Kamis, 17 Februari 2011

Tata Cara Bersuci Dari Haid Dan Junub

for everyone
Cara mandi bagi wanita yang sudah selesai haidnya atau telah berjunub adalah sama dengan cara laki-laki mandi junub, hanya bagi wanita tidak wajib atasnya melepas ikatan atau kepangan (jalinan) rambutnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu anhaa berikut ini : "Seorang wanita berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam : "Sesungguhnya aku adalah orang yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku (harus) membuka ikatan rambutkau untuk mandi janabat. " Rasulullah menjawawb: "Sungguh cukup bagimu menuang mengguyur) atas kepalamu tiga tuangan dengan air kemudian engkau siram seluruh badanmu, maka sungguh dengan berbuat demikian) engkau telah bersuci." {HR. Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi dan dia berkata hadits ini adalah hasan shahih)Dalam riwayat lain hadits ini dari jalan Abdurrazaq dengan lafadz: "Apakah aku harus (harus) melepaskannya (ikatan rambutku) untuk mandi janabat?" disunahkan bagi wanita apbila mandi dari haid atau nifas memakai kapas yang ditaruh padanya minyak wangi lalu digunakan untuk membersihkan bekas darah agar tidak meninggalkan bau. Hal ini diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisah Radhiallahu anha : "Bahwasanya Asma binti Yazid bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang mandi haid. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda : "(hendklah) salah seorang di antara kalian memakai air yang dicampur dengan daun bidara (wewangian), kemudian dia bersuci dengannya lalu berwudhu dan memperbaiki wudhunya. Kemudian dia siramkan air di atas kepalanya. Lalu dia siramkan atasnya air (ke seluruh tubuh) setelah itu (hendaklah) dia mengambil kapas (atau kain yang telah diberi minyak wangi) kemudian ia bersuci dengannya."{HR. Al-Jamaah kecuali Tirmidzi}
Tidaklah mandi haid atau junub dinamakan mandi syari, kecuali dengan dua hal :

1. Niat, karena dengan niat terbedakan dari kebiasan dengan ibadah, dalilnya hadits Umar bin Khaththab radhiallahu anhu: "bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya."{HR. Al-Jamaah}

Maknanya adalah bahwasanya sahnya amalan itu dengan niat, amal tanpa niat tidak dianggap syari. Yang perlu diingat bahwa niat adalah amalan hati bukan amalan lisan, jadi tidak perlu diucapkan.

2. Membersihkan seluruh anggota badan (mandi) dalam mengamalkan firman Allah subhanahu wa Taala: "Dan apabila kalian junub maka mandilah.{Al-Maidah :6}

Dan juga firman Allah subhanahu wa Taala : "Mereka bertanya kepadamu tentang haid , katakanlah haid itu kotoran yang menyakitkan) maka dari itu jauhkanlah diri kalian dari wanita (istri)yang sedang haiddan janganlah engkau mendekati mereka, sampai mereka bersuci (mandi)."{Al-Baqarah : 222}

Adapun tata cara mandi yang disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah :

1. mencuci kedua tangan sekali, dua kali atau tiga kali.
2. lalu mencuci kemaluan dengan tangan kiri, setelah itu tangan bekas menggsok kemaluan tersebut digosokan ke bumi.
3. kemudian berwudhu seperti wudhunyaorang yang mau shalat. Boleh mengakhirkan kedua kaki (dalam berwudhu tidak mencuci kaki)sampai mandi selesaibaru kemudian mencuci kedua kaki.
4. membasahi kepala sampai pangkal rambutdengan menyela-nyelanya dengan jari-jemari.
5. setelah itu menuangkan air di atas kepala sebanyak tiga kali.
6. kemudian menyiram seluruh tubuh, dimulai dengan bagian kanan tubuh lalu bagian kiri sambil membersihkan kedua ketiak, telinga bagian dalam, pusar dan jari jemari kaki serta menggosok bagian tubuh yang mungkin digosok.
7. selesai mandi, mencuci kedua kaki bagi yang mengakhirkannya (tidak mencucinya tatkala berwudhu)
8. membersihkan/mengeringkan airyang ada di badan dengan tangan (dan boleh dengan handuk atau lainnya)

Tata cara mandi seperti di atas sesuai dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : "dari Aisah radhiallahu anha, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila dari junub beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, lalu beliau mengambil air dengan tangan kanan kemudian dituangkan di atas tangan kiri (yang) beliau gunakan untuk mencuci kemaluannya. Kemudian beliau berwudhu seperti wudhunya orang yang mau shalat. Selesai itu beliau mengambil air(dan menuangkannya di kepalanya)sambil memasukan jari-jemarinyake pangkal rambutnyahingga beliau mengetahui bahwasanya beliau telah membersihkan kepalanya dengan tiga siraman (air), kemudian menyiram seluruh badannya."{HR. Bukhari dan Muslim}

Dan juga hadits : "Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila mandi janabat beliau meminta air, kemudian beliau ambil dengan telapak tangannya dan dan mulai (mencuci) bagian kanan kepalanya lalu bagian kirinya. Setelah itu beliau mengambil air dengan kedua telapak tangannya lalu beliau balikkan (tumpahkan) di atas kepalanya."{HR. Bukhari dan Muslim}

Dalam hadits lain : "Dari Maimunah radhiallahu anha berkata : "Aku meletakan air untuk mandi Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kemudian beliau menuangkan atas kedua tangannya dan mencucinya dua atau tiga kali, lalu beliau menuangkan dengan tangan kanannya atas tangan kirinya dan mencuci kemaluannya (dengan tangan kiri), setelah itu beliau gosokkan tangan (kirinya) ke tanah.Kemudian beliau berkumur-kumur, memasukanair ke hidung dan menyemburkannya, lalu mencuci kedua wajah dan kedua tangannya, kemudian mencuci kepalnya tiga kali dan menyiram seluruh badannya. Selesai itu beliau menjauh dari tempat mandinya lalu mencuci kedua kakinya. Berkata Maimunah : Maka aku berikan kepadanya secarik kain akan tetapi beliau tidak menginginkannya dan tetaplah beliau mengeringkan air (yang ada pada badannya) dengan tangannya."{HR. Al-Jamaah}

Cara mandi di atas adalah cara mandi wajib yang sempurna yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim dalam rangka untuk mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Perlu diketahui bahwa untuk mandi besar ada dua sifat:
1. Mandi sempurna dengan menggunakan cara-cara di atas.
2. Mandi biasa yaitu mandi yang hanya melakukan hal yang wajib saja tanpa melakukan sunnahnya, dallinya keumuman ayat dalam surat yang artinya : "Janganlah kalian dekati mereka (wanita Haid) sampai mereka bersuci (mandi) dan apbila mereka telah mandi...."{Al-Baqarah 222}. Dan juga dalam firman Allah subhanahu wa Taala : Dan apabila kalian junub maka bersucilah (mandilah)."{Al-Maidah : 6}

Dalam dua ayat di atas Allah subhanau wa Taala tidak menyebutkan kecuali mandi saja, dan barang siapa telah membasahi seluruh badannya dengan air dengan mandi besar walaupun hanya sekali berarti dia telah suci. Yang demikian juga telah ada keterangan dari hadits shahih dari Aisyah dan Maimunah radhiallahu anhuma, juga hadits Ummu Salamah radhiallahu anha : "Cukuplah bagimu menuangkan air di atas kepalanya tiga kali tuangan , kemudian engkau siram (seluruh badanmu) dengan air, (dengan berbuat dmikian) maka sungguh engkau telah bersuci."{HR. Musl
Kebersihan Atau Bersuci Dalam Islam
Thu, 2007-10-11 12:49 — admin
Islam mewajibkan kebersihan iaitu bersih lahir dan batin. Di dalam Al Quran dan Hadis banyak dibicarakan tentang kebersihan atau bersuci ini. Allah berfirman dalam Al Quran yang bermaksud:
"Bersih itu sebagian dari iman."
Rasulullah SAW pernah bersabda bermaksud:
"Bersuci itu adalah bagian daripada iman."
Allah berfirman, maksudnya:
"Sesungguhnya berbahagialah (mendapat kejayaanlah) orang yang mensucikan hatinya dan berdukacitalah orang yang mengotorkan hatinya."
(As Syams: 9-10)
Di sini menunjukkan betapa pentingnya bersuci atau kebersihan menurut kacamata Islam. Sebagian dari pada iman kita sudah dapat. Kalaulah diumpakan
iman itu 100% artinya kita sudah dapat 50% dari pada iman itu tinggal 50% lagi untuk kita genapkan. Maksudnya kalau kita sudah bersuci atau bersih lahir dan batin kita hanya perlu menambah amalan lain cuma 50%, itu pun sudah dapat menyelamatkan kita.
Kadang-kadang kita tak sadar kita beramal banyak dengan bersusah payah,
bertungkus-lumus, contohnya puasa banyak, sembahyang sunat banyak, wirid zikir banyak, mengaji banyak dan macam-macam amalan sunat lagi tapi perkara yang wajib tentang bersuci, kita tidak tahu atau tidak arif.
Akhirnya seluruh amalan kita samapai kelangit ditolak. Allah suruh malaikat lemparkan turun ke bawah. Tidak dapat pahala walaupun sebesar debu, ataupun bagaikan debu-debu berterbangan. Letih saja kita berbuat tapi tidak dapat pahala ganjaran daripada Allah. Bahkan Allah jadi murka.
Jadi kalau begitu mari kita lihat bersuci atau kebersihan yang dituntut dalam Islam supaya ibadah kita tidak tertolak.
Bersuci terbahagi kepada dua:
1. Suci lahir.
2. Suci batin.
1. Suci Lahir:
a. Suci dari najis berat, sederhana atau ringan.
b. Suci dari hadas besar dan kecil.
c. Suci dari fudhul (kotoran).
2. Suci Batin:
a. Suci akal dari syirik dan dari segala isme-isme dan ideologi ciptaan manusia.
b. Suci hati daripada sifat-sifat mazmumah.( sifat buruk )
c. Suci nafsu dari kehendak-kehendak yang negatif.
Mari kita uraikan satu-persatu supaya kita dapat beramal dengan tepat dan hayati sungguh-sungguh dalam hidup kita.
SUCI LAHIR
a. Suci daripada najis. Najis terbahagi kepada tiga:
I. Najis mughallazah (berat)
Contohnya najis anjing dan babi serta yang berkaitan dengan keduanya,
misalnya keturunannya.
Cara mencucinya: Hendaklah dibasuh tujuh kali. Air pertama hendaknya
dicampur dengan tanah. (Riwayat Muslim)
II. Najis mutawassitah (pertengahan)
a. Najis tahi, kencing, muntah, nanah, mazi, wadi dan air liur basi.
b. Bangkai binatang dan lain-lain.
Cara mencucinya:
1. Najis hukmiah iaitu yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zatnya, baunya, rasanya dan warnanya seperti kencing yang sudah lama kering sehingga sifat-sifatnya sudah hilang.
Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan air di atas benda yang kena najis itu.
2. Najis 'ainah iaitu yang masih ada zat warna, rasa atau baunya, terkecuali warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya. Sifat ini dimaafkan.
Cara mencucikan najis ini hendaknya dengan menghilangkan zat, rasa, warna
dan baunya.

III. Najis mukhaffafah (ringan)
Najis air kencing bayi lelaki yang belum berumur dua tahun dan tidak makan apa-apa selain susu ibunya saja.
Cara mencucinya:
Cukup dengan memercikkan air ke atas benda yang kena najis itu walaupun tidak mengalir.
Air kencing anak perempuan yang belum cukup umur dua tahun yang belum makan selain susu ibunya saja mestilah dibasuh hingga mengalir air di atas benda yang kena najis itu dan hilang zat serta sifat-sifatnya sebagaimana mencuci kencing orang dewasa.
SUCI DARIPADA HADAS
1. HADAS BESAR
Junub, nifas, haid, wiladah dan keluar air mani. Ini semua mewajibkan mandi.

Rukun Mandi
1. Niat.
Orang yang junub hendaklah berniat menghilangkan hadas junubnya.
Perempuan yang baru selesai haid, hendaklah berniat menghilangkan hadas
kotorannya dan seterusnya.
2. Meratakan air ke seluruh badan.
Sunat-sunat Mandi
1. Membaca "Bismillah" pada permulaan mandi.
2. Berwudhuk sebelum mandi.
3. Menggosok-gosok seluruh badan dengan tangan .
4. Mendahulukan yang kanan dari yang kiri.
5. Berturut-turut.

2. HADAS KECIL
Kencing, mazi, wadi (keletihan ) dan lain-lain.
Hanya perlu dibasuh sahaja tanpa mandi wajib.
Cara Mencucinya:
Apabila keluar kotoran dari salah satu dari kedua pintu maka wajib istinjak dengan air atau tiga buah batu; yang lebih baik mula-mula dengan
batu atau sebagainya, kemudian diikuti dengan air.
Sabda Rasulullah SAW bermaksud:
Pada waktu Beliau telah melalui dua buah kubur, ketika itu beliau berkata: "Kedua orang yang ada di dalam kubur ini disiksa. Yang seorang disiksa karena
mengadu domba, yang seorang lagi karena tidak beristinjak kencingnya."
(Sepakat ahli Hadis)
Sabda Rasulullah SAW bermaksud:
"Apabila seseorang itu beristinjak dengan batu hendaklah ganjil."
(Riwayat Bukhari dan Muslim.)
Berkata Salman:
"Rasulullah melarang kita beristinjak dari batu karang yang tiga."
(Riwayat Muslim)
Dalam Hadis ini disebutkan tiga batu berarti tiga buah batu atau satu batu tiga persegi. Yang dimaksudkan dengan batu ialah tiap-tiap benda yang keras, suci dan kesat seperti kayu, tembikar dan sebagainya. Benda yang licin seperti kaca tidak sah buat istinjak kerana tidak dapat menghilangkan najis. Begitu juga benda yang dihormati seperti makanan dan sebagainya karena membazir.
Syarat beristinjak dengan batu dan sebagainya hendaklah sebelum kotoran itu kering dan tidak mengenai tempat lain selain dari tempat keluarnya. Jika telah mengenai tempat lain maka tidak sah lagi istinjak dengan batu tetapi wajib istinjak dengan air.
SUCI DARIPADA FUDHUL (KOTORAN)
DIa merupakan kotoran seperti hingus, tahi mata, tahi telinga, ketombe, tahi hidung, kahak, lebihan kuku, bulu ketiak dan ari-ari, daki, kutu dan lain-lain. Ini semua pada badan.
Kotoran yang ada di persekitaran seperti debu-debu, jelapa, sarang labah-labah, serpihan kertas, kain buruk dan lain-lain. Dia bukan najis tapi terlihat tidak indah,
tidak bersih, tidak rapi, tidak kemas, tidak menarik bahkan seperti berserabut dan menyakitkan mata yang memandang.
Dalam Hadis Rasulullah SAW bersabda maksudnya:
"Sesungguhnya Allah itu cantik dan sukakan kecantikan."
Kita mesti suci dari kotoran-kotoran lahir ini supaya lahirlah orang-orang yang bersih. Kalau kita tidak sensitif dengan kotoran-kotoran lahir ini artinya kita ini kasar, yakni tidak berjiwa halus.
Jika kita tidak merasa jijik dengan benda-benda lahir ini, artinya dengan kotoran batin kita lebih lagi kita tidak merasa jijik.
Mungkin ada orang berkata, "Saya ini orang seni, sebab itu saya simpan sarang
labah-labah ini." Tentu tidak. Fitrah hati menolak dan akan merasa sarang labah -labah atau yang lain-lain tadi tidak layak disimpan dan menyakitkan mata.
SUCI BATIN
Batin terbahagi kepada 3:
a. Akal.
b. Nafsu.
c. Hati.
a. Suci akal
Suci akal dari syirik atau isme-isme ciptaan manusia. Bila akal masih syirik atau menduakan atau yakin dengan lain-lain isme-isme ciptaan manusia artinya akal kita masih bernajis.
Sebab itu akal haruslah dibersihkan dengan diisi ilmu wahyu yakni Al Quran dan Hadis Rasulullah. Karena ilmu wahyu itu tepat. Ia mampu menyuluh (…) apakah ilmu itu betul atau salah.
b. Suci Hati
Suci hati dar sifat-sifat mazmumah. Bila ada sifat-sifat mazmumah artinya hati kita masih bernajis. Najis hati namanya. Sebab itu sifat-sifat mazmumah ini harus dibersihkan seperti benci, marah, besar diri, megah, dendam, hasad, tamak bakhil, lalai, takut, sedih, kecewa dan lain-lain.
Cara Membersihkan Hati:
1. Setiap sifat mahmudah hendaknya disuburkan. Seperti rasa simpati, pemurah, malu, rendah hati, hormat, rasa terima kasih, taat, redha, puas hati, sabar dan lain-lain.Yang mazmumah hendaknya dibuang melalui proses Tahalli, Takhalli, Tajalli.
2. Cara menyuburkan mahmudah dan membuang mazmumah hendaknya mengetahui sifat-sifat hati terlebih dahulu.
3. Kenal mengetahui apa yang ada di dalam hati kita.
4. Hendaknya membuat latihan secara mujahadah dan riadah.
5. Mujahadah dan riadah itu hendaknya dilakukan dengan istiqamah.
6. Ada guru untuk tempat merujuk.
c. Suci Nafsu
Suci nafsu dari kehendak-kehendak yang jahat. Nafsu juga ada najisnya iaitu kehendak-kehendak yang jahat atau negatif seperti makan, minum, pakaian yang haram, inginkan tempat tinggal yang haram, inginkan kendaraan yang haram, inginkan kepada pergaulan yang haram dan lain-lain.
Ini semua hendaknya dibersihkan dengan menggantikannya dengan keinginan yang halal seperti ilmu, makan, minum, isteri, tempat tinggal, ajaran, kenderaan, kekayaan yang halal, ingin memperjuangkan kebenaran, ingin beribadah , ingin ke masjid berjemaah dan lain-lain kehendak yang baik.
Cara Untuk Membersihkan Nafsu:
1. Faham syariat.
2. Faham kehendak-kehendaknya yang negatif.
3. Dorong kehendak-kehendaknya yang positif atau yang mubah.
4. Mujahadah dan riadah.
5. Istiqamah.
6. Ada guru tempat rujuk.
Itulah bentuk 'najis' yang ada pada kita semua iaitu najis lahir dan 'najis' batin. Kalau kita umat Islam mampu membersihkannya melalui proses yang disebutkan tadi maka akan lahirlah keindahan syariat Islam itu.
Yang akan kita dapatkan di antaranya:
1. Lahirnya masyarakat yang bersih lahir dan batin seperti pada zaman Rasulullah SAW.
2. Lahirlnya masyarakat yang sehat badan (fizikal), fikiran dan jiwa.
3. Akan lahirlah masyarakat yang berkasih sayang.
4. Akan lahirlah masyarakat yang bergotong-royong, bersatu padu dan bekerjasama.
5. Lahirlah masyarakat yang terpelihara keturunannya.
6. Lahirlah masyarakat yang bersatu padu dan bersaudara.
7. Lahirlah masyarakat yang aman damai.
8. Lahirlah masyarakat yang rajin.
9. Lahirlah masyarakat yang muafakat.
10. Lahirlah masyarakat yang berbelas kasihan, bertimbang rasa, memperhatikan perasaan orang lain.
11. Lahirlah masyarakat yang hormat-menghormati.
12. Akan lahirlah masyarakat yang berkorban.
13. Akan lahirlah masyarakat yang bersih dari persoalan-persoalan yang bisa menimbulkan perpecahan
14. Masyarakat bersih dari kemungkaran.
15. Masyarakat bersih dari pembaziran.
16. Akan lahirlah masyarakat yang suka menuntut ilmu.
17. Akan lahirlah masyarakat yang pemurah, bertolak ansur, menjaga perasaan orang lain, sopan santun dan berakhlak mulia
18. Lahir masyarakat yang berkemajuan dan bertamadun.
19. Lahirlah masyarakat yang berdisiplin.

0 comments: