Minggu, 20 Februari 2011

Gelegar Iron Maiden


TEMPO Interaktif, Jakarta - Di antara raungan gitar dan dentuman musik metal yang menggelegar, vokal Bruce Dickinson yang begitu bertenaga melengking memecah langit Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, yang cerah. Kamis malam lalu, grup musik heavy metal Iron Maiden menggebrak Jakarta lewat konser bertajuk "The Final Frontier World Tour 2011".

Malam itu Dickinson--frontman grup cadas asal Inggris tersebut--tampil mengenakan kaus hitam tanpa lengan, celana model army look, dan tutup kepala bergambar tengkorak. Lengkingan Dickinson yang membawakan nomor pembuka konser, Satellite 15... The Final Frontier, menyihir sekitar 25 ribu troopers--sebutan untuk penggemar berat Iron Maiden.

Tak hanya jangkauan vokalnya yang lebar, aksi Dickinson di atas panggung juga membuat para troopers terpukau. Sang vokalis begitu lincah bergerak dan berlarian menjangkau seluruh area panggung. Kadang Dickinson berjingkrak-jingkrak di atas kontainer bergambar tengkorak yang teronggok di pentas dan kemudian melompat kembali ke lantai panggung. Ia seolah tak kenal lelah.

Aksi memukau juga disuguhkan para personel Iron Maiden lainnya. Steve Harris dengan cabikan basnya. Tiga gitaris--Dave Murray, Janick Gers, dan Adrian Smith--beraksi dengan gaya masing-masing dalam memainkan melodi gitarnya. Mereka tampak solid dengan raungan gitarnya yang bersahutan. Lalu Nicko McBrain terlihat begitu bertenaga dan lincah menabuh drumnya.

Aksi panggung para personel Iron Maiden, yang rata-rata telah berusia di atas 50 tahun, itu tak kalah lincah dibanding aksi band pembuka konser, Raise to Remain. Band pembuka asal Inggris yang beraliran metalcore itu merupakan kelompok musik Austin Dickinson, anak Bruce Dickinson, bersama empat temannya.

Setelah nomor pembuka, tanpa basa-basi Dickinson langsung menggeber dengan lagu El Dorado dan 2 Minutes to Midnight. Dua pekan lalu El Dorado, yang diambil dari album terakhir Iron Maiden, The Final Frontier, menyabet penghargaan musik bergengsi, Grammy Awards, untuk kategori Best Metal Performance. Adapun 2 Minutes merupakan nomor dari album lawas mereka, Powerslave, yang dirilis pada 1984.

Dickinson baru menyapa para penggemar beratnya ketika ia akan membawakan lagu keempat, Coming Home. "Lagu ini bercerita tentang bagaimana rasanya berada di pesawat untuk pergi ke suatu tempat. Serasa ingin coming home," kata Dickinson, yang disambut tepuk tangan dan teriakan para penonton.

Para penonton kian histeris begitu intro lagu yang sangat mereka kenal, The Trooper, terdengar. Permainan gitar yang disambut ketukan drum langsung membuat para penonton, yang terbagi dalam tiga area, festival A , B, dan C, langsung berteriak histeris. Di atas panggung, Dickinson, yang telah berganti kostum dengan seragam tentara Kerajaan Inggris berwarna merah, tampak membawa bendera Inggris. Aksi Dickinson pun menggila. Ia berlarian mengitari panggung sambil mengibarkan bendera Inggris.

Setelah The Trooper, selanjutnya para penonton berturut-turut disuguhi nomor The Wicker Man, Blood Brothers, When the Wild Wind Blows, The Talisman, The Evil That Men Do, Fear of the Dark, dan Iron Maiden. Saat nomor Iron Maiden dimainkan, para penonton dikejutkan oleh kemunculan Eddie, sosok monster yang menjadi maskot Iron Maiden, di atas panggung. Sosok mirip zombie ciptaan Derek Riggs itu memang selalu muncul di sampul album atau konser Maiden.

Malam itu kemunculan Eddie dengan matanya yang merah menyala, ditambah aksi gitaris Janick Gers yang memutar-mutarkan gitarnya di udara, membuat para penonton tak henti-hentinya memberikan aplaus. Tempik riuh penonton menggemuruh sepanjang konser yang tiketnya dibanderol seharga Rp 350-750 ribu itu.

*****

Lahir di Leyton, London Timur, Inggris, pada hari Natal 1975, Iron Maiden termasuk sedikit di antara grup musik yang bertahan hingga tiga dasawarsa lebih. Nama band cadas itu dicomot dari film yang diangkat dari novel The Man in the Iron Mask karya Alexandre Dumas.

Debut album mereka, Iron Maiden, dirilis pada 1980. Kehadiran album perdana itu mendapat sambutan antusias dan mengantarkan Iron Maiden menjadi salah satu pionir new wave of British heavy metal (generasi grup metal yang terpengaruh oleh punk rock).

Nama Iron Maiden mulai melambung ketika mereka merilis album The Number of the Beast pada 1982. Sejak itulah Iron Maiden melaju sebagai grup heavy metal papan atas. Sepanjang perjalanannya, mereka telah menelurkan 15 album studio. Album terakhir mereka, The Final Frontier, dirilis pada Agustus tahun lalu.

Untuk mendukung album teranyar mereka itu, Iron Maiden kemudian mengadakan tur konser bertajuk "The Final Frontier World Tour 2011". Sepanjang tahun ini, mereka telah dijadwalkan menggelar 62 konser di kota-kota di lima benua, termasuk Jakarta dan Bali. Jakarta merupakan kota ketiga yang disinggahi setelah Moskow, Rusia, dan Singapura.

Menurut Tommy Pratama, bos Original Production, ia telah melakukan pendekatan sejak lima tahun lalu untuk bisa mengajak Iron Maiden menggelar konser di Indonesia. "Sebetulnya mereka sudah mau menggelar konser di sini pada 2008, tapi batal karena waktu itu tengah merebak wabah SARS di Asia," kata Tommy di kantornya pada Sabtu pekan lalu.

Iron Maiden mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Rabu sore lalu, dengan menggunakan pesawat khusus Ed Force One. Pesawat jenis Boeing 757 dengan nomor penerbangan PV 666 itu dipiloti sendiri oleh Bruce Dickinson--sang vokalis Iron Maiden.

Ed Force One mulai disewa Iron Maiden dari perusahaan penerbangan Astraeus sejak 2008, ketika mereka mengadakan "Somewhere In Time World Tour". Boleh dibilang Ed Force One menjadi semacam pesawat kepresidenan bagi Iron Maiden. Dan Dickinson, pemegang lisensi pilot pesawat Boeing 757, menerbangkannya selama mereka mengadakan tur.

Selain membawa para personel dan kru Iron Maiden sekitar 60 orang, pesawat itu mengangkut sekitar 25 ton peralatan konser. "Dibutuhkan tak kurang dari 40 kontainer untuk mengangkut barang mereka, dari Cengkareng ke Pantai Karnaval, Ancol," ujar Tommy.

Kedatangan Iron Maiden di Cengkareng disambut sekitar seratus penggemarnya, yang tergabung dalam Indonesian Troopers. Para troopers yang datang dari berbagai kota di Indonesia itu telah menunggu di bandara sejak pukul 10 pagi. Mereka, yang berkostum hitam bertulisan Iron Maiden dalam beragam corak, tampak begitu antusias menunggu sang idola tiba. "Kami benar-benar gembira ternyata Iron Maiden bisa datang untuk konser di sini," kata Syam Imam, koordinator Indonesian Troopers.

Dari bandara Cengkareng, para personel Iron Maiden menaiki tiga sedan mewah Mercedes seri S Class dan dua minibus. Mereka meluncur ke Hotel Shangri-La, Jakarta, tempat mereka menginap, sebelum menggelar konser di Pantai Karnaval, Ancol, besok malamnya.

******

"We want more... we want more!" teriak para penonton membahana ketika Dickinson mengucapkan "thank you" dan lampu di panggung padam. Selang beberapa menit kemudian, lampu panggung menyala kembali dan Iron Maiden siap beraksi.

Pada pengujung konser, mereka membawakan The Number of the Beast dan Hallowed Be Thy Name. Iron Maiden menutup konsernya dengan nomor Running Free. Sebelum pamit, Dickinson memperkenalkan para personel satu per satu.

Sepanjang sekitar satu setengah jam konser yang dimulai pukul 21.00 itu, Iron Maiden memenuhi dahaga para penggemar beratnya. Setelah Jakarta, Dickinson dan kawan-kawan siap menggebrak Bali malam ini.

Ref : http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2011/02/20/brk,20110220-314662,id.html

0 comments: