Senin, 14 Februari 2011

Sang "Ainu Tariem" - Mata Kota Tarim al Ghanna...


Beliaulah yang dijuluki mata kota Tarim, seorang yang sangat alim dan berwibawa. Dan beliau termasuk A'yanil bilad Tariem (Tokoh-tokoh Habaib Tarim). Alhamdulillah al faqir ketika disana dulu sering menghadiri majelis di rumahnya setiap Kamis pagi, dan pernah memeluk Beliau, didoakan oleh Beliau. Sampe meminta kenangan untuk berfoto dengan Beliau dan Beliau mengiyakannya. Dimana ketika dijumpai di suatu majelis yang dihadiri oleh habaib Tarim seperti Al Habib Abdullah bin Shahab (Ainu Tariem), Al Habib Salim bin Abdullah Asyatiri, Al Habib Masyhur bin Hafidz, Al Habib Umar bin Hafidz dan yang lainnya, kesemuanya merupakan permata nan indah dari Kota Tarim. Yang kemudian ketika waktu memberikan tausiyah, maka Al Habib Salim bin Abdullah Asyatiri tidak akan memberikan tausiyah sebelum Al Habib Abdullah bin Shahab memberikan tausiyah, Al Habib Masyhur bin Hafidz tidak akan memberikan tausiyah sebelum Al Habib Abdullah bin Shahab memberikan tausiyah, Al Habib Umar bin Hafidz tidak akan memberikan tausiyah sebelum Al Habib Abdullah bin Shahab memberikan tausiyah, begitu seterusnya. Beliau begitu dicintai, dihormati, disayangi, dan dikagumi. Sedikit cerita mengenai ahli Tarim yang selalu menandakan akhlak dan ukhuwah dalam setiap apa pun yang dilakukan oleh mereka.


Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Shahabuddin biasanya didatangi para Ulama yang hendak bepergian berdakwah ke luar negeri untuk minta izin, berpamitan dan memohon doa’ restu. Tak kurang, Habib Umar bin Hafidz, pemimpin Darul Mustafa, Tarim, yang mencetak Ulama-ulama muda di berbagai negeri, tak bisa tidak, selalu mencium tangan Habib Abdullah sebelum keliling mengunjungi anak muridnya. Jangan harap guru besar ini beranjak sebelum mendapat anggukan kepala Habib Abdullah.

Para ulama dan peziarah, khususnya dari Indonesia, juga belum merasa mantap keliling Hadramaut sebelum mendengarkan kalam dan doa' Habib Abdullah. Setidaknya mencoba menikmati senyum sang habib dan menerima suguhan teh atau kopi dari rumahnya yang dianggap penuh penuh berkah. Habib Umar bin Hafidz tak mau menyentuh gelas kopi yang disuguhkan; ia hanya mau minum dari sisa minuman di gelas habib yang sangat dimuliakannya itu.

Habib Abdullah tidak melewatkan undangan siapa saja, terutama majlis ilmu, tanpa alasan yang jelas. Apabila beliau hadir, suasana majlis menjadi tampak agung, karena jemaah mendekat, merapat, takut kehilangan bahkan sepatah-dua patah kalam beliau yang sangat berharga, dan mengamini doa-doanya yang dipercaya makbul.

Habib Umar bin Hafidz yang dikenal sebagai jago pidato, akan menyerahkan semua waktunya kepada Habib Abdullah, ibaratnya, majlis hanya memiliki matahari tunggal : Habib Abdullah! Habib Abdullah, usianya 70-an, putra Al-Allamah Habib Muhammad, dan cucu Al-Allamah Habib Alwi bin Abdullah bin Shahabuddin, dipercaya telah mencapai maqam atau tingkatan yang sangat tinggi sebagai seorang sufi. Seperti juga ayah, kakek, serta kakek buyutnya, beliau termasuk orang yang dekat dan begitu cinta kepad Rasulullah saw. Sehingga tak ada tindakan-tindakannya yang tidak mengacu pada perilaku Nabi saw. Beliau sering diundang ke Indonesia, melalui para ulama dan habaib, dan jawabannya selalu, " Saya menunggu perintah saja!'.

Perintah? Ya, perintah dari Rasulullah saww, karena beliau sering berdialog dengan baginda Rasul!

Kakek Habib Abdullah, Al-Allamah Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Shahabuddin, menurut buku Rihlatul Asfar – catatan perjalanan Sayyid (alm) Abu Bakar bin Ali bin Abu Bakar Shahabuddin – sangat terkenal dengan majlis ilmu dan Rohahnya. Baik yang diadakan di rumah, zawiah kakeknya, maupun di Ribath, semacam pesantren. Beliau hafal dan pandai menceritakan kisah-kisah para pendahulu yang mulia. Dakwahnya menyebar di kalangan masyarakat umum. Nasihatnya menyentuh dan bermanfaat bagi banyak orang.


Beliau dielu-elukan di setiap majelis. Orang enggan berpisah setelah habib turun dari mimbar.

Beliau berjalan kaki dari Tarim ke tempat-tempat jauh.

Bila ada orang yang menawarinya kendaraan, dengan enteng beliau menjawab, "Saya masih dapat berjalan!"

Kakek buyut Habib Abdullah, Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus bin Shahabuddin, sempat berdakwah di Nusantara. Beliau wafat dan dimakamkan dengan penuh penghormatan di Palembang, tahun 1910.

0 comments: