Jumat, 18 Februari 2011

Setelah di Mesir, Mampir ke Yaman

KOMPAS.com - Angin perubahan memang berembus lumayan besar di kawasan Arab. Berawal dari Tunisia, pindah ke Mesir, giliran hasrat untuk perubahan mampir di Yaman.

Puluhan ribu warga Yaman menggelar unjuk rasa di ibu kota Sana meminta Presiden Ali Abdullah Saleh, yang telah berkuasa dalam 30 tahun terakhir, mundur. Para pengunjuk rasa berkumpul di beberapa lokasi dan meneriakkan saatnya sekarang untuk perubahan.

"Kami berkumpul di sini menuntut agar Presiden Saleh dan pemerintahnya yang korup meletakkan jabatan," kata anggota parlemen dari partai oposisi, Abdulmalik al-Qasuss sebagaimana warta AFP pada Kamis (27/1/2011).

Mereka juga melakukan orasi menyebut antara lain gerakan rakyat di Tunisia yang menumbangkan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali beberapa hari lalu. Kelompok-kelompok oposisi di Yaman meminta rakyat memprotes meningkatnya kemiskinan dan minimnya reformasi politik.

Dilaporkan ada unjuk rasa tandingan yang digalang oleh partai pimpinan Abdullah Saleh.
Presiden Saleh, yang dikenal sebagai sekutu Barat, menjadi pemimpin Yaman Utara pada 1978. Ia juga menjadi pemimpin negara ketika Yaman Selatan bergabung dengan Utara pada 1990. Terakhir kali ia terpilih kembali menjadi presiden pada 2006.

Parlemen berupaya mengubah peraturan pembatasan masa jabatan presiden yang membuat warga marah sementara kalangan oposisi menganggap Saleh mungkin berupaya menjadi presiden seumur hidup.

Ia juga dituduh ingin menyerahkan jabatan presiden ke anak sulungnya, yang kini memimpin pasukan elite pengaman presiden. Namun, Presiden Saleh membantah semua tuduhan tersebut.

0 comments: