Selasa, 01 Februari 2011

Netanyahu Khawatir Militan Akan Ambil Alih Mesir


Yerusalem - Revolusi yang tengah terjadi di Mesir menimbulkan kekhawatiran Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Pemimpin negeri Yahudi itu khawatir bahwa krisis tersebut akan menimbulkan kekosongan yang akan diisi oleh para militan dan membahayakan hubungan damai antara kedua negara.

Hal itu disampaikan Netanyahu dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Angela Merkel yang berkunjung ke Yerusalem.

"Dalam keadaan kacau, sebuah kelompok Islam terorganisir bisa mengambil alih negara. Itu telah terjadi. Itu terjadi di Iran," ujar Netanyahu seperti dilansir Washington Post, Selasa (1/2/2011).

Menurut Netanyahu, pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok ekstrem akan melanggar HAM serta mendatangkan bahaya bagi perdamaian dan stabilitas.

Ini merupakan komentar paling lugas yang disampaikan Netanyahu mengenai krisis di Mesir. Sebelumnya Netanyahu hanya mengatakan bahwa dirinya "mengikuti dengan cemas" perkembangan situasi di Mesir.

Selama 30 tahun memimpin Mesir, Presiden Mesir Hosni Mubarak muncul sebagai sekutu terkuat Israel di dunia Arab. Mesir menjadi negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1979 dan sangat menghormati perjanjian tersebut. Mubarak menjalin hubungan erat dengan para pemimpin Israel dan telah menjadi jembatan antara pemerintah Israel dan Palestina.

Ratusan ribu warga Mesir selama 8 hari ini telah menggelar aksi demonstrasi di Kairo dan kota-kota lainnya di Mesir. Para demonstran menuntut pengunduran diri Mubarak yang telah berkuasa sejak tahun 1981. Sejauh ini lebih dari 100 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam bentrokan antara polisi dan demonstran.

Ref:http://www.detiknews.com/read/2011/02/01/163114/1558240/10/netanyahu-khawatir-militan-akan-ambil-alih-mesir?nd992203605

0 comments: