan perlu diambil langkah-langkah perlindungan agar darah itu tidak tercemar. Ia menganggap teori-teori ini dapat diterapkan tidak hanya pada bangsa Inggris, tetapi juga semua ras. Penulis Kanada Ian Taylor mengungkapkan hal ini dalam bukunya In the Minds of Men, di mana ia mengingatkan efek sosial dari Darwinisme:


Sebuah dokumen yang menjelaskan ukuran-ukuran yang digunakan di California, salah satu negara bagian Amerika yang melaksanakan “Undang-Undang Sterilisasi” yang rasis pada tahun 1930-an.
Yang ia (Galton) kini punyai adalah klaim bahwa ras-ras tertentu unggul secara bawaan dan keunggulan mereka ditentukan selamanya sejak dulu hingga nanti…. Kesimpulan berikutnya dari argumen Galton adalah bahwa demi masa depan umat manusia, pencemaran kelompok gen unggul yang berharga karena percampuran dengan keturunan rendahan harus dihentikan dengan segala cara. 25

Galton menyatakan bahwa langkah-langkah hukum harus dilakukan untuk mencegah “ras-ras rendahan mengotori ras-ras unggul”. Menurutnya, perkawinan harus diatur secara hukum. Untuk menamai teori rasis-evolusionisnya ini, Galton melihat ke dunia pagan yang pernah mempraktikkan ideologi serupa. Galton-lah yang menciptakan dan pertama kali menggunakan kata “egenetika”, dari bahasa Latin yang artinya “kelahiran baik”. Tak terelakkan, mereka yang mempercayai Darwinisme, pastilah juga mempercayai egenetika. Akhirnya, Masyarakat Edukasi Egenetika didirikan tahun 1907, bermarkas di Departemen Statistika Universitas College, London. Pada tahun 1926, namanya disederhanakan menjadi “Masyarakat Egenetika”.

Masyarakat egenetika menyatakan bahwa semua orang cacat harus “disterilkan”. Putra Charles Darwin, Leonard Darwin, adalah ketua organisasi ini sejak tahun 1911 hingga 1928, dan merupakan anggota paling aktif.

Setelah di Inggris, egenetika mulai meraih dukungan di Amerika Serikat. Kelompok-kelompok evolusionis di sana melakukan banyak sekali propaganda mengenai hal ini pada tahun 1920-an dan 1930-an, dan beberapa negara bagian tertentu mensahkan undang-undang yang dikenal dengan “Undang-Undang Sterilisasi”. Undang-undang ini mengijinkan pensterilan laki-laki dan perempuan yang diyakini secara genetis lemah atau sakit.

Undang-undang tersebut saat ini dipandang di Amerika Serikat sebagai contoh kerugian rasisme. Bahkan, gagasan ini sekarang dianggap sebagai takhyul yang sama sekali bertentangan dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan. Projek genom manusia telah memperlihatkan bahwa perbedaan genetik antara ras-ras dan individu-individu sangat kecil, dan bahwa sangat bodoh bila mencoba membuat kebijakan reproduksi berdasarkan hal itu. Ras-ras manusia diciptakan setara oleh Allah. Dalam Al Quran, Allah berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujuraat, 49:13)

HANDICAPPED ORANG-ORANG CACAT YANG DIBUNUH BERDASARKAN TEORI EGENETIKA


Berdasarkan teori egenetika yang dikembangkan oleh sepupu Darwin, Francis Galton, orang-orang yang sakit dan cacat harus dicegah jangan sampai mereka memiliki keturunan, dan generasi yang sehat harus dijamin dengan mewajibkan orang-orang sehat untuk “bereproduksi” sebanyak mungkin.

Ernst Haeckel, pendukung Darwinisme yang paling fanatik, membawa gagasan ini satu langkah lebih jauh. Ia mengusulkan agar sebuah komisi dibentuk untuk membunuh para penyandang cacat dengan menggunakan racun. Gagasan-gagasannya ini dilaksanakan oleh Nazi. Gambar-gambar pada halaman ini memperlihatkan sebagian orang cacat yang
dibunuh Nazi.


Ernst Haeckel (kiri) Galton, sepupu Darwin,
sang pencetus teori egenetika (kanan)

Orang-orang yang lemah dan sakit secara genetis harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang, dilindungi dan dirawat, bukannya “disterilkan”. Namun alih-alih melakukan pendekatan ini, yang diungkapkan Allah sebagai kewajiban moral religius, dunia Barat pada awal abad ke-20 malah berpaling pada egenetika, sebuah produk paganisme dan teori evolusi. Dan, skala kebiadaban yang diakibatkan oleh teori pagan-evolusioner ini akan terungkap ketika kita mencermati kasus Jerman.


ERNST HAECKEL: TEORITISI NAZI YANG RASIS

Nama terakhir di ujung jalan dari Darwin hingga Nazi yang harus kita cermati adalah ahli zoologi Ernst Haeckel, Darwinis paling terkenal di Jerman dan pendukung fanatik egenetika.

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, Haeckel dikenal karena teorinya bahwa “ontogeni mengulangi filogeni”. Dengan teori evolusioner ini, Haeckel menyatakan bahwa perkembangan embrio mengulangi “sejarah evolusi”. Ia mengira tahap-tahap perkembangan embrionik mengulangi tahap-tahap dewasa dari nenek moyang suatu spesies. Untuk mendukung teorinya, yang ia kembangkan di bawah pengaruh Darwin, Haeckel membuat sejumlah gambar embrio. Kelak diketahui bahwa ia telah melakukan distorsi yang disengaja terhadap gambar-gambar itu, dan teorinya tak lain dari sebuah pemalsuan. Haeckel adalah seorang “tukang obat” yang menggunakan bukti-bukti yang palsu agar Darwinisme diterima secara ilmiah.

Contoh lain dari sains keliru yang dikemukakan Haeckel adalah teori egenetika. Ia mengambil teori ini dari orang-orang seperti Charles Darwin, Francis Galton dan Leonard Darwin, dan mengembangkannya lebih lanjut, dengan menganjurkan untuk berpaling kepada model bangsa Sparta di Yunani kuno: Dengan kata lain, untuk membunuhi anak-anak! Dalam bukunya Keajaiban Hidup, tanpa ragu-ragu Haeckel mengusulkan “pemusnahan bayi-bayi baru lahir yang abnormal”, dan mengklaim bahwa tindakan itu “tak dapat digolongkan sebagai pembunuhan”, karena anak-anak ini belum memiliki kesadaran. 26


Ernst Haeckel
Haeckel menghendaki semua orang sakit dan cacat yang bisa menjadi rintangan bagi evolusi masyarakat—tidak hanya anak-anak— untuk dilenyapkan sebagai tuntutan “hukum evolusi”. Ia menentang perawatan orang-orang sakit, dengan menyatakan bahwa hal ini menghalangi bekerjanya seleksi alam. Ia mengeluh bahwa “ratusan dari ribuan orang yang tak tersembuhkan—orang gila, penderita kusta, kanker dan lain-lain—secara artifisial dibiarkan hidup dalam masyarakat modern kita… tanpa keuntungan sedikit pun bagi mereka sendiri atau masyarakat umum”. Lebih jauh, ia menganjurkan bahwa sebuah komisi harus dibentuk untuk memutuskan nasib individu. Atas keputusan komisi ini “penyelamatan dari kejahatan” dapat dicapai dengan satu dosis racun yang cepat kerjanya dan tanpa rasa sakit.” 27

Kebiadaban yang menjadi dasar bagi teori Haeckel ini, dipraktikkan oleh Nazi Jerman. Tak lama setelah berkuasa, kaum Nazi membuat sebuah kebijakan egenetika resmi. Orang-orang yang sakit jiwa, cacat, buta sejak lahir, dan penderita penyakit turunan, dikumpulkan dalam “pusat-pusat sterilisasi”. Orang-orang ini dianggap sebagai parasit yang merusak kemurnian ras Jerman dan kemajuan evolusionernya. Beberapa lama setelah dipisahkan dari masyarakat, mereka akhirnya dibunuh atas perintah khusus dari Hitler.

Merupakan fakta yang telah dikenal luas, dinyatakan oleh banyak sejarawan yang telah mempelajari masalah ini, bahwa gagasan-gagasan Ernst Haeckel, dan ideologi Darwinis pada umumnya, adalah dasar ideologis bagi Nazisme. Dalam bukunya The Scientific Origins of National Socialism: Social Darwinism in Ernst Haeckel and the German Monist League, sejarawan Amerika Daniel Gasman mengajukan banyak bukti. Menurut Gasman, Haeckel “menjadi salah seorang idealis Jerman yang utama untuk rasisme, nasionalisme dan imperialisme.” 28 Haeckel meninggalkan warisan organisasional dan ideologis bagi Nazisme. Di satu sisi ia mengembangkan teori egenetika dan rasisme, dan di sisi lain ia membangun sebuah perkumpulan ateis “Monist League”, yang memegang peranan utama dalam akibat yang ditimbulkan kaum Nazi terhadap masyarakat golongan terpelajar.

GAGASAN MANUSIA DIANGGAP SEBAGAI “BINATANG”, DASAR IDEOLOGIS DI BALIK PEMBANTAIAN OLEH NAZI
Pembantaian egenetis—yang didukung oleh Ernst Haeckel dan dilaksanakan oleh Nazi setelah tahun 1933—dan pembunuhan massal yang dilakukan terhadap berbagai kelompok etnis seperti Yahudi dan Gipsi selama perang, memiliki persamaan utama: pemikiran bahwa manusia sama dengan binatang.
Dengan inspirasi yang mereka ambil dari teori evolusi Darwin, kaum Nazi menganggap umat manusia terdiri dari kelompok-kelompok hewan yang berbeda-beda yang membuat manusia terbagi menjadi ras-ras. Mereka juga yakin bahwa harus ada konflik yang berkelanjutan di antara ras-ras ini. Sebagai hasil dari takhyul ini, mereka menghalalkan pembunuhan wanita-wanita dan anak-anak tak berdosa, orang-orang sakit dan para manula, atas nama “kemurnian rasial."

Ben Macintyre, sejarawan Cambridge dan jurnalis London Times menjelaskan pemikiran Darwinis yang diwariskan Haeckel bagi kaum Nazi:

Ahli embriologi Jerman Haeckel dan Monist League-nya mengatakan pada dunia, dan khususnya Jerman, bahwa seluruh sejarah bangsa-bangsa dapat dijelaskan melalui seleksi alam: Hitler dan teori sintingnya mengubah ilmu semu ini menjadi politik, dengan berupaya untuk menghancurkan seluruh ras atas nama kemurnian rasial dan perjuangan untuk hidup… Hitler menamakan bukunya Mein Kampf, "Perjuanganku," yang menggaungkan terjemahan Haeckel atas ungkapan Darwin “perjuangan untuk bertahan hidup”. 29

Pengaruh Darwinis terhadap akar Nazisme dan ideologi-ideologi fasis lain akan dibahas secara lebih mendetail dalam bagian selanjutnya dari buku ini.


FASISME: KEMBALINYA PAGANISME

Pada awal bab ini, kita telah mengidentifikasi fasisme sebagai sebuah sistem kekerasan yang muncul dalam masyarakat pagan. Penyebab mendasar dari kecenderungan kekerasan dalam fasisme berasal dari filsafat “pemujaan kekuatan”, bahwa kekuatan adalah kebenaran. Si kuat berhak untuk naik ke puncak dan menghancurkan si lemah. Kaum fasis sangat mengagumi si kuat, sebaliknya membenci dan meremehkan si lemah. Prinsip-prinsip dasar dari filsafat sesat ini adalah mengobarkan peperangan, menumpahkan darah, kekejaman dan kebengisan.

Berlawanan dengan mentalitas menyimpang yang muncul di Sparta, di arena-arena kekaisaran Roma, dan pada suku-suku bangsa pagan yang biadab di Eropa Utara ini, ada sebuah moralitas yang begitu indah yang diturunkan Tuhan kepada kita melalui agama. Sebagaimana diperlihatkan sepanjang sejarah oleh para nabi dan kitab-kitab suci seperti Taurat, Injil dan Al Quran, yang berbicara bukanlah “kekuatan”, melainkan “kebenaran”. Umat manusia harus dinilai dari apakah ia memenuhi kebenaran yang diturunkan Tuhan ataukah tidak, bukan dari kekuatan mereka. Yang kuat diwajibkan berlemah lembut dan belas kasihan kepada yang lemah, bukannya menghancurkan dan menindas mereka. Kewajiban manusia adalah untuk melindungi yang lemah dan bermurah hati serta mencintai perdamaian, bukannya bersikap kejam dan bengis.



Ideolog Nazi Alfred Rosenberg bersikeras bahwa agama Kristen tidak mampu memberikan “energi spiritual” yang cukup bagi Reich Jerman yang akan dibangun di bawah kepemimpinan Hitler. Menurutnya, ras Jerman harus kembali kepada agama pagan kuno mereka.
Fasisme modern, yang berakar di abad ke-19, merupakan produk ideologi-ideologi yang ingin melawan kaidah-kaidah moralitas yang diturunkan kepada umat manusia melalui agama, dan menggantikannya dengan budaya pagan yang rasis, haus darah dan kejam. Kecenderungan neo-pagan, yang dimulai dengan Revolusi Prancis, dibentuk oleh Friedrich Nietzsche, dan diusung oleh ideologi Nazi. Para evolusionis seperti Charles Darwin, Francis Galton dan Ernst Haeckel berusaha keras memberikan dukungan “ilmiah” bagi paganisme baru ini, dengan mengingkari keberadaan Tuhan, dan berupaya untuk memperlihatkan bahwa seluruh kehidupan terdiri atas “perjuangan untuk bertahan hidup”, dan dengan demikian memberi pembenaran bagi rasisme.


PROPAGANDA MELALUI SENI
Golongan Nazi juga menggunakan seni untuk membangkitkan kembali paganisme. Bentuk-bentuk, patung-patung dan simbol-simbol Yunani kuno mendadak menjadi bagian dari budaya Jerman. Gambar-gambar pria dan wanita yang kuat untuk menggambarkan ras Aria, dibuat menyerupai patung-patung Yunani kuno.
Sejarawan Amerika, Gene Edward Veith, menyimpulkan perkembangan ini dalam bukunya Modern Fascism: Liquidating the Judeo-Christian Worldview sebagai berikut: “Fasisme adalah nostalgia dunia modern atas paganisme… Ia adalah sebuah pemberontakan kultural yang canggih melawan Tuhan.” 30

Nazisme jelas-jelas memperlihatkan fakta tersebut. Kaum Nazi membela paganisme, baik selama tahap awal maupun saat mereka meraih kekuasaan pada tahun 1933. Mereka menjauhkan masyarakat Jerman dari agama Kristen, dan berusaha mengalihkannya kepada kepercayaan pagan.


Satu orang lagi yang berusaha menghidupkan kembali paganisme Jerman adalah Stefan George, yang terkenal sebagai salah seorang penyair besar Jerman, dan kecenderungan penyimpangan seksualnya terhadap anak-anak lelaki.
Bahkan sejak tahun 1920-an, Alfred Rosenberg, ideolog Nazi terkemuka, telah menyatakan bahwa agama Kristen tidak akan mampu membangkitkan energi spiritual yang memadai di bawah Kekaisaran Ketiga yang dibangun oleh kepemimpinan Hitler, dan bahwa rakyat Jerman harus kembali pada agama pagan kuno. Menurut Rosenberg, saat memegang kekuasaan, kaum Nazi harus mengganti semua simbol agama Kristen di gereja-gereja dengan swastika, salinan Mein Kampf, dan pedang-pedang yang melambangkan keperkasaan Jerman. Hitler terpengaruh oleh pandangan-pandangan Rosenberg ini, meskipun ia menahan diri untuk tidak menerapkan apa yang disebut agama Jerman karena ia takut pada reaksi rakyatnya nanti. 31

Namun, praktik-praktik neo-pagan diujicobakan selama jaman Nazi. Tak lama setelah Hitler berkuasa, hari besar dan perayaan kaum Kristen diganti dengan hari besar dan perayaan pagan. “Ibu Bumi” atau “Ayah Langit” disebut-sebut dalam upacara-upacara pernikahan. Pada tahun 1935, doa-doa Kristen di sekolah dihentikan, dan kemudian semua pelajaran mengenai agama Kristen dilarang.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku The Pink Swastika, yang membahas ideologi-ideologi pagan Nazi (dan berbagai kecenderungan homoseksual), “kebangkitan kembali paganisme Yunani kuno menjadi sebuah aspek mendasar identitas Nazi”. 32

Buku itu menekankan fakta adanya kecenderungan homoseksual dalam gerakan pagan yang membentuk dasar-dasar bagi identitas Nazi. Ia juga memberi contoh menarik tentang hubungan Nazi dengan budaya pagan Yunani:


UPACARA-UPACARA NAZI MENIRU UPACARA RITUAL PAGAN
Siapakah “para intelektual” yang memopulerkan fasisme Nietzschean di Jerman ini? Stefan George, salah satu penyair Jerman terpopuler saat itu, adalah seorang pencabul bocah laki-laki dan “contoh panutan” bagi “Komunitas Istimewa… “George dan para muridnya” menulis bahwa Oosterhuis dan Kennedy “membangkitkan kembali konsep Holderlin yakni Griechendeutschen (Jerman Hellenis)… Buku terakhirnya (Stephen George), Das neue Reich (Kerajaan Baru) yang diterbitkan pada tahun 1928, “meramalkan sebuah jaman di mana Jerman akan menjadi Yunani kedua”. Pada tahun 1933, saat Hitler berkuasa, ia menawari George posisi sebagai ketua umum Akademi Sastra Nazi. 33

Di bawah kekuasaan Nazi, banyak pelaksanaan kebijakan yang bertujuan untuk menegakkan kebangkitan kembali budaya pagan. Anak-anak sekolah diajari apa yang disebut dengan “Sejarah Jerman pra-Kristen yang Gemilang”, dan berbagai ritual serta upacara warisan budaya pagan diadakan di seluruh Jerman. Semua pertemuan Nazi dilakukan dalam bentuk upacara tradisional pagan. Hampir tidak ada perbedaan antara rapat-rapat umum Nazi, yang diselenggarakan di bawah bayang-bayang obor yang menyala, di mana slogan-slogan penuh dengan kebencian dan permusuhan diteriakkan dan musik pagan Wagner dimainkan, dengan upacara-upacara sesat yang dilakukan ribuan tahun lalu di kuil-kuil dan altar-altar pagan:.

Untuk membangun kembali paganisme, kaum Nazi juga memanfaatkan seni. Berbagai konsep dan lambang Yunani kuno mulai menonjol di bawah kekuasaan Nazi, dan banyak patung seperti patung Yunani dibuat, yang menggambarkan pria dan wanita kuat dari ras Aria. Hitler mengimpikan sebuah “ras unggul” akan terbentuk melalui egenetika, dan sebuah “kerajaan dunia” yang kejam dan penindas akan didirikan berdasarkan model Sparta. Ungkapan “Reich Ketiga” merupakan penegasan keyakinan akan impiannya ini. (Hitler berusaha mendirikan kerajaan Jerman ketiga dan terbesar setelah dua kerajaan berdiri sebelumnya). Karena impiannya ini, 55 juta orang tewas dalam Perang Dunia II, konflik paling berdarah yang pernah disaksikan dunia. Genocide yang dilakukan Nazi terhadap beragam kelompok etnis seperti Yahudi, Gipsi, dan Polandia, sebagaimana juga para tahanan perang dari bangsa-bangsa lain, merupakan kekejaman yang belum ada tandingannya dalam sejarah.

Dalam bab berikut, kita akan memahami dalam kondisi-kondisi seperti apakah fasisme dapat meraih kekuasaan, dan yang dilakukannya setelah itu.


SIMBOL-SIMBOL PAGAN DALAM FASISME

Simbol Nazi, swastika, seringkali dianggap sebagai simbol agama Kristen karena kemiripannya dengan salib. Namun, sebenarnya swastika adalah simbol pagan yang berasal dari kepercayaan Jerman pra-Kristen.


Liebenfels, yang meninggalkan agama Kristen dan beralih pada paganisme, merupakan orang pertama yang menggunakan swastika pada abad ke-20 Nazi Jerman. Cap pada gambar kiri diambil dari sampul buku Liebenfels. Simbol dewa perang Wotan (Odin) kemudian diambil alih
oleh Nazi.
Orang pertama yang menggunakan swastika sebagai simbol pada abad ke-20 di Jerman adalah Jorg Lanz von Liebenfels, salah seorang ideolog terkemuka dalam perkembangan ideologi Nazi, yang mungkin dianggap sebagai penggagas yang sebenarnya mengenai teori-teori rasis menyangkut ras Jerman. Sewaktu muda ia adalah seorang pendeta Kristen, namun dikarenakan kecenderungan penyimpangan seksualnya, ia dikeluarkan dari gereja, meninggalkan agama Kristen dan beralih pada kepercayaan pagan. Ia mendirikan organisasi pagan Ordo Novi Templi (Ordo Kuil Baru), dan mengumumkan bahwa mereka menyembah Wotan, salah satu dewa pagan dalam mitos Jerman kuno. (Wotan, atau Ordin dalam bahasa bangsa-bangsa di utara, adalah dewa perang yang menunggang kuda berkaki delapan dan membawa sebuah tombak). Von Liebenfels ingin menghidupkan kembali kepercayaan menyimpang ini, dan menyatakan bahwa ia telah memilih swastika sebagai simbol Wotan. Simbol pagan ini kemudian diambil alih oleh Nazi, yang juga sangat mengagumi paganisme kaum barbar Eropa, dan menganggap diri mereka sedang melakukan pembantaian, penaklukan dan pembunuhan atas nama Wotan.

Kesetiaan pada kepercayaan pagan juga dapat dilihat dari simbol-simbol yang digunakan Mussolini. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, “fasisme”, yang merupakan ciptaan Mussolini, berasal dari bahasa Latin fasces, yang artinya kumpulan kayu-kayu kecil yang diikatkan pada sebuah kapak, digunakan pada zaman Romawi kuno. Pejabat senior yang disebut “lictor” membawa benda ini…, yang dipercayai sebagai simbol kekuatan dan kedaulatan.



Liebenfels, yang meninggalkan agama Kristen dan beralih pada paganisme, merupakan orang pertama yang menggunakan swastika pada abad ke-20 Nazi Jerman. Cap pada gambar kiri diambil dari sampul buku Liebenfels. Simbol dewa perang Wotan (Odin) kemudian diambil alih
oleh Nazi.

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.”
(QS. An-Najm, 53: 23)

Ref : http://www.harunyahya.com/indo/buku/fasisme2.htm

0 comments: