Selasa, 01 Februari 2011

Fahmi Salsabila: Jika Mubarak Bertahan, Kerusuhan Bisa Membesar di Mesir


akarta - Sekian lama sejumlah negara di Timur Tengah berada dalam status quo. Namun pada 2011 ini, perubahan besar terjadi. Menyusul demonstrasi besar menyerukan reformasi total di Tusinia, penduduk Mesir melakukan hal serupa. Mereka ingin Hosni Mubarak yang telah berkuasa 30 tahun segera turun.

Menghadapi demonstrasi besar-besaran, Mubarak menunjuk Omar Suleiman sebagai wakil presiden. Hal ini pertama kali dilakukan Mubarak selama 3 dekade dia berkuasa. Mubarak pun melakukan perombakan kabinet, namun gelombang demonstrasi tidak juga reda.

Rupanya yang diinginkan masyarakat Mesir bukan sekadar reformasi namun revolusi. Mereka menginginkan Mubarak turun dan pergi meninggalkan Mesir. Hingga hari kedelapan demonstrasi, Mubarak masih belum mau meninggalkan kursi presidennya. Jika mengabaikan permintaan rakyat, dikhawatirkan kerusuhan besar akan terjadi di Mesir.

"Kalau dia kukuh mau bertahan, bisa-bisa ya dijatuhkan secara paksa, kerusuhan massa yang sangat besar bisa terjadi, sehingga banyak korban yang akan jatuh. Sebaiknya Mubarak mendengarkan kemauan rakyat, kecuali dia ingin menghabisi rakyatnya sepeti China di Tiananmen. Kalau demikian, ini bencana yang sangat buruk," kata pengamat Timur Tengah dari Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Fahmi Salsabila.

Seperti diketahui, pada 4 Juni 1989 puluhan ribu mahasiswa menuntut demokratisasi di lapangan Tiananmen. Mereka ditindak secara represif, di mana beberapa tank Pasukan Tentara Merah dengan tega menggilasnya. Alhasil ribuan mahasiswa tewas berlumuran darah. Tidak hanya itu, ribuan mahasiswa ditangkap dan dipenjara. Beberapa mahasiswa bahkan dinyatakan hilang.

Berikut ini wawancara detikcom dengan staf pengajar di Universitas Al-Azhar, Jakarta ini, Selasa (1/2/2011):

Apa yang paling melatarbelakangi demonstrasi antipemerintah ini?

Momentumnya karena Tunisia dan juga karena kekecewaan dan ketidakpuasan rakyat yang sedemikian lama terhadap pemerintah. Hal ini juga didukung oposisi terbesar di Mesir yakni Ikhwanul Muslimin.

Jadi momentumnya adalah apa yang terjadi di Tunisia, di samping di dalam negeri ada pengangguran yang tinggi, inflasi tinggi, korupsi, makanya rakyat tidak lagi menginginkan Hosni Mubarak.

Mereka berpikir, sudah cukup Mubarak berkuasa. Sudah 30 tahun. Dulunya rakyat Mesir takut dengan represi Hosni Mubarak yang terkenal anti kebebasan berekspresi. Saat ini momennya dianggap tepat sehingga mereka tidak takut lagi. Mereka berani melawan sehingga korban tewas mencapai lebih dari 100 orang.

Akibat hal ini, warisan budaya di Mesir bisa saja rusak. Politik dan ekonomi otomatis terjadi perubahan. Dikhawatirkan, negara-negara Arab yang memiliki pola yang masih seperti ini, seperti Yaman, Aljazair, Yordania akan melakukan hal yang sama.

Waktu ini sepertinya sudah ditunggu-tunggu?

Jika selama ini hidup dalam represi, tentu mereka menunggu waktu yang tepat untuk bebas. Ini menjadi ditunggu-tunggu.

Dalam kasus Mesir, lagi-lagi Amerika Serikat menunjukkan standar gandanya. AS selama ini mengkampanyekan demokrasi lantaran menggembar-gemborkan diri sebagai punggawa demokrasi, bapak demokrasi, kampanye penegakan HAM, tapi di Mesir apa yang dilakukan malah bertolak belakang.

AS malah mendukung Hosni Mubarak yang memerintah selama 30 tahun. Negara lain harus menegakkan demokrasi, tapi yang represif malah didukung. Ini menunjukkan betapa bermuka duanya AS. Ini menunjukkan juga kalau selama ini AS menginginkan status quo di dunia Arab.

Tentara sudah memihak aksi rakyat. Mundurnya Mubarak tinggal menunggu waktu?

Memang tinggal menunggu waktu. Kalau militer dukung Hosni malah lebih parah lagi kekacauannya. Situasi ini mengingatkan pada zaman turunnya Soeharto di Indonesia. Militer bisa saja melakukan kudeta, tapi posisinya harus di tengah-tengah. Karena militer bisa menjadi peredam kemarahan rakyat.

Mengapa tawaran reformasi yang disampaikan Mubarak tidak direspons positif?

Mereka menginginkan revolusi total, bahkan rakyat Mesir minta dia turun dan pergi dari Mesir. Anak dan istrinya sudah pergi, rakyat pun menginginkan Hosni untuk angkat kaki. Sebelumnya, Hosni sudah menyiapkan anaknya, Gamal Mubarak, untuk menjadi penggantinya. Proses regenerasi semacam ini seperti membuat kerajaan bagi dinasti Mubarak di Mesir, dan ini tidak diinginkan oleh rakyat. Mereka berpikir bapak dan anak tidak jauh berbeda, mereka menginginkan perubahan.

Apa konsekuensi jika Mubarak tetap bertahan?

Kalau dia kukuh mau bertahan, bisa-bisa ya dijatuhkan secara paksa, kerusuhan massa yang sangat besar bisa terjadi, sehingga banyak korban yang akan jatuh. Sebaiknya Mubarak mendengarkan kemauan rakyat, kecuali dia ingin menghabisi rakyatnya seperti China di Tiananmen. Kalau demikian, ini bencana yang sangat buruk.

Saya rasa sekarang ini Hosni sedang berpikir sangat keras. Apa yang dilakukan dia sudah terlambat. Setelah 30 tahun berkuasa baru menunjuk wapres. Dia kemudian merombak menteri sebagai upaya reformasi, tapi sudah terlambat.

Omar Suleiman yang dipilih sebagai wapres, yang merupakan mantan kepala intelijen, dinilai sebagai antek Amerika sehingga tidak bisa merangkul rakyat. Seharusnya Hosni Mubarak lebih merangkul tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh oposisi. Saya rasa seharusnya Hosni lengser keprabon saja dengan elegan.

Menurut Anda, siapa pemimpin transisi yang tepat bagi Mesir?

Saya rasa Suleiman tidak bisa karena tidak cukup mampu merangkul rakyat. Menurut saya yang paling tepat sekarang ini adalah penerima nobel perdamaian dan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Mohamed ElBaradei.

ElBaradei cukup kuat bila berhadapan dengan AS. Dia pernah mengatakan, Mesir menginginkan kemandirian. Dia tidak ingin Amerika mengatur Mesir. Kalangan Ikhwanul Muslimin juga bisa menerima ElBaradei. Dan bagi AS sendiri, mungkin lebih baik menerima ElBaradei daripada kalangan Ikhwanul Muslimin yang naik. Kalau Ikhwanul Muslimin yang naik akan semakin membahayakan kepentingan AS di Timur Tengah dan Israel pun khawatir.

Jika Mubarak mundur, apa konsekuensi bagi Timur Tengah?

Tentunya akan membuat konstelasi politik berubah total. Mesir adalah sekutu AS paling penting di Timur Tengah. Mesir merupakan negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979 di Camp David, AS. Waktu itu Mesir masih di bawah Presiden Anwar Sadat.

Sebelumnya Israel dan Mesir pernah terlibat perang, misalnya pada 1948, 1956, 1967, dan 1973. Dengan perjanjian damai itu, setidaknya Israel bisa sedikit tenang. Bagi Israel, Mesir memegang posisi penting dalam menjaga dialog dengan dunia Arab, terkait dengan adanya kelompok Hamas di Jalur Gaza.

Selain itu, Mesir kuat karena mendapat dukungan dari AS. Jika Mubarak turun dan digantikan oleh sosok yang tidak pro-AS maka Mesir akan lepas dari pengaruh AS. Ada perubahan geopolitik besar di sana. Hal ini tentunya bisa mengubah perimbangan kekuatan di Timur Tengah. Ikhwanul Muslimin yang merupakan kelompok anti-Israel tentunya akan mengalami kebangkitan. Status quo di Timur Tengah yang diam-diam dinikmati AS tentunya akan hilang karena ini berimbas ke negara-negara lainnya.

Ke depannya, memang lebih baik kalau ada perubahan. Pastinya memang akan terjadi perubahan drastis di bidang ekonomi lantaran AS tidak akan lagi mengucurkan bantuannya yang demikian besar untuk Mesir. Krisis ekonomi mungkin akan terjadi, namun mungkin Ikhwanul Muslimin akan membantu mengatasi ini. AS mungkin saja menekan Mesir dengan embargo, seperti yang dilakukan pada Iran dan Irak karena dianggap anti-Amerika. Perubahan di Mesir ini bisa membahayakan dan melemahkan Israel.

(vit/nrl)

Ref: http://www.detiknews.com/read/2011/02/02/091221/1558665/158/fahmi-salsabila-jika-mubarak-bertahan-kerusuhan-bisa-membesar-di-mesir?n991103605

0 comments: