Rabu, 10 November 2010

SAJAK TIGA PEREMPAT

Di 3/4 perjalanan kereta
Dari jendela yang selalu terbuka
Kubuang nama dan alamat rumahmu.

Telah hancur embun pada kaca
Angin pun telah menampar kerinduan
Dan mengingatmu kali ini
Tak lain cemas kehilangan yang kurasa

Di 3/4 perjalanan kereta
Dari jendela yang selalu terbuka
Kubuang nama dan alamat rumahmu
Aku tak mungkin akan menemuimu
Sebab mengingatmu seperti dihunus sembilu
Apalagi mendekatimu; menghamiri ajalku.

Di 3/4 perjalanan kereta
Dari jendela yang selalu terbuka
Kubuang nama dan alamat rumahmu
Biarkan engkau menjadi angin
Yang tak mungkin aku kenali lagi
Kecuali engkau menjadi angan
Biarlah aku kembali seperti sedia.


(Tasikmalaya-Yogyakarta, '99)


PUISI ADALAH OBAT GILA


Tersapu angin laut.
Beberapa butiran pasir.
Menyergap mata dan mulut.

Tersapu angin kembara.
Beberapa butiran pasir.
Menyergap ke dada dan jiwa.

Terlempar butiran pasir.
Mati dan mulut.
Dada dan jiwa.
Dipatah angin laut dan kembara.

Mata dan mulut.
Dada dan jiwa.
Menuju padamu, Ibunda.
Inilah puisiku.
Tanda tanda kegilaanku.



KEKASIH YANG TERTEMBAK


Teringat bahwa kau masih muda belia.
Pisau pisau risau yang kau bawa serta.
Kini menghunjam ke dadaku semua.
Lihatlah, aku yang terduduk di sini.
Pada tebing tapal batas teritori.
Tak kau lihatkah tanganku melambai.
Menyerahkan jasadmu di telan senyap.

Teringat bahwa kamu muda perkasa.
Bersahabat batu batu dan rumputan.
Kau sering mengeluh, "betapa bengal!"
Mereka tak mengerti bengal, sayang.
Hujan tropis mengirimkan dukacita.
Melenyapkan jejak jejak sidik jari.
Tetapi akan kemanakah mereka berjalan.
Percayalah kau, mereka akan kemari.

Teringat bahwa kau memiliki cita cita.
Kau menggapai gapai bintang di siang.
Tapi aku percaya kaulah yang melakukannya.
Untuk kemudian membiarkannya kembali.
Dan di senja, mulai terlihat gugusan.
Bergeser dan menata kembali pada orbitnya.
Memantulkan cahayanya kepada bumi.
Dan di bumi, bunga bunga telah bersiap diri.
Mekar di keesokan hari.


JAKARTA-YOGYA SUATU SIANG


singgah ke rumah dahulu pernah
tiada sanggup dada merengkuh penuh
kangen menjadi luka aroma limbah kota
dan jalanan menusuki langkah senantiasa
sepertinya tiada pilihan lagi
aku mesti kembali
ke rumah sendiri
yang sejati
meski di rumah
ada yang tengah mengasah belati
di depan tungku api.





YOGYA-JAKARTA SUATU SENJA


dan seandainya aku adalah waktu
akan kutusukkan detik detik ke jantungku
biarlah kekininan bersamaku selalu
seperti yang kutahu
di tempat inilah
segala cinta
tertumpah
sempurna.




MAWAR MALIOBORO


Ia tumbuh di belukar kakilima.
Duri durinya runcing seperti kuku kuku kucing.
Adalah tanda cinta sekaligus tanda bahaya.
Seperti malam ini, dadaku dirobeknya.
"Aku yang akan menanam tangkai mawar ini
kepada siapapun yang pernah menyinggahi hati,"
katanya sembari menunjuk dadanya sendiri.

Ia tumbuh seiring musim penghujan datang.
Di atas trotoar ia menari, seperti tak ada sunyi.
Menggerakkan hasratku mengiringi liuk tangkainya.
Begitu seterusnya, ia selalu menggarahkanku.
"Bagaimana kalau kita berdansa bersama?" ajakku.
Akhirnya seperti malam lalu, dadaku kembali dirobeknya.

"Kamu adalah pecundang berwajah cinta," katamu.
Membuat Malioboro hinggar tanpa bunga bunga.
Maka akulah mawar yang akan membuatmu selalu luka.

0 comments: