Rabu, 10 November 2010

SUNGSANG

Ibu meminta kamar selalu terang.
seperti Jakarta, katanya.
Tapi jangan membuat jembatan diatas lubang.
Ujung-ujungnya lubang juga yang menghadang.
Pergilah seperti angin,seru ayah.
Kemana angin bertiup sejuknya selalu terasa
Meski seorang nakhoda krang menghendaki

Lebih baik tanganmu pendek tapi ulurannya sampai ke rumah.
Ketimbang tanganmu panjang namun tak sampai kehalaman.
Bahkan riskan ditebas pedang,ujar ibu.
Bicara seharum bunga,melangkah selincah kijang,
menolak sehalus bulu tupai,
menghitung hari sesabar usiamu berjalan,
bisik ayah pukul 5 pagi

Lalu aku menelan kata mutiara mereka dengan hati bergetar.
Di tingkah polusi kehidupan yang menyiram pikiranku,
suara-suara itu berulang-ulang terjaga ditelinga.
Ibu di kanan, ayah di kiri.
Mereka ingin aku tetap berada di jalan yang mereka bangun
dengan kata-kata bijak.
Tetapi garis lain telah mengarahkan langkahku ke jalan seorang bajingan !




KETULUSAN

aku pacari kamu walau tak menjamin
adanya sebuah perkawinan
aku pinang kamu dengan caraku sendiri
kita buat pelaminan dari serbuk waktu
yang selalu melahirkan janji-janji

kita datangi tempat-tempat asing
untuk merenggut dan berbaring.
kita tak pernah lepas,selalu berciuman
dan selalu berpelukan.
kita tahu ini akan mengundang badai
tapi badai itu sendiri
ternyata begitu memikat untuk diikutsertakan

kita berdua membangun fantasi-fantasi dunia yang baru.
melalui napas kita impian-impian semu itu bisa kita ledakan

tak ada tempat untuk balik pulang dunia yang kita ciptakan sudah lebih dari
cukup.
tak ada yang menarik lagi diluar sana
kecuali disini, ada cinta yang sebenarnya
ada malam dan ada siang yang sebenar-benarnya

inilah yang tuhan gariskan
kita dapat bersatu ditempat lain
tanpa ada politik dan intrik
yang selalu meracuni hati manusia.

0 comments: