Senin, 23 Januari 2012

Perbedaan Tingkatan Manusia Dalam Menerima Nasihat


Tatkala nasihat-nasihat diperdengarkan kepada seseorang, sering kali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan, namun tatkala ia keluar dari majelis ilmu hatinya kembali mengeras dan membatu. Saya merenungi sebabnya, saya tahu, kemudian saya melihat bahwa manusia sangat berbeda-beda kondisinya dalam hal ini. Umumnya manusia tidak berada dalam kondisi yang sama, disaat mendengarkan wejangan dan nasihat-nasihat maupun setelah mendengarkanya.

Renungan dan refleksi saya sampai kepada dua kesimpulan. pertama, nasihat-nassihat itu tenyata laksana seperti cemeti; ketika seseorang habis dipukuli dengan cemeti itu, ia seringkali tak merasa sakit. kedua, tatkala ia mendengsr nasihat, ia sedang berada dalam kondisi jiwa dan pikiran yang prima. Dia terlepas dari segala ikatan duniawi. Ia diam dan menghadirkan hatinya. akan tetapi, tatkala kembali disibukkan dengan urusan dunia, penyakit lamanya kambuh kembali. Bagaimana mungkin ia bisa kembali seperti pada saat mendengarkan nasihat-nasihat itu???

Kondisi demikian dapat menimpa setiap orang. Hanya mereka yang memiliki kesadaran tinggilah yang bisa mengatasi pengaruh-pengaruh duniawi tersebut. Ada yang betekad kuat untuk kokoh berpegang pada prinsip yang sudah diyakininya, lalu ia berjalan tanpa menoleh-menoleh lagi. Ia akan memberontak jika perilakunya sudah tidak sesuai dengan tabiat dirinya, seperti hanzhalah yang telah mengecam dirinya sendiri, "Hanzhalah telah Munafik".

Ada pula yang terkadang masih terseret-seret oleh kelalaian akibat pengaruh tabiat dirinya, namun pada saat yang sama nasihat itu masih mempengaruhi dirinya untuk beramal. Mereka laksana cabang -cabang pohon yang goyah diterpa hembusan angin. Ada pula golongan manusia yang tak terpengaruh apa-apa, hanya sekedar mendengar, mereka laksana batu-batu yang diam.

0 comments: