Selasa, 05 April 2011

Rendah Hati vs Keras Hati

Rendah Hati

”Hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka membalas dengan ucapan-ucapan yang baik.” (QS Al-Furqan [25]: 63).

Tawadhu (rendah hati) sangat berbeda dengan rendah diri. Ibn Athaillah al-Sakandari, dalam Al-Hikam-nya, membedakan orang tawadhu dan rendah diri. Menurutnya, tawadhu bukan orang yang rendah diri, namun orang yang bila berbuat sesuatu merasa diri belum layak mendapatkan kedudukan itu. Atau, dalam istilah Junaid al-Baghdadi, pemikir Islam abad pertengahan, adalah tidak membusungkan dada tapi lemah-lembut tanda hormat.

Ibn Taimiyah memaknai tawadhu sebagai menunaikan segala yang hak dengan sungguh-sungguh taat menghambakan diri kepada Allah, sehingga benar-benar menjadi hamba Allah, tanpa menganggap dirinya tinggi. Sedangkan, Ali Ridha ibn Musa mengartikan tawadhu sebagai memberikan kepada orang lain apa yang kau harapkan dari orang lain.

Yang pasti, tawadhu adalah buah iman yang melahirkan kesadaran akan posisinya di hadapan Allah SWT. Syekh Nawawi al-Bantani, dalam Nashaih al-Ibad, mencantumkan hadis, ”Hamba di langit maupun di bumi belum menjadi mukmin sehingga mereka bermurah hati sesama manusia. Ia tidak dapat bermurah hati sebelum lebih dulu Muslim. Ia tidak Muslim sehingga orang lain selamat dari perbuatan tangan dan ucapan lisannya. Ia tidak Muslim sehingga ia alim. Ia tidak alim sehingga ia mengamalkan ilmunya. Ia tidak mengamalkan ilmunya sehingga zuhud. Ia tidak zuhud sehingga berbuat wara’. Ia tidak wara’ sehingga berbuat tawadhu. Ia tidak tawadhu sehingga lebih dulu mengenali diri sendiri. Ia tidak mengenali diri sendiri sehingga selalu menggunakan akal dalam berbicara.”

Adalah anggapan keliru bahwa sikap rendah hati akan menurunkan derajat diri. Padahal, menurut Nabi SAW, ”Barangsiapa yang tawadhu karena Allah niscaya Allah mengangkat derajatnya.” (HR Abu Na’im). Dalam hadis Qudsi dijelaskan, ”Barangsiapa yang tawadhu karena Aku, seperti begini (lalu Nabi SAW mengisyaratkan dengan menelungkupkan tangannya ke bumi), niscaya Aku angkat seperti ini (lalu Nabi Saw membalikkan telapak tangannya yang tadi dan mengangkatnya ke arah langit).” (HR Thabrani).

Keras Hati

”Kemudian setelah itu hati kalian mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya, di antaranya lagi ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah sama sekali tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah [2]: 74).

Menurut Ibn Abbas, ayat tersebut turun berkaitan dengan sikap Bani Israil yang keras kepala dan keras hati. Dalam memaknai ayat tersebut Al-Qurtubi menyatakan hati manusia bisa mengeras melebihi kerasnya batu karena keringnya hati dari inabah (kembali ke jalan Allah), zikir, dan tadabbur (merenungi) ayat-ayat Allah, baik yang ada dalam Alquran maupun alam raya.

Jika bebatuan yang ada di pegunungan saja menjadi mata air, maka sudah semestinya hati manusia dilatih dan dicerdaskan menjadi oase kehidupan spiritual. Hati yang keras adalah hati yang tidak lagi berfungsi sebagai sumber kekhusyukan, kelemahlembutan, dan kasih sayang.

Kekerasan hati merupakan sumber kesengsaraan hidup. Dari Anas RA Rasulullah SAW bersabda, ”Ada empat sebab kesengsaraan, yaitu kebekuan mata, kekerasan hati, kepanjangan angan-angan, dan ketamakan terhadap dunia.” (HR al-Bazzar).

Kekerasan hati itu sangat berbahaya karena tidak hanya membutakan akal pikiran dan memperturutkan hawa nafsu, tetapi juga mendangkalkan akidah, bahkan menyesatkan diri dari petunjuk Allah. ”Kecelakaan besarlah orang-orang yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Zumar [39]: 22).

Terapi yang efektif untuk penyakit kekerasan hati, menurut Mutawalli Al-Sya’rawi, adalah banyak beristighfar kepada Allah, dan membiasakan diri membaca Alquran. Selain itu juga memperbanyak amalan sunah di samping mematuhi amalan wajib serta menjahui segala bentuk kemaksiatan, kemunkaran, dan hal-hal yang berbau syubhat.

Jika perut telah diisi dengan halal, akal digunakan untuk berpikir positif, dan indera didayagunakan untuk kebaikan, niscaya kekerasan hati tidak terjadi. Karena itu, setelah memperoleh hidayah, kita perlu menjaga hati agar tidak ternodai oleh syirik dan kemaksiatan, sehingga hati tetap teguh dan khusyuk dalam ketaatan. Wallahu a’lam bish-shawab.

0 comments: